Jakarta Vs Corona

Di Balik Kebijakan Rem Darurat Jakarta

Senin, 14 September 2020 11:13 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Di Balik Kebijakan Rem Darurat Jakarta Anies Baswedan Sidak di Restoran Kawasan Jaksel. ©2020 instagram @aniesbaswedan

Ruang Isolasi Terancam Penuh

Merdeka.com - Adapun keputusan kembali penerapan PSBB total sangat didorong DPRD. Mereka khawatir kapasitas rumah sakit di Jakarta akan penuh. Sekalipun pemerintah kabarnya katanya akan menambahkan tempat tidur, justru tenaga kesehatan akan semakin keawalah.

Jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit mencapai 4.649 orang. Terdapat 7.791 orang menjalani isolasi mandiri. Peningkatan kasus mengancam ketersediaan kapasitas tempat tidur isolasi.

ruang isolasi pasien corona di rsup persahabatan

ruang isolasi di RS Persahabatan ©2020 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Pemprov DKI Jakarta memprediksi pada tanggal 17 September nanti, tempat tidur isolasi di Jakarta diperkirakan akan penuh. Hanya perlu beberapa hari ke depan untuk mencapai tempat tidur isolasi terisi penuh, yakni 4.053 tempat tidur.

Adapun Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebut ruang isolasi di Jakarta sempat mencapai angka 80 persen. Padahal angka ideal angka ideal hanya 60 persen.

Setelah tanggal 17 September 2020 pasien covid kemungkinan tidak tertampung. Dari sisi jumlah pasien, diperkirakan jumlah pasien akan mencapai 4.807 pada 6 Oktober 2020. Padahal 4.807 tempat tidur isolasi baru bisa terpenuhi pada 8 Oktober 2020.

Ketersedian ruang ICU hanya 528 ruang. Jumlah ini diprediksi hanya cukup untuk seminggu. Setelah tanggal 15 September 2020, pasien covid yang membutuhkan ICU kemungkinan tidak tertampung. Jumlah pasien diperkirakan akan mencapai 636 pada 15 September 2020. Padahal 636 tempat tidur ICU baru bisa terpenuhi pada 8 Oktober 2020.

Sebagai jalan keluar, Anies Baswedan memutuskan menarik rem darurat. Kembali menerapkan PSBB total di Ibu Kota. Kebijakan ini guna mencegah penyebaran virus Covid-19 yang semakin tinggi.

"Dengan melihat keadaan darurat ini di Jakarta, tidak ada pilihan lain selain keputusan untuk tarik rem darurat," ungkap Anies.

Keputusan tersebut, jelas Anies, berdasarkan hasil evaluasi oleh Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Pelaksanaan rem darurat guna menyelamatkan masyarakat Jakarta.

Menurut mantan Mendikbud ini ada tiga indikator yang sangat diperhatikan Pemprov DKI Jakarta, yaitu tingkat kematian, ketersediaan tempat tidur isolasi dan ICU khusus COVID-19 dan tingkat kasus positif di Jakarta.

"Dalam dua pekan angka kematian meningkat kembali, secara persentase rendah tapi secara nominal angkanya meningkat kembali. Kemudian tempat tidur ketersediaannya maksimal dalam sebulan kemungkinan akan penuh jika kita tidak lakukan pembatasan ketat," ucap Anies.

[ang]

Baca Selanjutnya: Aturan PSBB Total...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini