Dokter Piprim: Anak Positif Covid-19 Beri Nutrisi Protein Hewani

Rabu, 11 Agustus 2021 07:02 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah, Rifa Yusya Adilah, Rifa Yusya Adilah
Dokter Piprim: Anak Positif Covid-19 Beri Nutrisi Protein Hewani Founder Rumah Vaksinasi, dr Piprim Basarah Yanuarso SpA(K). ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Covid-19 di Indonesia belum mereda. Virus asal Wuhan, China ini menjangkit siapa saja. Tak kenal golongan usia, dari orang dewasa hingga anak-anak. Data dari Kemenkes, hingga akhir Juli 2021, sebanyak 350 ribu lebih anak terpapar Covid-19. Atau 1 dari 8 orang yang tertular Covid itu adalah anak-anak Indonesia.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah korban anak meninggal akibat Covid-19. Data statistik dari World Health Organization (WHO), kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia tertinggi se-Asia Pasifik.

Kebanyakan angka kematian tertinggi berada pada kelompok usia 0–2 tahun, diikuti kelompok usia 16–18 tahun dan usia 3–6 tahun. Daerah dengan kasus anak terpapar covid-19 tertinggi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Potret ini membuat banyak orang tua takut dan was-was. Apalagi untuk mengidentifikasi gejala Covid-19 pada anak-anak lantaran gejalanya mirip dengan berbagai penyakit anak pada umumnya. Contohnya demam, batuk dan pilek.

Kebingungan akhirnya melanda para orang tua saat sang anak positif Covid-19. Ini terjadi baik saat mendampingi anak-anak atau menjalani isolasi mandiri bersama anak. Terutama di waktu-waktu krusial penderita Covid-19 pada 1-7 hari. Waktu di mana gejala-gejala muncul.

Merdeka.com mewawancarai Founder Rumah Vaksinasi, dr. Piprim Basarah Yanuarso Sp. A (K) terkait penanganan Covid-19 pada anak. Berikut wawancara khusus kami pada (4/8):

Anak terpapar Covid-19 harus apa?

Jadi yang pertama harus monitor. Monitor kondisi tubuhnya. Ini dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) sudah mengeluarkan diary isolasi mandiri anak versi 2. Berisi hal apa saja yang harus dilakukan selama isolasi mandiri. Tapi emang ada syarat-syaratnya kapan anak bisa isolasi mandiri yaitu kalau sudah ada gejala atau gejalanya ringan.

Gejala ringan seperti batuk, demam, diare, muntah, merah-merah tapi anaknya masih aktif, masih bisa makan minum, bisa nutup mulut kalo batuk. Kemudian kita bisa memantau gejala-gejala pada anak tadi.

Gejala apa yang dipantau? Suhu, kita mesti punya thermometer, diperiksa 2 kali pagi dan sore. Kemudian juga memiliki ruangan yang ventilasinya bagus. Jangan sampai diisolasi dengan ruang ventilasi yang jelek, nanti bisa tambah parah kondisinya. Orang tua tetap bisa asuh anak yang positif terutama kalau orang tua berisiko rendah. Kalau ada keluarga yang positif, maka diisolasi bersama. Karena kalau dikucilkan anak akan stres. Jadi mesti didampingi.

Kalau ada orang tua dan anak, anak positif tapi orang tua negatif diberi jarak tidurnya. Kasurnya dipisah dan tetap pakai masker. Tetap dihibur anaknya.

Apa gejala bahaya pada anak terpapar Covid-19?

Napas cepat, lebih dari 60 kali semenit selama 2 bulan sampai 11 bulan. Jadi orang tua harus bisa hitung napas. Kalau anak itu, katakanlah umur 4 bulan, napasnya lebih dari 50 semenit. Artinya gawat harus dibawa ke rumah sakit. Kalau anak sudah lebih besar, 2 tahun, napas di atas 40 kali semenit bisa bahaya. Kalau umur lebih dari 5 tahun, 30 kali dalam semenit. Jadi monitor yang paling penting juga adalah frekuensi nafas. Harus sedia oksimetri dan thermometer.

Kapan anak harus dibawa ke rumah sakit?

Selain napasnya cepat, ada cekungan di dadanya. Jadi kalau napas dadanya sampai sesak atau anaknya jadi lemas tidur melulu, atau ada mata merah. Ada ruam merah seperti campak, lehernya bengkak. Ini ada indikasi multi inflamasi syndrome. Kemudian kalau ada kejang atau tidak bisa makan minum, tidak ada kencing, dan kesadarannya tadi menurun. Tanda bahaya ini mesti membuat anak harus dibawa ke rumah sakit. Jangan isoman.

Saat ini untuk pandangan dokter sendiri terkait penanganan covid-19 terhadap anak-anak. Melihat kasus covid-19 pada anak-anak tidak kalah banyak dengan kasus pada orang dewasa.

Sampai saat ini data menunjukkan kejadiannya 12,6 atau 13% tapi di beberapa daerah bisa sampai 15%. Artinya kalau 12,5 itu kan 1 dari 8 yang tertular covid itu anak. Artinya cukup banyak. Namun memang anak ini kalau dia sehat saja maka sebagian besar akan OTG atau gejalanya ringan. Kecuali kalau anak itu punya komorbid. Pengalaman kami di RSCM itu kalau anak dengan gejala parah biasanya punya komorbid.

Apakah ada leukemia, obesitas, atau gangguan imunitas yang lainnya. Jadi ini mesti hati-hati. Mesti lebih waspada lagi. Tapi pada anak-anak sehat pada umumnya gejalanya akan ringan tapi bahayanya lagi anak-anak sehat ini bisa menularkan ke orang tuanya. Jadi anak juga punya potensi sebagai penular bagi orang-orang yang punya komorbid disekitarnya. Jadi kita harus bisa melindungi anak-anak ini jangan sampai anak-anak ini menjadi korban covid atau menularkan orang tua atau orang terdekatnya.

kegiatan testing pcr di depok
©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Bagaimana orang tua bisa merawat anak terpapar Covid-19 dengan aman?

Tentu tadi sudah disebutkan, anak harus diisolasi mandiri jangan boleh keluyuran. Anak harus diberi nutrisi yang sehat jangan diberi junk food. Junk Food yang banyak gula dan tepung. Ini sangat bersifat inflamasi dan dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Banyak beri makan sayur-sayuran, protein hewani, buah-buahan yang tidak manis. Ini yang akan menguatkan imunitas anak. Di samping pemberian vitamin, vitamin C, vitamin D, Zinc. Dan untuk anak juga perlu diberikan dalam jumlah terbatas tapi juga jangan sampai kalap. Ini yang perlu kita perhatikan.

Apakah ada batas untuk pemberian vitamin?

Ini ada di buku Diary IDAI ya, bisa dibuka saja. Untuk vitamin C, anak dibawah 1-3 tahun max. 400 mg sehari, 4-8 tahun max. 600mg sehari, 9-13 tahun max. 1200mg, 14-18 tahun max. 1800mg.

Untuk vitamin D3, anak dibawah 1-3 tahun max. 400 unit, anak-anak 100 unit, remaja 2000 unit, remaja obesitas 5000 unit. Untuk Zinc 20 mg sehari selama 14 hari.

Apakah pemberian D3 dan Zinc rutin selama 1-2 minggu aman untuk anak?

Mudah-mudahan aman, karena cuma 2 minggu saja. Namanya vitamin kebutuhannya sebenarnya micronutrient. Yang penting seperlunya saja. Karena overdosis vitamin juga tidak bagus, terutama nutrisinya. Nutrisi dari protein hewani itu paling afdol karena bisa bangun antibodi. Jangan junk food karena nanti malah inflamasi tubuh anak-anak kita.

Perlukah anti virus untuk anak?

Kalau untuk isoman tentu saja tidak perlu ada obat yang diberikan di rumah. Untuk yang berat biar dokter saja nanti yang berikan di rumah sakit. Orang tua tidak perlu ikut campur terkait obat-obatan, perlu ada anjuran dari dokter.

Jika anak umur 5 tahun kejang karena covid-19?

Ya jadi ini situasinya ketika semua RS penuh, inilah yang harus kita jaga bersama. Jadi gini, sebetulnya secara statistic, anak atau orang tua yang kena covid yang gejala berat itu sekitar 5%. Tapi kalau yang 5% itu terjadi bersama, dia butuh ICU atau IGD, oksigen yang bersama itu pasti collapse. Itu yang terjadi di Jakarta kemarin.

Untuk itu, pentingnya kita itu untuk menjaga diri, seperti yang sekarang PPKM. PPKM ini dalam rangka menurunkan kebutuhan RS dalam waktu bersama-sama. Jadi gentian yang butuh RS nya. Alhamdulillah DKI sekarang sudah menurun. Jadi peran serta seluruh masyarakat sangat dibutuhkan.

pmi kejar target vaksin
©2021 Merdeka.com/Imam Buhori

Apakah benar anak usia di bawah 3 tahun, daya tahan tubuhnya lebih kuat?

Jadi kita itu punya imun bawaan lahir dan adaptive immunity, keduanya diperlukan. Pada anak yang sehat, metabolismenya masih bagus, tidak ada obesitas dan apa-apa. Imunitasnya sangat kuat. Kalau immunity bagus virus sampai situ aja, tapi kalau imunnya jelek, inflamasi. Ini yang bikin kehebohan, anak itu jadi sesak juga terutama anak dengan obesitas berat.

Sebetulnya anak sehat dia punya kekebalan yang bagus untuk melawan virus apapun. Tapi bukan berarti kemudian kita mengabaikan perlindungan untuk anak. Karena kalau dia OTG akan tetap menularkan. Jadi terkait anak ini banyak aspek yang diperhatikan.

Jadi betul soal statement anak yang masih mengkonsumsi ASI memiliki daya tahan tubuh yang sangat kuat. Karena ASI mengandung imunoglobulin, mengandung nutrisi paling bagus buat anak. Bahkan dianjurkan bila ibunya kena covid dan masih memungkinkan, masih memberikan ASI. Tapi ibunya pakai masker. Karena ASI itu tidak tergantikan oleh susu formula apapun.

Pertolongan pertama untuk bayi berusia 0-1 tahun yang terkena Covid-19?

Jadi kalau tidak ASI segera perhatikan, jangan sampai anak kita kemasukan junk food yang sangat berbahaya karena dapat menurunkan imunitas anak kita. Karena makanan junk food itu, yang dimakan langsung jadi gula seperti gula, tepung, snack, biskuit, itu berbahaya dan dapat memicu obesitas.

Melindungi kesehatan, beri asupan nutrisi esensial yang bermutu (asam amino, asam lemak esensial) dari protein hewani, daging, telur unggas. Jangan lupa juga sayuran hijau.

Dokter pernah menyarankan puasa gula mencegah kondisi yang lebih buruk. Apakah anak perlu puasa?

Pada anak sebetulnya lebih santai, kenapa? Karena anak itu kekebalannya bagus, jadi tidak terlalu ketat. Tidak perlu dipuasakan untuk anak. Dia sudah paham kapan dia harus makan, kapan dia harus tidak makan. Sebagai orang tua memang perlu untuk menyiapkan makanan sehat di rumah. Itu yang paling penting. Tetapi pada anak itu tidak perlu seperti orang dengan komorbid yang harus ketat.

Tips agar anak bisa olahraga, namun tetap aman?

Memang ini agak susah untuk yang rumahnya kecil. Mungkin alternatifnya keluar rumah tapi tidak berkerumun dan dialam terbuka, ya disekitar rumah saja, yang penting tidak berkerumun, jaga jarak dan pakai masker. Anak butuh alam terbuka. Jangan dibawa kondangan. Jadi disiasati aja.

Vaksinasi untuk Anak

Seberapa penting anak-anak harus ikut vaksinasi?

Program untuk saat ini 12 tahun ke atas. Kenapa? Karena beberapa pertimbangan. Uji klinis untuk usia ini sudah dilakukan, sehingga vaksin insya allah aman. Kedua, anak kelompok ini adalah anak dengan mobilitas paling tinggi dibanding adik-adiknya. Oleh karena itu, dia bisa jadi potensial menyebar virusnya. Untuk itu beri vaksin supaya dia kebal, tidak jadi OTG. Karena walaupun anak kita sehat, kalau dia tertular dan jadi OTG akan berbahaya untuk orang sekitarnya.

Pencegahan bagi anak bawah 12 tahun yang belum divaksinasi?

Untuk vaksin belum ada, tapi kita tunggu saja untuk vaksin lanjutan karena penelitian terkait ini masih berjalan. Bila uji klinis bagus maka insya allah anak di bawah 12 tahun juga akan diberi vaksin. Selama vaksinasi belum ada, kita perlu melindungi anak kita dengan cukup ketat, jangan dibiarkan keluyuran, pastikan dia bisa memakai masker dengan baik, mencuci tangan dengan baik. Angka kematian anak di Indonesia cukup tinggi, banyaknya yang komorbid.

Sedangkan di luar negeri kematian anak karena covid tidak ada, tapi di kita malah banyak. Walaupun memang kasus yang datang ke rumah sakit berat, di daerah-daerah. Jadi inilah yang mungkin perlu diperhatikan bagaimana penanganan anak di rumah, orang tua jangan sampai terlambat untuk membawa ke rumah sakit. Tadi yang cukup penting adalah kemampuan menghitung pernapasan, kita mesti tahu gejalanya. Mungkin sedang pneumonia, dan ini butuh bantuan rumah sakit.

Kalau anak di bawah 12 tahun bisa dicegah pakai vaksin influenza?

Tentu berbeda. Tetapi memang dari WHO menganjurkan juga diberikan vaksinasi influenza. Karena ketika anak terkena influenza daya tahan anak menurun. Jadi secara tidak langsung, kalau diberikan vaksinasi influenza kita harapkan dia bisa kondisinya lebih bagus. Jadi 2 hal yang berbeda tidak berhubungan tapi saling menunjang.

Mencegah dampak buruk Covid-19 anak yang belum divaksin influenza?

Ya betul, walaupun vaksinasi bukan satu-satunya upaya pencegahan. Gaya hidup sehat, walaupun sejak anak-anak, kadang kita sedih anak kita digelontor dengan makanan dan minuman junk food. Ini akan sangat menurunkan imunitasnya, apalagi dia sudah menjadi anak yang obesitas. Rata-rata anak yang obesitas dia juga bisa terkena covid berat seperti juga yang terkena covid di luar negeri seperti di Amerika Serikat.

Nah ini buat orang tua, anak kita harus dijaga pola makannya, jangan karena lockdown terus dikasih cemilan. Apalagi sekolah online, cemilan dan jarang gerak, plus dikasih junk food. Termasuk makanan kemasan yang bikin enggak bisa berhenti makan.

anak anak disuntik vaksin covid 19
©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Kategori anak yang tidak boleh divaksinasi?

Sebetulnya sebagian besar anak-anak akan boleh divaksin kecuali yang punya komorbid berat atau gangguan imunitas kuat misalnya anak yang sedang dalam terapi steroid dosis tinggi. Itu kan memang anak sedang sakit. Atau anak dengan HIV sedang drop kondisinya. Jadi pada anak dengan gangguan imunitas berat, ini mungkin perlu hati-hati.

Tapi untuk anak-anak yang aktif, sudah vaksin aja. Jadi yang penting anaknya sehat, bahkan anak dengan jantung bawaan itu lebih butuh lagi vaksinasi. Selama napasnya tidak sesak, tidak biru banget, vaksin saja. Insya allah lebih melindungi.

Apakah sudah ada laporan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) anak-anak?

Sejauh ini kan kita sering rapat ya, rapat dengan teman IDAI cabang, itu di berbagai daerah di Indonesia sudah banyak mulai dilakukan vaksinasi untuk remaja. Alhamdulilah sampai saat ini belum ada laporan KIPI berat.

KIPI itu sudah pasti KIPI, apapun pasca imunisasi itu pasti KIPI, tapi benar tidak karena vaksinnya. Nah ini peran media, menenangkan masyarakat, memberi informasi yang betul itu juga sangat kami harapkan. Ini kan masih banyak masyarakat galau vaksinasi. [ray]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini