Dapat amanah setelah pulang umrah

Senin, 12 Maret 2018 07:00 Reporter : Angga Yudha Pratomo
Dapat amanah setelah pulang umrah Wawancara khusus TB Hasanuddin. ©2018 Merdeka.com/Atsari

Merdeka.com - Sebagai Ketua DPD PDIP Jawa Barat (Jabar), TB Hasanuddin, mendapat mandat khusus dari partai. Dia diminta membangun provinsi tersebut dengan segudang pengalamannya. Cerita penunjukan sebagai calon gubernur Jabar juga begitu dramatis. Namanya muncul di tikungan terakhir.

Kang Hasan, begitu sapaannya dalam kontestasi pemilihan gubernur ini. Jenderal Purnawiran ini sebelumnya pernah menolak pinangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk maju di Jabar. Merasa sudah bukan saatnya. Apalagi bisikan diterima, dirinya justru bakal diminta membantu Presiden Joko Widodo.

PDIP sempat kalut. Bahkan akhirnya merapat dalam koalisi PPP, PKB, Hanura dan NasDem untuk mendukung Ridwan Kamil. Namun, belum sempat melakukan diumumkan secara resmi. Hanya selang sehari. nama wali kota Bandung itu dicoret. Partai berlambang banteng moncong putih itu mendadak memunculkan nama TB Hasanuddin. Maju sendiri tanpa koalisi. Sekaligus memasukkan nama Irjen Anton Charliyan sebagai calon wakil gubernur.

Tidak sulit ternyata bagi Kang Hasan membangun komunikasi dengan Anton. Padahal proses perjodohan mereka berlangsung kilat. Pasangan ini lantas mendapat nomor urut dua dalam undian Pilgub Jabar. Pasangan ini juga akan menghadapi senior militer mereka. Ada nama Sudrajat, diusung Partai Gerindra dan PKS.

Pasangan ini tak khawatir bila nanti masyarakat bakal menyebut mereka pasangan anti islam. Kondisi ini terkait maraknya isu menyebut bahwa PDIP mulai berjarak dengan kaum muslim.

Dalam masalah ini, Kang Hasan punya penjelasannya. Simak wawancara lengkap merdeka.com dengan TB Hasanuddin ketika berada di Hotel Horison Bandung pada akhir Februari lalu.

Nama Anda tiba-tiba muncul di bursa Pilgub Jabar, Apakah Anda merasa menjadi pilihan terakhir Ketum PDIP?

Tadinya iya, tapi ternyata tidak. Jadi ceritanya begini, saya ketika menjadi ketua DPD PDIP Jabar yang kedua, ketua DPC meminta tahun 2018. "Pak ketua (TB Hasanuddin) ada yang namanya Pilkada dan Pilgub, sudahlah sekarang, Pak Ketua harus maju".

Sehingga seluruh kompak, 27 kabupaten dan kota mendeklarasikan bahwa saya maju. tetapi kan DPP belum tahu, coba sosialisasi. Lalu ada yang membuatkan baliho dan dipasang. Setelah itu dipasang, saya dipanggil ke DPP, kata DPP kira-kira begini, "Kang Hasan, untuk jabatan calon gubernur biarkan yang lain. Kang Hasan nanti ada penugasan."

Saya pikir penugasan apa, kira-kira penugasan saya itu membantu pemenangan Pak Jokowi, ya kira-kira begitulah. Ya sudah, baliho-baliho itu saya tidurkan lagi. Sudah bikin baliho, sebagian suduh dipasang, ya sudah. Lalu saya diminta untuk menerima beberapa calon, satu, dua, tiga, ya sudah. Mereka dengan tulus Pak Hasanuddin tidak mungkin maju dan merekalah siap. Ada bapak A, B, C dan lain-lain di Curah Gagas itu. Sesudah Curah Gagas itu kan ada yang PDKT (pendekatan) ke saya, saya tolong ini itu dan sebagainya. Saya tidak mungkin menyebutkan satu-persatu, bisa ditebak dan dilihat.

Sebelum Anda terpilih, nama Ridwan Kamil dikabarkan sudah terlebih dulu ditunjuk PDIP. Menurut Anda, apa alasannya bisa cepat berganti secepat itu?

Kalau itu saya tidak tahu. Waktu itu saya sedang umrah. Setelah itu sudahlah forgeted (melupakan) soal cagub. Tugas saya adalah men-setting 16 calon bupati dan wali kota.

Lalu sepuluh hari sebelum awal Januari saya sudah selesai menyelesaikan 16 calon bupati wali kota dan saya laporkan kepada DPP, lalu saya mohon izin untuk berangkat umrah. Saya sembilan hari umrah, kemudian Jumat kembali, pagi lalu saya ,menuju ke Bandung. Lalu hari Sabtu saya dipanggil, lalu malamnya sekitar hampir jam 10an saya diminta, ini situasi di Jawa Barat seperti ini, lalu saya sampaikan siapa pun yang diputuskan oleh DPP saya akan taat. Lalu kita diskusikan ulang, situasinya seperti ini, format calon-calon sudah seperti ini, sudah makin mengental sekarang, ada sekian pasang.

Situasi seperti ini dengan data-data intelijen seperti ini saya kemudian diminta untuk maju. Ya kalau diminta saya bilang sudahlah yang lain saja.

Kenapa Anda waktu itu menolak?

Ya siapa tahu saya ditugaskan bersama Pak Jokowi nanti. Tetapi bukan itu masalahnya, karena saya sudah tidak punya pikiran untuk maju, sudah cooling down saya, kemudian baliho-baliho sudah saya tidurkan, bahkan sudah ada yang dibuat kandang ayam.

Saya urusan jabatan dan kekuasaan itu sudah tidak ada ambisi apalagi ambisius. Kalau Allah mengizinkan saya terima. Kun faya kun, kalau saya mendapatkan amanah apapun akan saya kerjakan sebaik-baiknya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Dan itu ajaran dari partai saya dan juga ajaran dari prajurit TNI. Ya sudah tapi kemudian sepakat, ini bukan penawaran tapi perintah. Kalau perintah saya siap, saya kerjakan, saya laksanakan.

Siapa yang mendorong Anda untuk ikut Pilgub Jabar?

Ibu Mega langsung, ini perintah. Ya kalau gitu saya siap kerjakan, saya laksanakan. Buat saya, sekali saya mengatakan siap, saya akan pertanggungjawabkan kesiapan saya, sekeras-kerasnya, sehormat-hormatnya.

Dan saya langsung pulang. "Mohon izin Bu (Mega) saya baru pulang dari umrah saya, barusan dari Bandung, DPD rapat lalu saya kembali". Lalu saya keluar.

Di luar pada tanya "Betulkan jadi cagub? Wakilnya siapa?" lupa saya, lupa tanya. Lalu saya balik lagi, sudah pada bubar, ya sudah, saya pulang. Saya tahu bakal jadi cagub PDIP tapi saya belum tahu wakilnya.

Paginya saya jam 9 berangkat ke Lenteng Agung (kantor DPP PDIP) untuk deklarasi. Begitu saya turun banyak juga wartawan menanyakan pada saya. Bapak mau jadi calon? Katanya iya. Dan akan dideklarasikan. Wakilnya siapa? Enggak tahu, saya bilang. Pak Anton? Wah enggak, saya belum tahu. Ya memang saya hanya dengar-dengar saja, karena buat saya prinsip gini, saya ini prajurit lah, mau disuruh bertempur sama siapa saja, akan saya kerjakan, tidak usah pilih-pilih siapa saja, saya enggaklah, begitu saya terbiasa dengan urusan begini.

Lalu begitu masuk ruangan ada Pak Anton. Saya menghadap dan dia bilang "Kang saya wakilnya akang", "Oh ya sudah,". Kami rangkulan. "Oke, kita ini pensiunan, walaupun Anda belum pensiunan, tugas ini tugas yang mulia di sisa umur kita. Jadi mari jadikanlah jabatan ini sebagai ladang ibadah untuk kita kalau mati. Supaya ada manfaatnya untuk Jawa Barat," (kata Hasan). "Setuju kang," (kata Anton). Itu di DPP PDIP Lenteng Agung. Itu pertama kali saya ketemu sama Pak Anton.

Pak Anton saya mengenal beliau sejak sebelum menjadi polisi, karena dulu kan AKABRI, saya beda 10 tahun sama beliau. Beliau lulus tahun 1984, saya lulus 1974. Jadi saya pernah menjadi instrukturnya beliau dulu. Jadi saya deket, apalagi yang namanya polisi pernah jadi Kapolda, pasti sudah terpilih dengan baik.

Jadi tidak ada proses perjodohan?

Enggak ada. Kita tidak berbicara tentang mahar berapa, sudahlah kita mau berjuang bersama-sama, begitu ada rezeki berapa, ya kita jalan saja. Sebisa-bisanya, sedapat-dapatnya, kudu dapat.

Bagaimana Anda membangun hubungan dengan sosok Anton Charliyan?

Enggak susah. Dia orangnya sama kayak saya, seneng urusan budaya, seni. Kalau mau berbicara jebolan pesantren, pesantren kampung zaman dulu tidak seperti pesantren zaman sekarang, ya memang saya juga belajar di sekolah madrasah. Dulu kan elit sekali yang namanya SMP di kampung, apalagi SMA, enggak ada di kampung saya.

Jadi saya bersyukur, latihan di Akabri itu kami tidak pernah berbicara soal yang sensitif, perbedaan suku, agama, kami benar-benar menjadi anak bangsa yang ikatannya kuat. itu dilatih di akabri.

Bagaimana respon Anda ketika tahu wakilnya adalah Anton Charliyan?

Ya, apalagi, secara historis, keluarga saya dari Majalengka itu juga banyak yang keluarga pesantren, Pak Anton itu kan dari Tasikmalaya, itu keluarganya juga punya hubungan pesantren yang baik. Zaman mbah-mbah kami hanya nama pesantrennya sama jadi menurut hemat saya tidak ada kesulitan, fine-fine saja.

Selama kampanye, Anda meminta Anton Charliyan fokus di mana saja?

Saya telpon saja, karena kan sibuk. Setelah pencalonan, kami mengobrol waktu acara tes kesehatan, lalu ya sudah urusan partai yang kuat di 14 daerah itu biar urusan saya, Pak Anton silakan keliling ke mana, menggalang komponen-komponen rakyat, komponen relawan, dan komponen pendukung termasuk alim ulama dan sebagainya. Itu semuanya sudah jalan.

Kalau disurvei kami memang belum cukup, tetapi saya sudah naik dengan Pak Anton yang lain mulai turun, kan masih ada waktu, tunggulah saja nanti. Belum saatnya kampanye.

Wawancara khusus TB Hasanuddin 2018 Merdeka.com/Atsari


Sebagai ketua DPD, kenapa partai Anda maju sendiri dan memilih tidak berkoalisi dengan partai lain?

Tidak berkoalisi itu keputusan DPP PDIP, tapi kalau menurut hemat saya, itu yang terbaik. Dalam situasi yang seperti sekarang, semua partai pun kalau cukup kursi untuk maju, pasangannya tunggal maksudnya wakil dan gubernur satu paket, akan menempuh itu, percayalah. saya kan banyak pengalaman yang namanya berkoalisi itu susah.

Untuk rapat saja ketika berkoalisi sudah dikirim undangan, ada sebagian yang tidak datang bagaimana. kami pak transpotnya belum dapat. Habis itu mau membuat baliho, siapa yang bikin, itu bisa jadi rebutan juga.

jadi sekarang sendiri lebih mudah, sebagai ketua, rapat di sini. Tidak perlu saya ada mahar-maharan, urun-urunan, enggak ada.

Dengan sederet pengalaman Anda, apakah merasa cukup jadi modal maju dalam Pilgub Jawa Barat?

Pemimpin yang bagus adalah pemimpin yang bisa memimpin dirinya sendiri. Modal untuk jadi gubernur? Insya Allah.

Pertama, seluruh sekolah yang ada di militer sampai Lemhanas saya tempuh. Sesko Angkatan Darat saya tempuh dua kali. Sesko TNI, dua kali baik di dalam negeri maupun luar negeri. saya lulus terbaik dari Sesko Angkatan Darat Prancis. Saya juga S1 iya, S2 juga saya punya, S3 saya punya. Yang tidak itu mungkin es cendol. He-he-he. Tapi semua pelajaran, tingkatan strata akademis saya lalui.

Saya pernah menjadi ajudan Tri Sutrisno di pemerintahan, kemudian ajudan Pak Habibie, mengawal Gus Dur, kemudian mengawal Sekretaris Militer ibu Mega. Jadi itu kan hari-harinya melakukan rapat-rapat pembangunan, rapat ini itu, dan saya menjadi notulen, jadi kalau soal pemerintahan, pemerintahan yang nasional dan pemerintahan provinsi yang ada di bawah pemerintah nasional.

Saya sudah lebih familiar. kalau di militer saya pikir semua operasi di indonesia yang pernah saya jalani di tempat-tempat lain. saya juga menjalani operasi militer keluar saya ikut dalam konteks PBB, pasukan garuda saya dua kali, Alhamdulillah tinggal kun faya kun, kalau allah mengizinkan insya allah jadi. tapi bisa jadi juga tidak, ya tidak apa-apa. kami juga ikhtiar kalau allah memutuskannya lain ya sudah diberikan kepada yang lebih baik, kita enggak usa terlalu bingung, panik.

Artinya sudah siap menang, siap kalah?

Iya.

PDIP isunya berjarak dengan umat muslim. Apalagi Anton Charliyan sempat bersitegang dengan salah satu ormas islam saat menjabat Kapolda Jabar. Bagaimana Anda mengatasi masalah ini?

Saya kira kalau mengatakan PDIP berjarak dengan umat islam, ya tidak juga. Yang saya rasakan selaku ketua DPD PDIP boleh ditanyakan dengan tokoh islam, itu baik-baik saja. Apalagi keluarga saya, sohib-sohib ada yang ulama dan kiai, no problem. Image itu menurut hemat saya terlalu dibesar-besarkan.

Saya pribadi tidak ada, merasa Hasanuddin ini apa gitu, enggak saja.

Apakah sudah terasa efeknya hubungan Anton yang tak baik dengan ormas islam tersebut?

Jadi begini, ada yang menanyakan soal Anton semacam friksi dengan FPI. Itu ceritanya FPI demo, itu saya juga pernah diskusi dengan beliau jauh-jauh hari sebelum Pilgub Jabar selaku anggota DPR komisi I. Sebaiknya ini jangan sampai terjadi, kalau ada demo dihadapkan muncul demo tandingan, itu sudah doktrin loh, enggak boleh karena bisa mengakibatkan konflik horizontal dan beliau mau mendengar.

Kalau ada demo dihadapkan saja dengan petugas yang sah, negara, misalnya brimob turunkan kan mereka punya kewenangan untuk itu. menurut hemat saya clear, dan masalahnya sudah selesai.

Ada orang yang memanas-manaskan, kan wakil Pak TB itu orang yang anti islam, bukan anti islam, wong demo itu juga tidak mengatasnamakan islam, itu demo mengatasnamakan kelompok ormas tertentu, jadi jangan digiring bahwa itu mengatasnamakan seluruh orang islam di Jabar. bahwa dalam penanganannya ada hal yang kurang pas itu harus diperbaiki, dibatasi, dan itu hal yang perlu dievaluasi.

Lantas solusinya bagaimana?

Saya jelaskan beliau kan sebagai pejabat tidak perlu ke publik, kepada yang tanya saja, yang mungkin bisa terjadi di tempat lain tapi tidak usah dibawa ke ranah pilkada. Nanti sesuatu yang sudah hangat tidak usah dihangatkan lagi, sehingga nanti tidak kondusif di Jawa Barat. Saya berharap dan meminta pada kader PDIP juga minta kepada pendukung saya atau siapapun sudahlah jangan mengembangkan isu-isu yang nanti menyerempet, biarkan pilkada ini berjalan dengan damai.

Tunjukkan bahwa urang sunda itu bisa bekerja dengan damai, tenang dan tidak penuh dengan fitnah. Mari kita selalu khusnuzon selamanya.

Mengenai istilah Perang bintang di Jabar, bagaimana Anda menanggapinya?

Kalau saya sih tidaklah, tidak usah perang bintang, toh kita ini sama, sudah pada pensiun, bukan pada bintang, bukan pada jumlah bintang, bukan senior dan junior tetapi adalah bagaimana kita meng-create sebuah situasi, tim sukses untuk cemerlang dengan data-data intelejen yang cukup dan meraih suara sebanyak-banyaknya. Jadi bukan masalah bintangnya tapi masalah kecerdasannya.

Dua kali Anda menyebut kata intelejen, adakah kaitannya dengan sebuah institusi milik negara?

Loh begini, kalau berbicara intelijen, kalau dulu intelijen selalu militer, saya mendapatkan pelajaran intelijen itu kan dari universitas juga, ada intelijen pemasaran, intelijen partai, intelijen partai itu semua kan perlu data-data daerah mana dan yang namanya survei itu bagian dari intelijen, untuk mendapatkan data. Intelijen itu kan data, kalau berbicara soal intelijen itu bukan operasi intelijen negara. Pengertian saya itu tentang intelijen. Intelijen itu data yang bisa dipakai untuk membuat suatu keputusan. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini