Bersahabat Dengan Zionis (1)

Dibenci tapi digandrungi

Rabu, 18 Desember 2013 07:00 Reporter : Faisal Assegaf
Dibenci tapi digandrungi Apache Israel. aircraftcompare.com

Merdeka.com - Ketika gerakan Zionis muncul pada akhir abad ke-19, negara-negara Arab dan muslim tidak terlalu mengindahkan. Kecemasan mulai muncul setelah gelombang imigran Yahudi mulai berdatangan ke Palestina. Hingga akhirnya pecah bentrokan di sana antara kelompok Arab dan warga Yahudi pada 1929.

Kaum muslim kian gelisah dengan berkembangnya rezim Zionis di Palestina. Apalagi lobi-lobi politik dan ekonomi mereka berhasil meyakinkan masyarakat internasional memberi sokongan. Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1947 mengesahkan resolusi membagi dua Palestina: satu untuk orang Arab, sebagian lagi buat kaum Yahudi.

Resolusi ini seolah restu buat mereka mendirikan tanah air di Palestina. Orang-orang Yahudi meyakini Palestina adalah tanah dijanjikan Tuhan. Mereka berhasil mendeklarasikan sepihak negara Israel pada 14 Mei 1948. Dalam hitungan menit, Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman memberi pengakuan dan mengucapkan selamat kepada proklamator sekaligus perdana menteri pertama Israel David Ben Gurion. beberapa hari kemudian giliran Uni Soviet mengambil langkah serupa.

Sejak Israel berdiri, negara Zionis ini telah empat kali berperang dengan negara-negara Arab, yakni pada 1948, 1956, 1967, dan 1973. Mereka juga berperang dengan Hizbullah pada 2006, dan dua kali dengan Hamas pada 2008-2009 dan pertengahan November 2012.

Bagi kaum muslim, bukan hanya Zionis, Yahudi adalah musuh abadi. Seperti firman Allah dalam Alquran: "Dan tidak akan rida Yahudi dan Nasrani hingga kalian mengikuti ajaran mereka." Sebab itu, sebagian orang Islam percaya konflik Palestina-Israel bakal berlangsung sampai kiamat.

Meski begitu, ada saja tokoh-tokoh muslim, termasuk kaum ulama, bertindak kontroversial dengan mengakui Israel dan mau bersahabat dengan negara Yahudi itu. Sebut saja Direktur Institut Budaya Masyarakat Islam Italia (CIIIC) Syekh Profesor Abdul Hadi Palazzi dan Dr. Muhammad al-Husaini. Keduanya percaya kembalinya Yahudi ke Tanah Suci dan berdirinya negara Israel sesuai ajaran Islam, seperti dilansir Los Angeles Jewish Journal, 23 Februari 2001.

Dalam pelbagai jajak pendapat internasional, Israel menjadi negara paling dibenci lantaran rasis dan diskriminatif. Mereka juga dinilai kejam dan biadab. Hasil komite pencari fakta Dewan Hak Asasi PBB diketuai Richard Goldstone, hakim Afrika Selatan berdarah Yahudi, menyimpulkan Israel telah melakukan kejahatan perang dan kemanusiaan sehabis Perang Gaza berakhir empat tahun lalu.

Meski begitu, negara Bintang Daud ini dirindukan walau setengah hati. Mereka memiliki modal buat menjadi idola. Banyak orang cerdas dengan pelbagai inovasi bermanfaat bagi peradaban manusia, termasuk Internet dan media sosial, kini membuat penghuni Bumi ini begitu bergantung.

Israel memang dibenci lantaran politik praktis, namun digandrungi karena teknologi ciptaan ilmuwan mereka.

Baca juga:

Serdadu Israel ditembak mati di perbatasan Libanon

Diam-diam 'pacaran'

Mencari kabar Hever

Sejoli baru Timur Tengah

Situs bersejarah dari Ramla kembali ditemukan di Israel [fas]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini