Di Bawah Kendali Ahli Strategi

Senin, 3 Juni 2019 08:21 Reporter : Anisyah Al Faqir, Angga Yudha Pratomo
Di Bawah Kendali Ahli Strategi Aksi 22 Mei Berujung Bentrok. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Perintah melakukan pembunuhan sudah diterima Iwan alias HK sejak Oktober 2018. Targetnya deretan tokoh nasional. Termasuk ada nama Presiden Joko Widodo di dalamnya. Strategi sudah disusun. Dana telah disiapkan. Sambil putar otak, dia mencari para eksekutor untuk membantu tugasnya.

Iwan sempat frustasi dalam menjalankan tugas. Dia sampai menghilang. Tekanan begitu kuat dari pemberi perintah sekaligus atasannya. Merasa tugas diterimanya sangat berat. Ditambah logistik sangat minim saat itu. Padahal deretan 'target VIP' dalam daftarnya harus dihabisi satu per satu. Dengan target utamanya adalah kepala negara.

Tercatat ada empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei, selain nama presiden. Empat tokoh tersebut adalah Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan, Menko Polhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Staf Khusus Presiden Bidang Intelejen dan Keamanan Gories Mere. Sementara pimpinan lembaga survei itu Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya.

Selama menghilang, pria berusia 49 tahun itu menolak melakukan pertemuan dengan pemberi perintah. Rencana pembunuhan 'target VIP' itu tertunda. Hingga membuat atasannya itu ikut stress. Bingung mencari keberadaan Iwan.

Mabes Polri mengakui bahwa ada aktor intelektual di belakang Iwan dalam menjalankan tugas pembunuhan. Termasuk kepemilikan senjata ilegal. Peran Iwan merupakan koordinator lapangan. Semua perintah berasal dari sosok aktor intelektual.

Dalam kasus ini kepolisian sedang mendalami bagaimana peran aktor intelektual tersebut. Lantaran masih dalam penyelidikan, mereka belum bisa membuka siapa sosok pemberi perintah tersebut. "Jadi urutannya ada penyandang dana memberikan uang kepada aktor intelektual, lalu menyuruh koordinator lapangan untuk mengeksekusi dan mencari senjata," kata Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada merdeka.com, pekan lalu.

©2019 Merdeka.com/liputan6.com

Tugas Iwan dalam menjalankan misi sempat digantikan Armi alias AZ. Dia dibebani dua tugas. Mencari Iwan sekaligus para eksekutor. Selama Iwan menjadi koordinator, Armi merupakan salah satu eksekutor. Keduanya merupakan kawan lama.

Misi Armi berhasil. Iwan kembali ke tim. Kemudian para eksekutor lainnya bergabung. Tercatat ada tiga, yakni IR, Tj alias Tajudin dan AD. Nama Armi alias AZ dikabarkan merupakan orang kepercayaan Mantan Pangkostrad, Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zein. Bahkan santer disebut tangan kanannya.

Status Kivlan kini sebagai tersangka dalam kasus kepemilikan senjata ilegal dan makar. Diduga terkait dengan kelompok dipimpin Iwan.

Kuasa Hukum Kivlan, Djudju Purwantoro, menyebut kliennya mengakui di depan penyidik mengenal dekat sosok Armi. Selama ini warga Ciputat, Tangerang Selatan, itu bekerja sebagai supir paruh waktu. Sudah tiga bulan berjalan.

Armi direkomendasikan seorang rekan kepada Kivlan. Tidak setiap hari dia menemani purnawiran jenderal bintang dua tersebut. Sebab, Armi diketahui juga bekerja di dua perusahaan jasa penyedia sekuriti sebagai manajer.

Selama bekerja, Kivlan mengetahui Armi memiliki senjata api. Suatu hari pernah menunjukkan senjata jenis pistol kepada Kivlan. Lantas dia mengingatkan agar Armi untuk mengurus perizinan kepemilikan senjata api. Sebab, pria 44 tahun itu sudah berstatus mantan tentara dari satuan angkatan darat.

Bahkan dalam urusan senjata, Djudju menyebut, Armi pernah menawarkan Kivlan untuk dicarikan senjata api berburu. "Kamu kalau punya senjata seperti itu, kamu tetap harus lapor dan meminta izin secara formil," kata Djudju menirukan nasehat Kivlan kepada Armi.

Pembicaraan terkait senjata lainnya adalah saat Armi menyambangi kediaman Kivlan di kawasan Gunung Pancar, Kabupaten Bogor. Di sana Kivlan memiliki lahan luas dan masih banyak babi hutan.

"Di sini banyak babi nih, harus kita buru (bunuh), perlu kita senjata untuk berburu," ujar Djudju menceritakan percakapan Kivlan dan Armi.

©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Selain mengenal Armi, Kivlan juga mengenal Tajudin alias Tj. Dia merupakan mantan anggota TNI angkatan laut. Kivlan mengenal sosok tersebut di sebuah acara. Djudju tak menyebutkan spesifik perkenalan keduanya. "Hanya sebatas kenal," ucap Djudju.

Sementara dengan empat tersangka lainnya, Kivlan tidak mengenal dengan baik. Kivlan hanya tahu sebatas pernah bertemu dalam suatu acara. Namun, terkait senjata ilegal dan rencana pembunuhan tokoh nasional, Kivlan mengaku tidak pernah tahu.

Rabu, 29 Mei 2019, Kivlan telah panggilan Polda Metro Jaya. Usai menjalani pemeriksaan selama 28 jam, dia ditetapkan sebagai tersangka atas kepemilikan senjata ilegal. Lalu ditahan di Rutan POM Jaya, Guntur Jakarta selama 20 hari mendatang.

Polisi menjerat Kivlan dengan Undang-Undang Darurat Nomor 12 tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api. Pengacara Kivlan Zein lainnya, Sutha Widya, meyakini kliennya tidak terlibat dengan rencana pembunuhan para tokoh nasional itu. Sebab sosok Kivlan terlihat sangat nasionalis dan tidak mungkin memiliki rencana jahat seperti itu.

Tak hanya itu, Kivlan juga sangat kooperatif selama pemeriksaan. Bahkan sebelum bersaksi di Polda Metro Jaya untuk kasus kelompok Iwan, Kivlan memenuhi panggilan Bareskrim Polri untuk kasus makar yang dituduhkan kepadanya. "Kami yakin Bapak tidak terlibat sama sekali," kata Sutha meyakinkan.

Walau sudah pensiun dari dunia militer, Kivlan pernah membantu pembebasan 10 warga negara Indonesia (WNI) disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina tanpa uang tebusan pada tangga 2 Mei 2016. Kemampuannya di dunia militer digunakan penuh. Dia masuk selaku tim negosiator. Menggunakan pendekatan ke tokoh masyarakat dan warga setempat di Sulu, Filipina.

Strategi Pembunuhan

Pergerakan kelompok ini sudah terendus sejak bulan Oktober. Kepolisian mengaku transaksi jual beli senjata api ini menyasar pada kontestasi Pemilu yang tengah berlangsung. Hanya saja, waktu tepat aksinya belum diketahui.

Hal ini terbaca dari adanya transaksi jual-beli senjata. Tanggal 1 Oktober 2018, HK menerima perintah dari aktor intelektual untuk membeli dua pucuk senjata laras pendek dan dua pucuk senjata laras panjang di Kalibata, Jakarta Selatan.

Tanggal 13 Oktober, Iwan membeli satu pucuk senjata api jenis revolver kaliber 38 dari AF seharga Rp 50 juta. Lalu pada 5 Maret 2019, Iwan membeli tiga senjata api dari AD.

Satu pucuk senjata api jenis Glock Mayer kaliber 22 seharga Rp 5,5 juta, dua senjata api rakitan laras panjang kaliber 22 seharga Rp 15 juta dan senjata laras pendek kaliber 22 seharga Rp 6 juta.

Senjata api jenis Glock Mayer kaliber 22 diserahkan Iwan kepada Armi sebagai eksekutor. Sementara dua senjata api lainnya diberikan kepada Tajudin.

Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 14 Maret, Iwan mendapat uang Rp 150 juta untuk keperluan membeli senjata. Dalam waktu yang sama Tajudin mendapat bagian Rp 25 juta untuk mengeksekusi dua tokoh nasional.

Sebulan kemudian, Iwan kembali mendapat perintah. Dia diminta mengeksekusi tokoh nasional lainnya. Tepatnya tanggal 12 April. Di bulan yang sama, ada juga perintah mengeksekusi tokoh nasional lainnya melalui Armi. Saat itu, dia diminta untuk mencari eksekutor. Atas perintah itu Armi mengajak IR untuk mengeksekusi target.

Mendapat perintah itu, IR beberapa kali sudah melakukan survei ke rumah target. Dia sudah hafal rutinitas target dan keluarganya. Hanya saja dia belum mengeksekusi target lantaran menunggu temannya yang masih dalam perjalanan menuju Jakarta. Untuk tugas ini, IR diberi uang sebesar Rp 5 juta.

Tanggal 21 Mei, Iwan menyelinap di antara massa aksi demonstrasi di depan gedung Bawaslu. Dia melakukan aksi demonstrasi sebagaimana biasa sambil mengantongi senjata api jenis revolver Taurus kaliber 38.

Dedi menyebut, para tersangka sudah menerima uang untuk mengeksekusi para target. Tiap orang memang berbeda dan dibekali senjata. Bila para eksekutor ini berhasil mencapai target, aktor intelektual itu akan memberikan uang tambahan.

"Uangnya semua sudah diterima. Kalau bisa eksekusi nanti ada bonusnya," tegas Dedi.

©2019 Merdeka.com/Hari Ariyanti

Melihat rangkaian peristiwa ini, Dedi menyebut patut diduga aktor intelektualnya ahli strategi. Sebab, selain memiliki beberapa rencana, penggunaan senjata ilegal juga jadi pertimbangan lain. Penggunaan senjata ilegal bertujuan untuk mempersulit identifikasi.

Saat ini polisi masih mencari aktor intelektual dari kelompok ini. Keterangan dari orang tersebut akan membuka tabir kasus pembunuhan berencana ini. Dedi menduga, sosok di belakang Iwan dkk bukanlah orang sembarangan. Dia ahli dalam merancang strategi.

"Ini pasti sudah direncanakan secara matang oleh ahli strategi, kalau orang biasa pasti sudah kita tangkap," tegas Dedi mengungkapkan.

Selama ini polisi hanya memantau pergerakkan jual beli-senjata ilegal untuk kepentingan Pemilu. Usai melakukan penangkapan kepada para tersangka, baru diketahui mereka memulai rencana sejak Oktober tahun lalu.

Target pertama jadi incaran adalah pimpinan lembaga survei. Para eksekutor ini sudah memantau pergerakan target. Lalu dalam perjalanannya, kelompok pembunuh bayaran ini mendapatkan order target lainnya. Namun, belum sempat melakukan aksinya, polisi langsung menangkap mereka.

Semua tersangka dalam kasus ini masih dalam tahap pemeriksaan. Kepolisian masih membuka kemungkinan adanya tersangka lain dalam kasus rencana pembunuhan dan kepemilikan senjata ilegal tersebut. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini