Midreport

Perkembangan Pencarian Calon Vaksin Covid-19 dari Seluruh Dunia

Kamis, 24 September 2020 09:00 Reporter : Pandasurya Wijaya
Perkembangan Pencarian Calon Vaksin Covid-19 dari Seluruh Dunia vaksin corona. ©REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo

Merdeka.com - Pembuatan vaksin biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun dan tahapan uji coba sebelum bisa dipakai di klinik kesehatan. Namun para ilmuwan kini berlomba, berpacu dengan waktu untuk membuat vaksin Covid-19 yang aman dan efektif secepatnya, paling tidak rampung di tahun depan.

Sesungguhnya berapa lama lagi kita bisa mendapatkan vaksin itu? Untuk menjawab pertanyaan itu tidaklah mudah karena tidak semua proses pembuatan vaksin itu sama. Namun semua syaratnya sama: vaksin harus aman dan efektif.

Para peneliti kini sedang menguji coba 40 vaksin untuk tahapan uji klinis terhadap manusia dan sedikitnya ada 92 vaksin pra-klinis dalam tahap penelitian terhadap hewan.

Penelitian untuk membuat vaksin Covid-19 sudah dimulai sejak Januari lalu setelah genom virus SARS-CoV-2 diumumkan secara global. Vaksin pertama yang diuji coba ke manusia sudah dimulai sejak Maret lalu.

Perjalanan masih panjang dan penuh ketidakpastian. Sebagian vaksin bisa berakhir tanpa hasil jelas. Walaupun sejumlah vaksin bisa berhasil memicu sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi yang efektif melawan virus corona.

infografis berbagai negara sedang membuat vaksin corona

infografis berbagai negara sedang membuat vaksin corona

infografis berbagai negara sedang membuat vaksin corona

Infografis daftar negara pembuat vaksin corona ©2020 Merdeka.com

Dilansir dari laman the New York Times dan Bloomberg, berikut status dari keseluruhan vaksin yang sudah mencapai tahapan uji coba ke manusia.

Tahapan Pra-Klinis: Ilmuwan menguji coba vaksin baru ke hewan seperti tikus atau monyet untuk melihat bagaimana respons sistem kekebalan tubuhnya. Saat ini ada 92 vaksin yang sudah terkonfirmasi di tahap ini.

Tahap 1 Uji Coba Keamanan: Ilmuwan memberi vaksin kepada segelintir orang untuk menguji keamanan dan dosisnya serta memastikan vaksin itu berhasil memicu sistem kekebalan tubuh.

Tahap 2 Uji Coba Diperluas: Ilmuwan memberi vaksin kepada ratusan orang dibagi menjadi kelompok anak-anak dan lansia untuk melihat bagaimana respons mereka. Uji coba ini untuk memastikan keamanan vaksin dan kemampuannya memicu sistem kekebalan tubuh

Tahap 3 Uji Coba Efektivitas: Ilmuwan memberi vaksin kepada ribuan orang dan menunggu bagaimana mereka bisa terinfeksi dibanding sukarelawan yang sudah menerima obat. Uji coba ini bisa mengetahui apakah vaksin bisa melindungi orang dari virus corona. Juni lalu Badan Pengawas Obat-Obatan AS (FDA) mengatakan setidaknya vaksin harus mampu melindungi 50 persen dari orang yang sudah diberi vaksin.

Persetujuan terbatas:
China dan Rusia sudah menyetujui penggunaan vaksin tanpa menunggu hasil uji coba tahap ketiga rampung. Para ahli mengatakan langkah ini berisiko.

Persetujuan:
Penentu kebijakan di setiap negara mengevaluasi hasil uji coba untuk menentukan apakah vaksin itu bisa disetujui atau tidak. Di masa pandemi sebuah vaksin bisa mendapat persetujuan darurat sebelum persetujuan resmi. Ketika vaksin sudah diberi lisensi para peneliti akan memantau orang-orang yang sudah diberi vaksin untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.

Data status vaksin keseluruhan saat ini:

Tahap 1 ada 26 vaksin
Tahap 2 ada 14 vaksin
Tahap 3 ada 10 vaksin
Disetujui untuk penggunaan terbatas ada 5 vaksin.
Disetujui untuk penggunaan penuh belum ada.

Vaksin Corona Asal China Dipasarkan Desember

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi China kemungkinan akan mulai ada di pasaran pada akhir Desember nanti dengan harga Rp 2 juta untuk dua kali dosis suntikan.

Kepala Grup Farmasi Nasional China (Sinopharm) Liu Jingzhen mengatakan kepada media pemerintah, vaksin itu kini sedang dalam tahap uji ketiga dan yang terakhir. Vaksin ini akan tersedia di pasaran mulai akhir Desember setelah semua tahapan uji coba rampung dan akan diproduksi sebanyak 220 juta dosis per tahun.

"Setelah uji coba tahap ketiga usai, kita bisa daftarkan vaksin "non aktif" ini," kata Liu, seperti dikutip harian Guangming Ribao.

"Menurut estimasi kami, akhir tahun ini vaksin sudah bisa ada di pasaran."

"Ketika sudah ada di pasaran maka harganya tidak akan terlalu mahal, hanya beberapa ratus yuan per suntikan," kata Liu, seperti dilansir laman The Times, Rabu (19/8). "Kalau dua kali suntikan maka harganya mencapai 1000 yuan (setara Rp 2 juta)."

Liu mengatakan dia sendiri sudah disuntik dua kali dengan vaksin itu dan tidak mengalami dampak sakit apa pun.

Vaksin buatan China ini dalam kondisi "non-aktif" artinya itu adalah virus yang dikembangkan di laboratorium dan kemudian dibunuh. Vaksin "non-aktif" dikenal sudah digunakan untuk menangani berbagai penyakit seperti influenza, campak, dan rabies.

Vaksin jenis ini biasanya sedikit kurang efektif dibanding "vaksin aktif", maka itu artinya perlu beberapa dosis untuk membuat vaksin ini efektif.

Dua kali suntikan paling direkomendasikan karena jika hanya sekali itu hanya melindungi 97 persen saja. Jarak antara suntikan pertama da kedua biasanya bertahan selama 28 hari.

Dalam kasus tertentu, dua kali suntikan bisa langsung dilakukan, satu di lengan kiri dan satu di lengan kanan. Masing-masing takarannya empat mikrogram vaksin

Liu mengatakan, Institut Produk Biologi Beijing bisa memproduksi hingga 120 juta vaksin "non aktif" dalam setahun. Kemudian Institut Produk Biologi Wuhan bisa memproduksi tambahan 100 juta vaksin.

WHO Akui Keampuhan Vaksin Sputnik V Milik Rusia

Sputnik V, vaksin Covid-19 pertama yang terdaftar secara resmi buatan Rusia, dan dikembangkan oleh Institut Penelitian Sains Epidemiologi dan Mirkobiologi Gamaleya, kini tengah memasuki tahap ketiga uji klinis yang melibatkan 2.000 sukarelawan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) berterima kasih pada Rusia karena telah mengembangkan vaksin yang aman dan efektif itu.

“WHO sangat mengapresiasi upaya yang telah dilakukan Rusia dalam mengembangkan vaksin untuk melawan Covid-19 yaitu Vaksin Sputnik V, sekali lagi saya ingin berterima kasih kepada Rusia atas upaya yang sangat baik untuk menciptakan vaksin yang aman dan efektif,” jelas Direktur Regional Eropa WHO, Hans Kluge setelah bertemu dengan Menteri Kesehatan Rusia Mikhail Murashko, demikian dikutip dari Sputnik, Senin (21/9).

Hans juga mengatakan bahwa Rusia telah membantunya memberikan bantuan kepada negara-negara Asia Tengah di saat pandemi, dan secara umum telah menunjukkan komitmennya terhadap solidaritas global.

Kementerian Kesehatan Rusia telah memastikan vaksin tersebut menjalani semua pemeriksaan yang diperlukan dan terbukti mampu membangun kekebalan terhadap virus setidaknya selama dua tahun.

Rusia kini telah menerima permintaan satu miliar dosis vaksin dari setidaknya 20 negara. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini