Esok hari menanti Fahri

Jumat, 8 April 2016 17:01 Penulis : Sidik Pramono
Esok hari menanti Fahri Fahri Hamzah. ©dpr.go.id

Merdeka.com - Di tengah beragam pemberitaan politik, kabar mengenai pemberhentian Fahri Hamzah dari semua jenjang keanggotaan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) cukup menyita perhatian. Sebagian bertepuk tangan, menilai Wakil Ketua DPR yang tindak dan bicaranya kerap dinilai kontroversial tersebut memang pas menerima hal itu. Sementara sebagian lain merasa sanksi pemberhentian tersebut tidak adil ditimpakan kepada Fahri, sosok yang telah ikut melahirkan, membesarkan, dan punya catatan sebagai benteng pertahanan yang kokoh dari partainya.

Ada sejumlah alasan yang dinyatakan dalam surat pemberhentian mantan Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) tersebut. Akan tetapi, sulit dilepaskan realitas lain bahwa Fahri adalah bagian dari "rezim lama" yang sebelumnya menguasai tampuk kepemimpinan PKS dan karenanya menjadikan nama Fahri rawan tergusur sejak awal pergantian rezim. Belum lagi karakter Fahri yang begitu ekspresif dan terkadang meledak-ledak, ditambah dengan keberaniannya melontarkan pendapat yang tidak populer sekalipun. Imbas dari semua itu, sekadar contoh, tengoklah berbagai meme Fahri yang beredar luas di media sosial.

Terkait dengan pemecatannya, pria asal Sumbawa tidak menyerah begitu saja. Sekalipun sejumlah partai politik lain bersedia menerima jika memang Fahri keluar dari PKS, toh Fahri masih menyatakan bersetia dengan partai yang ikut didirikannya itu. Lebih dari itu,

Fahri menyatakan melawan pemecatan tersebut lewat jalur hukum. Rasanya pertarungan panjang harus dijalani oleh Fahri dan juga bagi PKS sendiri.

Terlepas dari semua itu, abaikan dulu soal politik di mana benar dan salah kerap tipis bedanya. Jadi, apakah Fahri salah? Wallahu'alam. Lantas, apakah PKS salah? Wallahu’alam juga. Masing-masing tentu memiliki argumentasi. Dalam dunia politik (praktis), yang kerap terjadi adalah bahwa "kesalahan" terbesar adalah ketika kita berada di pihak yang kalah.

Baiklah... Pokok soalnya bisa jadi bukan benar-salah, nakal-tidak, atau perbandingan lainnya yang sejenis itu. Yang menjadi titik perhatian adalah adanya "beda" yang nyata antara Fahri dan pimpinan PKS saat ini. Bahwa Fahri "berbeda".

Dalam konteks organisasi, kerapkali organisasi dihadapkan pada individu yang "unik" dengan karakteristiknya masing-masing-dan pendekatan lama menjadikan mereka lebih gampang untuk disingkirkan. Akan tetapi, jika mau melihatnya dalam sisi yang berbeda, justru keunikan tersebut bisa menjadi aset yang berharga bagi organisasi. Dalam pandangan teoris aliran (post)modern, justru upaya penyeragaman atau konformitas "organizational-man" menjadi musuh terhadap inovasi dan kreativitas dan ujung-ujungnya membekukan organisasi.

Begawan manajemen modern, Peter F. Drucker sejak tahun 1950-an telah mengenalkan istilah "knowledge worker" sebagaimana termuat dalam buku "The Landmarks of Tomorrow" yang terbit pada tahun 1959. Menurut Drucker, jika pada masa lalu aset paling berharga dari sebuah perusahaan adalah alat-alat produksi (production equipment); pada era abad ke-21 aset paling berharga dari sebuah organisasi adalah knowledge workers dan produktivitas mereka. Bahkan kehadiran knowledge-workers tersebut tidak hanya akan mengubah bagaimana cara pengelolaan organisasi, melainkan juga akan mempengaruhi masa depan dan struktur sistem ekonomi.

Drucker dalam bukunya "Management Challenges for the 21st Century" (1999) juga menyatakan adanya kebutuhan untuk mendefinisikan tugas dan kewajiban mereka serta bagaimana benar-benar memperlakukan mereka sebagai aset. Karena seiring dengan bertambahnya knowledge-workers dalam organisasi, isu "managing oneself" menjadi kian signifikan. Mereka akan (memilih dan) memiliki tempatnya sendiri di mana mereka bisa memberikan kontribusi yang signifikan. Mereka juga sadar bagaimana mereka akan mengembangkan dirinya sendiri. "They will have to learn how and when to change what they do, how they do it and when they do it." Kondisi tersebut mengharuskan para knowledge-workers untuk mengelola diri mereka sendiri. Untuk itu, mereka membutuhkan otonomi. "Knowledge workers have to manage themselves. They have to have autonomy," begitu sebut Drucker. Pertanyaan-pertanyaan mendasar pun muncul: Who Am I? What Are My Strengths, HOW Do I Work? Where Do I Belong? What Is My Contribution?

Dalam konteks (organisasi) yang lebih luas, kehadiran individu-individu yang sadar akan posisi dan kemampuannya tentu bisa berkontribusi positif pada kemajuan organisasi. Tidak selamanya mulus, memang. Benturan antar-berbagai ragam pendekatan dan pemikiran amat potensial terjadi dalam hal seperti ini. Justru ironis jika organisasi tidak bisa memberdayakan aset yang telah dimilikinya. Perdebatan-perdebatan yang terjadi semestinya menjadi "pemurnian gagasan".

Dalam konteks organisasi publik, jika itu yang terjadi, kita tentu menikmati setiap pertarungan yang bisa berimbas pada harapan untuk terciptanya produk kebijakan yang benar-benar terbaik.

Karenanya, kembali ke soal kasus Fahri Hamzah, kita tidak perlu bersusah-susah menantikan ujungnya. Politik adalah arena permainan yang bisa jadi berbeda antara yang kita tangkap di permukaan dan yang sesungguh-sungguhnya ada di kedalaman. Yang perlu adalah bagaimana publik bisa membawa cerita Fahri ke dalam konteks yang lebih luas. Karena, bersama "Fahri", masih ada esok hari... [ian]

Topik berita Terkait:
  1. Kolom Sidik Pramono
  2. Highlight
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini