Cinta Berdarah Prada DP

Jumat, 9 Agustus 2019 07:11 Reporter : Irwanto
Cinta Berdarah Prada DP Ilustrasi Prada DP Pembunuh. ©2019 Merdeka.com/Djoko Purwanto

Merdeka.com - Langit sudah gelap. Fera Oktaria baru saja selesai kerja. Hari itu ada perasaan berbeda. Hatinya sedang campur aduk. Menanti kedatangan kekasihnya, seorang tentara muda. Mereka berjanji akan menikmati malam berdua di sebuah penginapan. Memadu kasih, melepas rindu.

Tentara muda penuhi janji. Berpangkat Prada, bernama Deri Pramana (Prada DP). Dia tiba sekitar jam 9.30 malam, Selasa 7 Mei 2019. Tanpa menggunakan kendaraan. Prada DP di depan minimarket tempat kerja Fera di kawasan Jalan Sudirman, Palembang.

Usia Prada DP menginjak 22 tahun. Setahun di atas Fera. Sudah lama keduanya tak bertemu. Waktu tentara muda itu banyak dihabiskan di Rindam II/Sriwijaya Baturaja, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Pertemuan malam itu menjadi momen bahagia bagi mereka.

Kepergian Prada DP dari pasukan ternyata bermasalah. Dia kabur tak berizin. Semua dilakukan agar bisa menemui pujaan hatinya. Ingin melepas rindu.

Menunggangi sepeda motor milik Fera, sejoli ini berjalan menuju penginapan Sahabat Mulia di kawasan Sungai Lilin, Musi Banyuasin. Cukup panjang perjalanan mereka tempuh dari tempat kerja Fera. Setibanya di lokasi, sebuah kamar langsung dibayar.

Di kamar itu mereka bercumbu. Melakukan hubungan layaknya suami istri. Sampai dua kali. Semua perasaan rindu terlampiaskan dalam pergulatan badan. Sejoli itu saling memanjakan.

Bersantai sejenak, Prada DP meminjam ponsel milik Fera. Sekedar memeriksa isi ponsel kekasihnya. Memasukkan angka sandi yang telah disepakati. Tanggal pacaran mereka: 091914. Beberapa kali mencoba, sandi itu salah. Tanpa sepengetahuannya, sandi itu telah diubah. Tentara muda itu mulai berulah.

Dara manis itu dibentak. Prada DP kesal lantaran kode itu diubah. Dia curiga sang kekasih punya pacar lagi. Masalah sepele pun berujung cekcok besar. Padahal baru saja melepas rindu di kamar. Ternyata tidak cukup membuat sang pria rileks. Justru emosi, merasa ini masalah kompleks.

Prada DP memakai baju tahanan militer 2019 Merdeka.com

Sudah lama Prada DP dikenal pemarah. Pria ini juga pencemburu dan kasar kepada Fera. Perdebatan mengenai ubah sandi, Fera justru beri jawaban lain. Gadis manis itu mengaku hamil dua bulan dan meminta segera dinikahi. Pengakuan Fera justru membakar amarah.

"Kamu mau enak saja. Berhubungan (badan) terus. Kapan kamu mau nikahi saya! Sekarang saya sudah hamil dua bulan," ucapan Fera kepada Prada DP yang sedang emosi.

Prada DP bak dirasuki setan. Dia naik pitam. Di tengah perdebatan, kepala Fera langsung dibenturkan ke dinding hingga pingsan. Dalam keadaan emosi, tentara muda membekap mulut sang kekasih hingga tewas. Rasa cinta Prada DP malah berujung petaka.

Sadar nyawa Fera telah tiada, Prada DP panik. Mencoba menghilangkan jejak kekasihnya. Di pikiran hanya ada dua jalan. Memutilasi dan bakar jasad Fera. Berharap korban tidak dikenal identitasnya dan dia lolos dari jeratan hukum.

Menghapus Jejak Pembunuhan

Jasad Fera sudah penuh darah dan tanpa busana. Prada DP meninggalkan mayat itu sendiri. Keluar mengambil gergaji di gudang penginapan. Kembali ke kamar lalu mulai beraksi. Satu per satu bagian tubuh Fera dipotong. Pikirannya sudah gelap. Seolah tak ada lagi rasa kasihan di hatinya.

Gergaji pinjaman itu tiba-tiba patah. Tak bisa dipakai lagi. Prada DP tidak habis akal. Dia keluar menuju pasar. Membeli gergaji dan koper besar untuk menyimpan hasil potongan mayat Fera nanti.

Menggunakan sepeda motor, dia tiba di pasar. Semua peralatan sudah dibeli. Di pasar itu Prada DP sempat membeli buah jeruk, kemudian kembali ke penginapan. Melanjutkan aksi keji. Memotong tubuh Fera lagi.

Perlahan jasad wanita kesayangannya kembali dipotong. Memang sudah gelap pikiran dan hatinya. Prada DP hanya ingin selamat. Lolos dari jeratan hukum kasus pembunuhan. Sayang, percobaan kedua gagal. Gergaji baru dibeli itu patah saat memotong bagian tangan Fera.

Tentara muda itu kelelahan. Memotong tubuh manusia ternyata memakan banyak tenaga. Dia lantas bersandar. Menonton televisi sambil menyalakan sebatang rokok dan memakan jeruk baru dibelinya tadi. Sesekali menatap mayat kekasihnya dalam keadaan terpotong-potong di sebelahnya.

Tiap embusan asap rokok otaknya berpikir. Mencari cara menutupi kematian kekasihnya. Stres mencari ide, tentara muda pembunuh ini menelepon Imam, teman dekatnya. Lewat sambungan telepon, Prada DP mengaku membunuh Fera dan meminta bantuan.

Imam kaget dengar pengakuan itu. Bukannya menasihati, temannya justru menyarankan untuk membakar. Mereka bertukar pikiran, menyusun strategi.

Usulan itu segera dilakukan. Prada DP kembali belanja keperluan. Membeli obat nyamuk bakar dan bensin pertalite. Kembali ke kamar, lalu merobek kasur. Sebelum dimasukkan, tubuh Fera disiram memakai bensin. Kemudian dia memasukkan mayat pacar ke kasur.

Obat nyamuk bakar disusun sedemikian rupa. Dibakar berbarengan. Namun, cara itu kembali gagal. Api di obat nyamuk justru padam. Tidak membuat api bergolak besar. Jasad Fera batal dibakar.

Kesal gagal membakar, Prada DP akhirnya memasukkan potongan tubuh Fera ke koper. Ternyata koper itu tak mampu memuat jasad korban. Usaha menghilangkan jejak itu berkali-kali gagal.

Tenaganya mulai lelah. Sudah semalaman Prada DP coba menghilangkan jejak kematian. Dia kembali beristirahat dan berpikir cara lain. Menyalakan rokok sambil makan jeruk dan menonton tayangan televisi lagi. Sedangkan jasad Fera dibiarkan di dalam koper. Berada di sampingnya.

Pikirannya sudah buntu. Tak ada ide lagi. Pilihan terakhir hanyalah kabur. Meninggalkan mayat Fera di dalam kamar. Tujuan Prada DP pergi ke Kota Serang, Banten. Ingin bertaubat sebagai bentuk penyesalan perbuatannya.

Sebelum pergi, Prada DP sempat mampir ke rumah kerabatnya bernama Dodi. Di sana dia bertemu dengan Imam. Kemudian sekitar pukul 3 sore, datang Elsa dan Sahir, bibi dan paman Prada DP. Elsa datang setelah dihubungi Dodi pada 8 Mei 2019.

Pertemuan itu membuat Prada DP menangis. Memeluk erat bibinya. Sebelum bertemu, Elsa terlebih dulu dapat kabar dari keluarga Fera bahwa perempuan itu hilang. Elsa pun menanyakan keadaan itu. Tentara muda itu mengaku tidak tahu. "Saya tanya ke DP, tahu tidak di mana Fera. Dia cuma bilang 'tidak tahu'," ujar Elsa.

Hampir satu jam mereka bertemu. Setelah itu Elsa dan suaminya memutuskan pulang. Di tengah perjalanan, Sahir memberitahu Elsa bahwa Prada DP membunuh Fera. Wanita itu kaget. Lalu menelepon orangtua keponakannya itu. Dari Palembang ibunda Prada DP langsung menuju rumah Dodi di Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin.

Sekitar pukul 9 malam, keluarga Prada DP berkumpul di rumah Dodi. Prada DP nangis makin menjadi-jadi. Dia meminta maaf kepada keluarganya lantaran berbuat keji. Menghabisi nyawa kekasihnya sendiri.

Dari pertemuan itu, Prada DP diajak pulang keluarga. Namun, di tengah jalan dia minta turun dengan Dodi. Sedangkan Imam naik motor, berpisah dengan rombongan.

Sebelum turun, Elsa sempat memberikan uang Rp2 juta buat Prada DP. Duit itu diserahkan melalui Dodi. "Setelah itu saya tidak tahu lagi kabarnya. Baru 2 minggu kemudian saya dikabari DP ada di Serang," ungkap dia.

Fakta Sidang Prada DP

Jumat pagi, 8 Mei 2019. Mayat Fera baru ditemukan pengelola penginapan. Setelah bau busuk menyengat dari kamar ditempati mereka berdua. Kondisinya sangat mengenaskan. Kejadian itu segera dilaporkan dan membuat geger masyarakat sekitar.

Tidak sulit mengungkap pelaku pembunuhan. Petugas langsung menemukan titik terang siapa pelaku mutilasi itu. Nama Prada DP sudah di tangan. Namun, petugas tidak bisa langsung menangkap. Mereka harus menelusuri jejak kepergian tentara muda itu.

Prada DP menjalani persidangan 2019 Merdeka.com/Irwanto

Hampir sebulan Prada DP buron. Pada Kamis, 13 Mei 2019, akhirnya dia berhasil diciduk ketika berada di sebuah padepokan kawasan Serang, Banten. Tanpa ada perlawanan berarti, pria itu ditangkap. Kasusnya lalu disidangkan ke Pengadilan Militer I-04 Jakabaring Palembang.

Memakai seragam lengkap, sidang Prada DP digelar pada Kamis, 1 Agustus 2019. Statusnya resmi sebagai terdakwa. Dalam dakwaan dibacakan Oditur Mayor D Butar Butar, ada beberapa fakta baru terungkap.

Prada DP kabur sejak 4 Mei 2019. Dia menuju Palembang dan tinggal di indekos. Sebelum membunuh Fera, pria itu sempat bermalam bersama perempuan bernama Sherly. Sosok ini merupakan mantan pacarnya. Pertemuan mereka terjadi malam hari tanggal 6 Mei 2019. Wanita itu mengaku hanya satu malam tidur bersama.

Semua berubah ketika waktu Subuh. Prada DP meninggalkan Sherly. Menguncinya dari luar. Perempuan itu panik, berteriak minta tolong warga sekitar. Beruntung dia terselamatkan. Segera Sherly kembali ke asrama kampus. Sayangnya, ponsel miliknya dibawa Prada DP. Kemudian Prada DP mengembalikan ponsel tersebut lewat temannya tanpa memberi alasan jelas.

Oditor Mayor Butar-Butar mengungkapkan sejak awal Prada DP kabur dinas memang untuk bertemu Fera. Dari pengakuan ibunda Fera diketahui bahwa keluarga tidak setuju pasangan ini merajut kasih.

Mereka punya alasan kuat melarang Fera berhubungan dengan Prada DP. Sikap temperamental tentara muda itu menjadi penyebab. Tak ingin gadis manis itu bernasib ngenas. "Sering kasar, orangnya cemburuan," kata ibunda Fera, Suhartini, menggambarkan perilaku kekasih putrinya.

Pernah suatu hari Prada DP marah besar di depan rumah Fera. Kepala pemuda itu sampai dibenturkan ke gerbang besi. Berkali-kali. Membuat seisi rumah keluar karena mendengar suara gaduh. Suhartini bergegas, takut anak perempuan kesayangannya mengalami penganiayaan.

Perasaan ibu itu lega. Ternyata anak gadisnya bukan sedang dianiaya. Cekcok antara Fera dan Prada DP kemudian menjadi perhatian penting keluarga. Kedua sejoli budak cinta itu kemudian dipisahkan.

Orangtua sempat melarikan Fera ke Bengkulu pada 2017. Dua tahun menjalin cinta dengan Prada DP, menjadi masa paling kelam bagi dara berusia 21 tahun tersebut. Sejoli ini kerap cekcok. Semua karena ulah sang pria. Pencemburu dan kasar.

Kekhawatiran ibunda Fera benar. Emosi Prada DP tak terkendali. Kekerasan dalam pacaran terjadi.

Imelda, sahabat Fera, banyak mendengar cerita tentang sikap kasar Prada DP. Bahkan pernah suatu waktu, Fera diancam akan dibunuh bila memiliki pasangan lagi. Sikap posesif itu membuat Fera takut dan ingin kabur dari jerat cinta si tentara muda. "Mereka saya lihat bertengkar di rumah korban, korban dicekik." ujar Imelda saat di persidangan.

Ternyata jarak tak melunturkan rasa cinta sang tentara muda. Obsesinya sangat besar untuk hidup bersama Fera. Prada DP terus mengejar. Bahkan sempat menjemput ke Bengkulu. Memaksa Fera hadir saat pelantikannya sebagai anggota TNI di Kabupaten Lahat. Meski Fera akhirnya menolak datang.

Menurut Imelda, Fera baru kembali ke Palembang pada Januari tahun ini. Itupun terpaksa. Fera benar-benar takut dengan segala tindak-tanduk Prada DP. Membuat kehidupannya tidak tenang.

Hidup di Palembang setidaknya membuat Fera lebih aman. Merasa terlindungi lantaran dekat keluarga dan banyak teman. Mengurangi sedikit ketakutan. Gadis itu pun tengah menikmati pekerjaan baru sebagai kasir minimarket.

Selama kerja, Fera dikenal pulang tepat waktu. Dia paling sering dijemput kakaknya, Putra Baladewa. Sampai suatu hari keluarga Fera mendapat kabar Prada DP kabur dari barak pendidikan.

Suhartini mengaku dapat kabar dari atasannya Prada DP. "Kami mulai curiga dan cemas. Saya pesan ke Fera hati-hati, dia ini buronan. Saya bilang pulang kerja dijemput saja, tapi dia mau," ungkap Suhartini.

Sampai pada hari pertemuan Fera dan Prada DP. Kakak Fera, Putra Baladewa, mengaku sempat datang ke kantor adiknya untuk menjemput. Sayang dia kalah cepat. Adik tercintanya sudah dibawa kabur si tentara muda.

Kecemasan itu berakhir kesedihan. Keluarga mendapat kabar jasad korban ditemukan di Musi Banyuasin setelah beberapa hari tak pulang ke rumah. Keluarga tak terima Fera tewas dalam kondisi mengenaskan. "Saya minta dihukum mati. Fera anak bungsu saya, dia harapan keluarga," ucap Suhartini berharap.

Dalam persidangan, majelis hakim tidak bisa menghadirkan Imam. Oditor Mayor Butar-Butar mengungkapkan, sosok pemberi saran Prada DP untuk membakar Fera itu telah meninggal. Terungkap pula dalam sidang bahwa Fera tidak dalam kondisi sedang hamil.

Kondisi itu terlihat dari bukti visum dan otopsi dokter forensik dari rumah sakit Bhayangkara Palembang. "Hasil visum menunjukkan korban meninggal akibat mati lemas dan mengalami benturan keras di kepala. Korban dalam kondisi tidak hamil," kata Oditur.

Harapan keluarga agar pelaku dihukum mati seakan sesuai dengan hasil sementara persidangan. Oditur Mayor D Butar Butar dalam sidang mengungkapkan bahwa Prada DP terancam hukuman mati. Dia bakal dikenakan pasal berlapis, yakni Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan.

Dakwaan perencanaan itu ketika terdakwa kabur dari pendidikan kejuruan Infanteri di Baturaja, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Kemudian, dia berangkat ke Palembang dan menjemput korban di tempatnya bekerja. "Kami menilai terdakwa merencanakan pembunuhan." [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini