Galang kekuatan milenial

Senin, 10 September 2018 07:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Jokowi dan Probowo nonton Pencak Silat. ©2018 Laily Rachev - Biro Pers Setpres

Merdeka.com - Ratusan orang berkumpul di Rumah Aspirasi. Beralamat di Jalan Proklamasi nomor 46, Menteng, Jakarta Pusat. Rumah tempat berkumpulnya para relawan pendukung Jokowi dan Ma'ruf Amin. Mereka hadir. Memakai seragam hasil karya sendiri demi memberi dukungan.

Ada Relawan Sarung Jokowi. Mereka Mengenakan kaos hitam bertulis relawan Sarung Jokowi. Lalu ada pula Relawan GoJo. Singkatan dari Golkar Jokowi. Mereka berasal dari Partai Golkar dan banyak berisi anak muda. Relawan ini mengenakan kaos kuning. Lalu ada pula Relawan Seknas Jokowi, mereka dominan berpakaian putih dan masih banyak lainnya juga.

Mereka mulai memadati kawasan Rumah Aspirasi sejak pukul 7 pagi. Membawa pelbagai macam alat kebersihan. Mulai dari sapu lidi, pengki, hingga tempat sampah. Secara bergantian para relawan memasuki rumah untuk membersihkan calon rumah baru.

Bau cat baru masih begitu menyengat. Debu di lantai bertebaran. Kaca-kaca tampak kusam. Beberapa ruangan bahkan masih dalam proses perbaikan. Mereka bergotong-royong bersihkan rumah baru direnovasi. Demi kenyamanan para relawan.

Disela kegiatan bersih-bersih, kami berbincang dengan salah seorang relawan asal Kabupaten Bogor. Pemuda itu bernama Arief Budiman. Usianya baru 23 tahun. Tapi mengaku aktif berpolitik sejak usia 19 tahun. Mengawali perjalanan politiknya dengan bergabung jadi relawan Pro Jokowi (Projo).

Sebagai relawan, dirinya aktif mengkampanyekan Jokowi kepada lingkungan sekitarnya. Menggalang pemilih pemula. Mulai dari keluarga, kerabat dan para sahabat. Kepada mereka biasanya Arief menjabarkan prestasi mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Sebab banyak pihak menginginkan Jokowi lengser.

"Saya punya kalimat untuk mengkampanyekan Jokowi, 'lawan kebencian dengan kasih'," ungkap Arief kepada merdeka.com.

Arief mengatakan banyak teman sebayanya masih anti politik. Sebagai melenial melek politik, Arief merasa ikut bertanggungjawab. Dia ingin lebih banyak temannya ikut berpartisipasi dalam kegiatan politik. Meski begitu dia tak lantas mengajak langsung orang sekitarnya.

Ada caranya sendiri. Arief memanfaatkan media sosial. Swafoto bersama relawan Jokowi lainnya lalu mengunggah di media sosial menjadi senjata andalan. Tak lupa, Arief menunjukkan prestasi calon Presiden petahana itu. "Milenial kan yang penting update. Update yang sedang dilakukan lalu kasih capiton menarik," ucap Arief.

Dari situ, katanya, akan menimbulkan rasa ingin tahu warganet termasuk para temannya. Memainkan rasa ingin tahu milenial. Sebagai bagian dari milenial, dia tahu banyak anak muda tak suka hal aneh dan berbelit. Cukup memberikan bukti kerja apa adanya. Sisanya tinggal penilaian tiap individu.

Selain memanfaatkan media sosial, dia juga masuk ke banyak komunitas. Melakukan edukasi politik. Diskusi tatap muka. Kegiatannya sederhana. Bisa sambil nongkrong bareng.

Suara milenial dianggap sangat menentukan kemenangan para kandidat. Bagaimana tidak, menurut data Kementerian Dalam Negeri jumlah pemilih milenial mencapai 100 juta jiwa. Sementara jumlah total pemilih mencapai 196,5 juta jiwa.

Data lainnya menunjukkan jumlah berbeda. Menurut survei Saiful Mujadi Research Consulting (SMRC) jumlah pemilih milenial sekitar 34,4 persen dari jumlah pemilih. Namun usia milenial dibatasi dari 17-34 tahun.

Dari jumlah ini, tentu saja menjadi rebutan kubu Prabowo-Sandiaga maupun Jokowi-Ma'ruf Amin. Tentu saja perlu ada pendekatan khusus untuk menarik hati milenial. Termasuk memberikan pendidikan politik. Seperti dilakukan Eqy Milhas Toriza. Dia rajin memberikan edukasi politik kepada lingkungannya. Dia memang dikenal sebagai pendukung fanatik Prabowo Subianto sejak tahun 2009. Selain aktif diskusi tatap muka, Eqy juga memanfaatkan sosial media WhatsApp Grup untuk berpolitik .

Di berbagai media sosial, Eqy aktif membahas politik. Mulai dari grup teman sepermainan, teman sekolah hingga teman kampus. Pernah satu hari dia berselisih paham dengan salah satu seniornya di kampus. "Waktu itu pernah sih, sampai tiga hari tidak saling tegur," kata Eqy.

Menurut dia, perbedaan pandangan politik bukan berarti memutus tali silaturahim. Sebab jangankan dengan orang lain, dengan kedua orangtuanya pun Eqy berbeda pandangan politik.

Di luar para milenial telah menentukan pilihan, masih banyak di antara mereka masih bingung. Belum menentukan pilihan poltik. Tak berani muncul ke permukaan. Hanya memantau dari kejauhan. Bila di media sosial biasanya hanya membaca berita dari tiap media online terpercaya.

Endah misalnya. Warga asal Cianjur ini belum menentukan pilihan. Namun, dia sadar betul bahwa politik di Indonesia harus santun. Sehingga dia kerap mengingatkan orang sekelilingnya untuk menyampaikan kritik dan saran dengan perkataan lebih sopan.

Sebagai guru, Endah paham betul tentang ilmu budi pekerti. Sadar banyak muridnya merupakan remaja dan aktif berselancar di media sosial, tentu menjadi perhatian khusus. Endah tak mau anak didiknya terbawa arus negatif. Apalagi sampai menghina kepala negara di media sosial. Untuk itu, dia sering kali mengingatkan para murid di sekolah untuk tak termakan berita hoaks.

Diakui Endah, pada Pilpres 2014 lalu dia begitu mengidolakan Prabowo Subianto. Hingga dia mengajak anggota keluarga lainnya untuk juga memilih Prabowo.

Seiring berjalannya waktu, dia mengapresiasi kerja dilakukan Presiden Jokowi selama empat tahun terakhir. Walau mengapresiasi, kata dia, ini bukanlah bentuk ungkapan dukungan. Sebab hingga kini dia masih menunggu visi misi dan program ditawarkan dari dua kubu di Pilpres 2019. "Saya belum menentukan pilihan," kata Endah akhir pekan lalu.

Berujar santun kepada pemimpin negara sudah seharusnya menjadi etika harus dipertahankan di Indonesia. Mereka dianggap menghina kepala negara sama saja menjelekkan lambang negara. Tentu itu akan dipertanyakan tentang kecintaannya kepada Tanah Air.

Walau begitu, bukan berarti masyarakat Indonesia dilarang mengkritik pemerintah dan kepala negara. Kritik itu wajib. Agar pemerintah sadar tiap kebijakan maupun pola tingkah mereka diawasi rakyat.

Untuk itu, juru bicara Partai Gerindra Raditya Putra Pratama menyebutkan konsolidasi milenial patut didukung dengan kampanye sejuk, damai dan mengedepankan demokrasi sehat. Dia mengingatkan penyampaian kritik sah saja. Asalkan tidak berlebihan. "Kritik boleh, tapi jangan berlebihan," kata Radit kepada merdeka.com.

Demi menggalang suara milenial, tim sukses Jokowi-Maruf bahkan menyiapkan ratusan juru bicara. Ratusan jubir ini dipersiapkan memberi narasi optimis. Fokusnya, bagaimana memberi pemahaman terhadap anak muda. Mengingat citra Jokowi yang kekinian.

Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany menjadi salah satu juru bicara tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf. Dia menjelaskan konsep kampanye ratusan jubir akan berkutat pada data. Menurut dia, pemaparan hasil kerja nyata Jokowi selama empat tahun terakhir menjadi sarana edukasi politik yang baik.

"Kami akan fokus kepada program dan membangun narasi optimis di 2019-2024, itu salah satu cara kami mendekatkan diri ke anak muda, kami percaya anak muda bersubtansi melihat Pak Jokowi dalam hal nyata, gampang ditemui, dan dekat dengan mereka," terang Ketua DPP PSI ini.

Pengamat politik UGM Arie Sudjito melihat tingkat partisipasi politik milenial terus meningkat tiap tahunnya. Ini tak terlepas dari peran media sosial sebagai sumber informasi milenial. Hanya saja mereka punya cara sendiri dalam rangka mengekspresikan keterlibatan politiknya. Hal ini sejalan dengan daya kritis anak muda meningkat. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini