Laga tercela di tanah legenda

Gaet tentara menekan lawan

Kamis, 29 September 2016 06:37 Reporter : Andrian Salam Wiyono
Gaet tentara menekan lawan Kemeriahan PON Jabar. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Raja Sapta Oktohari sengaja datang ke kolam renang di kompleks Stadion si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Senin (19/9). Dia ingin melihat pertandingan polo air antara tim Jawa Barat dan Sumatera Selatan, pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX.

Awalnya, pertandingan itu berjalan lancar. Mendadak di pertengahan terjadi kericuhan di dalam kolam antar-atlet. Aparat keamanan sebagian besar TNI merangsek ke arena. Setelah ada botol plastik melayang, mereka kemudian beringas dan berkelahi dengan anggota kontingen DKI Jakarta justru sedang menyaksikan lomba dan penonton.

Kejadian itu pun terekam kamera dan diunggah ke media sosial, khususnya Twitter. Lantas menyebar cepat. Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, geram. Dia langsung meluncur ke kota kembang selepas kejadian itu.

"Kalau PON diwarnai pemukulan dan perkelahian itu tidak elok dan memalukan bagi kita semua. Saya minta aparat keamanan harus bertindak tegas," kata Imam, seperti dilansir dari Antara.

Raja merupakan Ketua KONI DKI Jakarta heran dengan kejadian itu. Dia merasa pendukung tuan rumah, yang sebagian merupakan anggota TNI tanpa mengenakan seragam, amat tidak ramah. Padahal mereka belum sempat berlaga.

"Kami prihatin atas sambutan suporter dari tuan rumah ini. Yang dilihatnya kami itu seperti bukan sebangsa dan setanah air," kata Raja Sapta kepada merdeka.com, di Hotel Patra Jasa, Bandung, Selasa (27/9) lalu.

Raja melihat ada kesengajaan mengerahkan anggota TNI di antara para penonton saat pertandingan. Menurut dia, mereka bersikap agresif dengan melontarkan segala macam perkataan, buat menekan mental lawan saat berlaga. Apalagi, Ketua Panitia Besar PON Jabar, Ahmad Heryawan, sengaja mendapuk Pangdam III Siliwangi, Mayjen TNI Hadi Prasojo, sebagai kepala kontingen.

Meski demikian, Hadi menampik kabar itu. Dia menyangkal kontingen Jabar sengaja main curang. Soal kehadiran anak buahnya saat menyaksikan setiap laga atlet tuan rumah, dia berkilah bukan buat mengganggu konsentrasi lawan.

"Enggak ada instruksi mengganggu mental tim lawan. Kehadiran kita cuma sebagai penyemangat. Pengerahan TNI tak lain hanya untuk keamanan, jadi enggak berpengaruh ke pertandingan," kata Hadi kepada merdeka.com, Jumat (23/9) lalu.

Menurut Hadi, kontingen Jabar menorehkan prestasi dalam PON kali ini lantaran kerja keras dilakukan sebelum kompetisi. Dia justru menyebut atletnya cukup banyak mengalah. "Karate enggak boleh tanding, ya udah kita terima. Panjat tebing, kita ngalah," ujar Hadi.

Wakil Juru Bicara PB PON Jabar, Rudi Gandakusumah mengatakan, mereka melibatkan TNI hanya sebatas pengamanan. Sedangkan anggota menyaksikan langsung pertandingan berbaju bebas merupakan hak setiap individu.

"Saat tidak berseragam ikut nonton. Bukan diperintahkan kami untuk menonton. Kalau di luar (kericuhan) itu ekses. Karena pengerahan suporter tidak ada instruksi khusus," kata Rudi.

Rudi menyatakan Hadi sudah berjanji TNI hanya membantu polisi dalam pengamanan. Sehingga menurut dia sangat rancu jika ada tuduhan TNI dikerahkan buat memecah konsentrasi lawan.

"Kepentingannya hanya untuk kondusifitas. TNI bagian dari pengamanan. Kalau ada keributan, itu tidak kesengajaan," ucap Rudi. [ary]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini