Diam-diam jadi tentara

Rabu, 8 Januari 2014 09:55 Reporter : Arbi Sumandoyo
Diam-diam jadi tentara Kakek Tole Iskandar. (merdeka.com/arbi soemandoyo)

Merdeka.com - Kakeknya, Raden Setjodiwiryo, merupakan menteri pengairan di Depok pada zaman Belanda. Sebelum pindah ke Depok, kakeknya menduduki jabatan serupa di Purworejo, Jawa Tengah. Meski kakeknya bekerja untuk Belanda, Tole Iskandar memilih jalur lain.

Tole berjuang untuk Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan sebagai polisi tentara. Kariernya dimulai dari serdadu Pembela Tanah Air. Sejak muda Tole Iskandar sempat menghilang dari keluarga dan pulang dengan baju tentara. Dari sini, keluarga baru mengetahui Tole Iskandar ikut berperang.

Selepas kemerdekaan, dia membentuk Barisan Keamanan Rakyat di Depok untuk melindungi para keturunan Belanda Depok. Di bawah Kelompok 21, Tole Iskandar berjuang mempertahankan Depok.

Kelompok 21 dulu berada di bawah Batalion I Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk pada 15 Oktober 1945 di Bogor. TKR memiliki empat Batalion. Batalion I berkedudukan di Depok dan ditetapkan sebagai seksi pengawal markas Batalion I. Selama agresi militer Belanda I dan II, Depok menjadi garis tempur depan antara Jakarta dan Komando Siliwangi.

"Tidak ada yang tahu Tole jadi tentara, tahunya setelah pulang dia pakai baju tentara," kata keponakan Tole Iskandar, Rony Menton, saat berbincang dengan merdeka.com di kediamannya, Gang Kembang, Ratu Jaya, Depok, Selasa pekan kemarin.

Kematian Tole Iskandar membuat ibunya, Sukati binti Raden Setjodiwiryo, terpukul. Kabar itu baru diketahui setelah seorang tentara datang ke kediamannya di Gang Kembang.

Arif Darma Wahyu, keponakan lain Tole Iskandar, mengungkapkan dilahirkan dari keluarga ningrat dan dibesarkan di sekolah Belanda tidak membuat Tole tunduk kepada Kolonial. Dia memilih berjuang mengusir penjajah.

Tole Iskandar tercatat pernah ikut berperang bersama Margonda saat pertempuran di Pabrik Bata, Kalibata, Jakarta Selatan. Sebelum wafat di Cikasintu, Sukabumi, Jawa Barat, Tole Iskandar bertempur di Citayam dan Bojong Gede. Sempat memimpin Batalion I Depok, Tole Iskandar kemudian digantikan Harun Rasjid.

Tole Iskandar kemudian ikut berperang bersama Batalion 8 di Sukabumi. "Waktu itu hanya ibunya saja datang mendengar kabar Tole gugur," ujar Arif. Selain ibunya Sukati binti Raden Setjodiwiryo, adiknya, Sukaesih, juga ikut ke Sukabumi saat mendapat kabar Tole gugur di medan perang.

Kini jasad Tole Iskandar dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Greded, Kota Bogor, Jawa Barat. Dia wafat pada 1947 dengan pangkat Letnan Dua. Tidak diketahui, kapan Tole gugur. Di batu nisan tertulis Tole Iskandar terbunuh saat berperang melawan tentara NICA. [fas]

Topik berita Terkait:
  1. Pahlawan Nasional
  2. Depok
  3. Tole Iskandar
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini