Dahsyatnya angka 212

Senin, 7 Agustus 2017 07:28 Reporter : Anisyah Al Faqir, Rendi Perdana
Aksi 212 di depan DPR. ©2017 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Masih teringat sorak-sorai massa bertakbir saat 2 Desember 2016 di area Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Namanya aksi Bela Islam 212. Angka 212 lantas menjadi simbol perjuangan bagi umat muslim.

Aksi ini muncul setelah Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama alias Ahok dinilai menistakan agama. Ahok mengutip Surah Al Maidah ayat 51. Menimbulkan gejolak besar. Atas nama agama massa bergerak. Ada yang menilai politis karena aksi menjelang pemilihan kepala daerah di ibu kota.

Terlepas dari itu, aksi 212 juga menjadi momentum penting. Sakralnya angka 212 menjadi peruntungan banyak pihak. Mulai dari membentuk gerakan organisasi masyarakat (ormas), mendirikan usaha, hingga pembentukan partai.

Bukan itu saja. Para peserta lain juga membentuk gerakan sebagai wadah para aktivis ketika aksi 212. Mereka menamakan sebagai Aktivis 212 Indonesia. Gerakan ini dipimpin Ma'ruf Halimudin sebagai ketua. Dia juga dikenal sebagai politikus ketika PAN masih diketuai Hatta Rajasa.

Sebagai penanda eksistensi semangat 212, beberapa aksi masih mereka gelar. Terakhir mereka melakukan demonstrasi pada 28 Juli lalu atau dikenal aksi 287 di Masjid Istiqlal hingga Monas. Mereka menuntut Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas pemberlakuan Perppu Nomor 2 tahun 2017 tentang Keorganisasian Masyarakat (ormas).

Kami berkesempatan berbincang langsung dengan Ma'ruf Halimudin di sebuah Rumah Makan Padang Bersama bilangan Jalan KH Abdullah Syafei, Tebet, Jakarta Selatan. Dalam perbincangan santai, Ma'ruf menceritakan dahsyatnya pengaruh angka 212 dalam setiap kegiatan.

Misalnya saat aksi 287 beberapa waktu lalu. Ma'ruf mengungkapkan bantuan makanan dan minuman untuk para peserta aksi tak kunjung henti. Ma'ruf geleng-geleng tak percaya melihat berlimpahnya konsumsi. Dari Subuh hingga salat Jumat, makanan dan minuman terus berdatangan.

"Pakai label 212 ini luar biasa. Makanan dan minuman itu enggak putus," ungkap Ma'ruf kepada merdeka.com, Kamis pekan lalu.

Angka 212 bukan hanya masalah politik. Demi merangkul para umat tetap bersatu, mereka juga bergerak dalam bidang ekonomi berbasis syariah. Melalui ide ini lahir pula komunitas Koperasi Syariah 212 digagas Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Bachtiar Nasir.

Ide ini cepat berkembang. Dari koperasi berbasis syariah itu lahir 22 pasar swalayan bernama 212 mart dan tersebar di Jabodetabek. Bahkan ada juga tempat makan. Salah satunya tempat makan kami saat bertemu dengan Ma'ruf.

Anggota Koperasi Syariah 212 sekaligus Bendahara Aktivis 212 Indonesia, Yudi Handoko, mengatakan dalam waktu dekat akan kembali membuka Rumah Makan Bersama 212 di Bogor dan Cirebon. Tak hanya sistem ekonomi, para karyawan bekerja di badan usaha itu harus memiliki hafalan Alquran. Minimal beberapa juz.

"Mereka (pegawai) harus hafiz Alquran satu sampai dua juz. Kalau ada umat nganggur, bisa baca Alquran ya sudah, Insya Allah anak yatim juga jadi prioritas," ungkap Yudi.

Kami sempat mendatangi Rumah Makan Bersama. Para pelayan rumah makan Padang itu mengenakan baju koko putih dengan celan panjang hitam. Tak lupa, peci hitam menjadi pelengkap seragam.

Selain merambah dunia ekonomi, angka 212 ini bahkan dijadikan nama sebuah partai politik. Partai Syariah 212. Ide ini digagas Siti Asmah Ratu Agung atau akrab disapa Bunda Ratu. Dia mengaku menjadi bagian dari aksi 212 akhir tahun lalu.

Bunda Ratu mengungkapkan alasan membentuk partai politik berlandaskan agama Islam. Alasannya, selama ini partai politik dengan visi serupa belum sepenuhnya menyerap aspirasi dari umat muslim. Untuk itu, dirinya tergerak mendirikan partai politik syariah.

"Kebutuhan umat untuk berjihad di politik. Partai yang ada saat ini kurang memuaskan umat terutama umat islam," ujar Bunda Ratu kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Dalam mendirikan partai politik, Bunda Ratu mengklaim telah mendapatkan izin para ulama GNPF MUI untuk menggunakan angka 212. Salah satunya dari Bachtiar Nasir dan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab.

Mengutip ucapan Rizieq, Bunda Ratu mengatakan angka 212 merupakan lambang persatuan umat Islam. "Siapa pun silakan pakai 212 selama Bunda berkegiatan positif. Habib Rizieq bilang 212 lambang persatuan. Ustaz Bachtiar Nasir juga bilang silakan pakai 212 selama kegiatannya baik," terangnya.

Mereka akhirnya mendeklarasikan partai tersebut pada 17 Juli lalu. Melalui notaris, tengah mendaftarkan Partai Syariah 212 ke Kementerian Hukum dan HAM untuk memperoleh legalitas. Bunda Ratu optimis partainya bakal lolos verifikasi dan ikut menjadi peserta pemilu 2019 mendatang.

Sayangnya, banyak sengkarut dalam partai tersebut. Mulai dari dugaan perebutan kekuasaan hingga masalah keuangan. Dalam waktu singkat, perpecahan sudah dimulai. Beberapa deklarator partai sudah mengundurkan diri. [did]

Topik berita Terkait:
  1. Demo 212
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.