Diskon dan kartu kredit bikin warga konsumtif

Kamis, 29 Desember 2016 08:02 Reporter : Intan Umbari Prihatin, Hery H Winarno
Diskon dan kartu kredit bikin warga konsumtif Diskon besar jelang Lebaran. ©2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Jakarta adalah surga bagi penikmat belanja. Tidak kurang 173 mal dan pusat perbelanjaan berdiri mentereng mengepung Ibu Kota. Tak heran warga Jakarta begitu rakus dalam hal belanja.

Untuk menjerat warga supaya belanja, para pengusaha pun cukup kreatif. Salah satunya membuat acara diskon besar-besaran di beberapa mal. Salah satu acara yang rutin diadakan setiap tahun di Ibu Kota adalah Festival Jakarta Great Sale (FJGS).

Awalnya FJGS bernama Festival Pertokoan. Acara ini dipelopori oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta yang bekerja sama dengan Pemprov DKI. Sampai 2007, program tersebut masih diselenggarakan oleh KADIN DKI Jakarta. Sejak 2008 acara tersebut mulai diselenggarakan oleh Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (APRINDO). Kemudian di tahun 2009 acara ini dipegang oleh Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta bekerja sama dengan beberapa asosiasi dan perusahaan terkait.

Tahun 2016 ini FJGS digelar pada 3 Juni-17 Juli lalu. Festival diskon itu diikuti oleh sebanyak 78 pusat belanja (mal) serta 20 pasar tradisional di bawah naungan PD Pasar Jaya. Panitia FJGS menargetkan transaksi Rp 15,74 triliun dalam ajang tersebut. Target ini naik sebanyak 8 persen dibandingkan pencapaian tahun lalu, dengan penjualan ritel sebesar Rp 14,58 triliun.

Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan bahwa festival diskon itu bukan untuk menumbuhsuburkan budaya konsumtif warga Ibu Kota dan sekitarnya. Menurutnya, FJGS merupakan salah satu acara dari serangkaian acara HUT DKI Jakarta.

Diskon besar jelang Lebaran 2013 Merdeka.com/Arie Basuki

"Ini kan merupakan bagian memeriahkan HUT DKI Jakarta. Jadi karena ini memeriahkan HUT DKI Jakarta, hanya pesta bisa didapatkan untuk membeli kepentingannya untuk jangka menengah dan jangka panjang. Ini artinya kan menjelang Lebaran ya enggak apa-apa dong beli sepatu kalau ada diskon. Enggak ada masalah kalau diskon, karena diskonnya kan lumayan," kata Sarman kepada merdeka.com.

Sarman berpendapat bahwa tujuan awal dari FJGS adalah apresiasi pengusaha kepada konsumen dengan menggelar pesta diskon. "Ya artinya keuntungan mereka sedikit tapi penjualan banyak. Kan cuma satu bulan, bila perlu pembukaan FJGS itu jangan di pusat-pusat perbelanjaan yang mewah-mewah, sekali-kali di Tanah Abang," tandasnya.

Direktur Utama PD Pasar Jaya Arief Nasrudin mengatakan FJGS mampu kenaikan omzet pasar tradisional. "Naiknya signifikan mencapai lebih dari 100 persen," kata Arief.

Dalam ajang FJGS, PD Pasar Jaya terus bersaing dengan produk yang dijual di mal. "Ya produk-produk tradisional dan lokal pun menjadi terkatrol penjualannya. Tak kalah saing dengan produk yang dijual di pasar atau pusat pembelanjaan modern lainnya," tutur Arief.

Diskon besar jelang Lebaran 2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Di akhir penyelenggaraan FJGS, target Rp Rp 15,74 triliun ternyata tercapai. "Kami bersyukur target belanja dari tahun lalu adalah Rp 15,74 triliun tercapai, bahkan kenaikannya mencapai hingga delapan persen dari angka tahun sebelumnya," jelas Ellen Hidayat, Ketua Festival Jakarta Great Sale saat menutup acara tahun tersebut.

Tercapainya target tersebut tidak lepas dari perang diskon yang diberikan para pengusaha. Diskon besar-besaran digaungkan untuk menarik para pembeli agar mengeluarkan kocek. Lalu benarkah diskon itu menguntungkan pembeli?

"Diskon itu memang mempunyai efek langsung. Bahkan ada kesan rugi bila tidak langsung beli hari ini. Diskon sering membuat orang gelap mata untuk membeli sebuah produk," ujar pengamat marketing Yuswohady kepada merdeka.com.

Padahal yang namanya diskon tetap saja menguntungkan penjual. Tak ada penjual yang mau rugi meski telah memberi diskon besar. Para penjual biasanya bermain dengan barang stok lama atau menghitung margin penjualan yang saat itu permintaannya sedang tinggi. Untung sedikit tetapi dalam jumlah besar lebih baik dibanding mengambil untung agak besar tetapi sedikit penjualan.

Diskon besar jelang Lebaran 2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Diskon besar-besaran yang sering ditawarkan pusat perbelanjaan terkadang juga membuat konsumen terlena. Apalagi jika belanja menggunakan kartu kredit. Untuk mencegah pembengkakan finansial, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pernah menyarankan untuk tidak membawa kartu kredit saat berbelanja.

"Tinggalkan kartu kredit, bawalah uang tunai secukupnya. Kartu kredit akan sangat melenakan, sebab hanya dengan menggesek transaksi bisa dilakukan. Namun hal ini justru akan membuat kontrol finansial berkurang. Lebih baik bila membawa uang tunai sesuai budget. Dengan begitu pengeluaran akan lebih mudah dikontrol. Jadi buat apa membeli secara kredit bila mampu membeli tunai," ujar Pengurus Harian YLKI Agus Sujatno ketika memberikan tips belanja pintar jelang lebaran.

Menurut Agus, membuat perbandingan harga dengan barang sejenis cukup penting, sebab adakalanya barang berlabel diskon atau super promo tidak lebih murah. Selisih potongan harga mungkin hanya beberapa ratus rupiah saja dibandingkan harga normal. Pada beberapa kasus, harga barang telah dinaikkan terlebih dahulu sebelum diberi label diskon. Oleh karena itu, bila memungkinkan, cek harga diskon tersebut dengan harga normal di gerai lain. Perbandingan ini bisa sebagai acuan harga agar tidak tertipu.

Sebelum memutuskan membeli barang, teliti dan periksa kualitas barang untuk mengetahui apakah ada cacat produk atau tidak. Apakah kondisi barang sesuai dengan standarnya? Ini sangat penting, terlebih pada saat acara diskon. Sebab mungkin saja barang dijual secara obral atau didiskon gede karena memiliki cacat produksi atau cacat saat distribusi.

Apakah kartu kredit membantu usaha Anda? thehiddenwiki.net

"Jika barang yang didiskon memiliki cacat cukup besar, harus dipertimbangkan apakah cacat produk sebanding dengan besarnya diskon yang ditawarkan. Apakah cacat tersebut akan mengganggu atau berpengaruh terhadap kinerja barang? Terutama untuk obral barang-barang elektronik maupun produk peralatan rumah tangga," ujarnya.

[hhw]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini