Dilema Vaksin AstraZeneca

Senin, 31 Mei 2021 10:50 Reporter : Wilfridus Setu Embu, Ronald
Dilema Vaksin AstraZeneca Ilustrasi vaksin Covid-19 AstraZeneca. ©2021 Merdeka.com/liputan6.com

Merdeka.com - Vaksin Astrazeneca masih menjadi polemik. Publik masih ragu. Deretan kasus kematian diduga akibat pembekuan darah setelah vaksin menjadi penyebab. Gembar-gembor pemerintah tentang vaksin aman pun dipertanyakan.

Kasus kematian usai vaksin di antranya dialami Trio, asal Jakarta berusia 22 Tahun. Kasus berikut dialami lansia asal Jakarta, berusia 60 tahun yang merupakan tukang ojek. Terakhir, satu kasus meninggal dunia setelah divaksinasi AstraZeneca dialami oleh salah seorang warga Ambon usia 45 tahun.

Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Prof Hindra Irawan Satari, menyebut dua dari tiga kematian pasca vaksinasi tidak berkaitan dengan vaksin AstraZeneca. Kasus kematian lansia di Jakarta disebabkan radang paru-paru.

Sedangkan kasus kematian di Ambon disebabkan oleh Covid-19. Kesimpulan tersebut diambil setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Untuk kematian Trio, pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebabnya. Ini dikarenakan masih dalam tahap pemeriksaan.

"Sudah dilakukan autopsi, hasilnya katanya paling lama 2 minggu. Mudah-mudahan 1 minggu (sudah keluar hasil)," ujar Hindra kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

World Health Organization (WHO) maupun European Medicines Agency (EMA), pernah merekomendasikan penggunaan vaksin AstraZeneca dilakukan penggolongan umur. Jenis vaksin ini sebaiknya disuntikkan usia di atas 30 tahun. Kondisi ini sesuai banyak laporan di berbagai negara.

Data disampaikan Ketua Satuan Tugas (Satgas) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoeban, menyebutkan bahwa ada 79 kasus dari 20 juta dosis vaksin. Bahkan 19 kasus di antaranya meninggal dunia. Negara Inggris pun mengaitkan kejadian tersebut akibat pembekuan darah.

Hindra menyadari bahwa situasi dialami tiap negara ketika melakukan vaksinasi amat berbeda. Karena itu, rekomendasi diberikan pun beragam. Sebagai contoh, rekomendasi yang dikeluarkan Inggris atau Jerman tidak serta merta harus diterapkan di Indonesia. Meskipun demikian, tiap rekomendasi tersebut juga menjadi bahan pertimbangan dalam pemberian vaksin di Indonesia.

"Jadi kita juga tidak mengelompokkan umur, tapi kita menyampaikan risiko-risiko ini terjadi. Di UK ada sekian yang golongan ukur sekian. Jerman sekian untuk kelompok umur sekian. Di negara ini wanita, di negara ini laki-laki," dia menjelaskan. Semua catatan tersebut kemudian disampaikan kepada BPOM yang memiliki wewenang untuk mengatur peredaran vaksin.

Executive Secretary ITAGI Julitasari Sundoro mengingatkan pentingnya prinsip kehati-hatian dalam pemberian vaksin Astrazeneca. Terutama pascatemuan kasus meninggal setelah penyuntikan vaksin Astrazeneca. Sejauh ini, di tanah air belum ada laporan terkait adanya dugaan pembekuan darah pasca penyuntikan astrazeneca.

"Sekarang ada prinsip kehati-hatian untuk orang-orang dengan usia di bawah 50 tahun, dengan dia punya latar belakang pembekuan darah. Itu hati-hati. Jadi bukan tidak boleh dipakai. Cuma hati-hati," ungkap dia.

Menjamin Keamanan Vaksin

Pelaksanaan program vaksinasi nasional sempat diwarnai dengan temuan varian mutasi virus baru dari Covid-19, di antaranya varian B.1.1.7 atau dikenal sebagai varian Inggris, dan varian B.1.617.2 atau juga dikenal sebagai dengan varian India, dan varian B1.351 asal Afrika Selatan.

Temuan varian mutasi virus baru ini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat terkait dengan efektivitas vaksin. Terutama untuk jenis vaksin AstraZeneca yang digunakan belakangan setelah vaksin Sinovac.

Salah satu hasil studi terbaru yang dikeluarkan oleh PHE atau Public Health England, lembaga kesehatan di Inggris, pada 22 Mei kemarin menyatakan bahwa, dua dosis vaksin AstraZeneca 66 persen efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian Covid-19 B.1.1.7 atau varian Inggris. Sementara satu dosis vaksin AstraZeneca 50 persen efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian Covid-19 B.1.1.7 atau varian Inggris, setelah 3 minggu disuntikkan.

Penelitian yang dilakukan oleh PHE dalam rentang waktu dari 5 April hingga 16 Mei 2021 ini juga mengemukakan bahwa dua dosis vaksin AstraZeneca 60 persen efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian Covid-19 B.1.617.2 atau varian India. Dan juga satu dosis vaksin AstraZeneca 33 persen efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian Covid-19 B.1.617.2 atau varian India, pasca 3 minggu vaksin tersebut disuntikkan.

Kebutuhan Indonesia terhadap ketersediaan vaksin memang tinggi. Indonesia harus berlomba dengan negara lain untuk menyiapkan vaksin yang aman untuk masyarakat. Per 25 Mei 2021 tercatat sudah ada 83.910.500 dosis vaksin yang diterima Indonesia. Jumlah tersebut terdiri atas bahan baku (bulk) vaksin dan vaksin jadi. Untuk bahan baku vaksin tercatat ada 73.500.000. Sedangkan vaksin jadi terdiri atas 3.000.000 dosis vaksin sinovac, 6.410.500 dosis vaksin Astrazeneca, dan 1.000.000 dosis vaksin sinopharm.

"Jenis vaksinnya sinovac, Astrazeneca, dan sinopharm. Yang sudah terdistribusi 30 juta dosis," ujar Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemkes, Siti Nadia Tarmizi.

Adapun total vaksin yang dibutuhkan Indonesia mencapai 426,5 juta dosis. Sejauh ini negara sudah mengeluarkan anggaran mencapai Rp58,2 triliun untuk ketersediaan vaksin.

Siti memastikan Indonesia tidak asal memilih mendatangkan vaksin tanpa persiapan yang matang. Salah satunya dari segi mutu vaksin. Sekarang bukan saatnya bagi negara-negara, termasuk untuk Indonesia untuk ‘pilih-pilih’ vaksin. "Vaksin yang terbaik adalah vaksin yang waktu kita perlukan ada," ujarnya.

Kementerian Kesehatan pun memastikan terus memantau dan memberikan masukan terhadap pemerintah terkait penggunaan vaksin. Dengan begitu, vaksin yang sudah didatangkan tersebut, benar-benar memiliki manfaat bagi masyarakat dan bagi upaya melawan Covid-19.

Vaksin AstraZeneca dengan nomor bets CTMAV547 dinyatakan aman untuk kembali digunakan. Hasil uji toksisitas dan sterilitas yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan bets tersebut aman. Sebelumnya distribusi vaksin ini dihentikan sementara terkait dugaan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).

Uji sterilitas dan toksisitas abnormal dilakukan di Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) Badan POM. Tujuannya untuk mengetahui adanya keterkaitan antara mutu produk dengan KIPI yang dilaporkan, terutama terkait konsistensi mutu saat distribusi dan penyimpanan. Laporan hasil pengujian disebut telah terbut pada 25 Mei 2021, dengan kesimpulan memenuhi syarat mutu dan aman digunakan.

Berdasarkan hasil pengujian yang, dapat disimpulkan bahwa tidak ada keterkaitan antara mutu Vaksin COVID-19 Astrazeneca bets CTMAV547 dengan KIPI yang dilaporkan. "Untuk itu, Vaksin COVID-19 AstraZeneca nomor bets CTMAV 547 dapat digunakan kembali," tulis BPOM dalam keterangannya.

BPOM juga melaporkan bahwa Vaksin COVID-19 AstraZeneca nomor bets CTMAV547 telah dilakukan proses investigasi oleh Komisi Nasional Pengkajian dan Penanggulangan KIPI (Komnas PP KIPI), Komisi Daerah Pengkajian dan Penanggulangan KIPI (Komda PP KIPI), dan BPOM, atas mutu vaksin yang meliputi uji sterilitas dan uji toksisitas abnormal di Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) BPOM sejak Minggu (16/5).

Upaya uji mutu dilakukan sebagai tindakan untuk mengetahui adanya keterkaitan antara mutu produk vaksin dengan KIPI yang dilaporkan, khususnya untuk mengetahui konsistensi mutu vaksin pada saat pendistribusian dan penyimpanan terhadap hasil 'lot release' yang telah dilakukan sebelum vaksin diedarkan.

Hindra menegaskan, investigasi yang dilakukan dengan memperhatikan bukti-bukti yang ada. Hasilnya, Komnas KIPI merekomendasikan vaksin AstraZeneca nomor bets CTMAV547 aman untuk digunakan. "Kami masih merekomendasikan aman. Kita teruskan. Yang bets-nya kemarin udah terbukti steril dan tidak ada kandungan zat berbahaya, dipakai lagi vaksinnya," kata dia menegaskan. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini