Cerita di Balik Layar Deklarasi Alumni

Senin, 18 Februari 2019 08:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Cerita di Balik Layar Deklarasi Alumni Jokowi hadiri Deklarasi Alumni Trisakti. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - WhatsApp Grup bernama 'Peduli NKRI' jadi awal lahirnya dukungan alumni SMA se- Jakarta untuk pasangan capres-cawapres Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. Dikelola sekelompok orang. Mayoritas mereka alumni SMA negeri di ibu kota.

Salah seorang pengurus, Donna H Pediarto, sudah lama kerap berbincang lewat media sosia dengan sesama pendukung kubu 01. Dia alumni SMA Negeri 3 Jakarta. Kemudian mengajak beberapa teman lintas alumni SMA membuat komunitas pendukung. Seperti Bobby Indroharto dari SMA 6, Dede Radinal dari SMA 4 dan Indra Soeharto dari SMA 3.

Pertemuan awal kediaman Dede pertengahan tahun 2018 lalu. Empat sekawan ini memang fans berat Jokowi. Berada dalam pandangan politik yang sama. Mereka tahu banyak temannya juga mendukung Jokowi tapi bergerak sendiri.

Lantas ide membangun komunitas lebih besar pun muncul. Pikirnya, dengan bersatu akan lahir kekuatan besar dan bergerak sporadis untuk memenangkan Jokowi pada pemilu 17 April mendatang. Dari pertemuan itu, mereka sepakat membuat grup sosial media baru.

Mereka mengajak teman sepemikiran lainnya untuk ikut bergabung. Saling tukar informasi tentang sang idola. Sayangnya, pergerakan dukungan untuk mantan Wali Kota Solo ini sempat terhenti. Sebab para penggagas sibuk urusan masing-masing.

Tanggal 7 November 2018, Komunitas Ikatan Alumni Universitas Indonesia menyatakan dukungan pada pasangan calon capres-cawapres Prabowo Subianto- Sandiaga Uno. Dihadiri langsung oleh cawapres Sandiaga. Kabar deklarasi itu sampai ke telinga Donna dan kawan-kawan. Mereka terusik lantaran tak semua Alumni UI sependapat. Lalu mereka kembali membuat pertemuan pada 24 Desember 2018.

Setidaknya ada 20 alumni SMA di Jakarta datang. Muncul ide melakukan deklarasi dukungan kepada Jokowi atas nama SMA se-Jakarta. Setelah pertemuan itu, mereka lantas menentukan strategi dan membuat posko-posko pemenangan. "Kami sepakat deklarasi hanya bagian kecil dari kegiatan kami bukan jadi tujuan utama," cerita Donna pekan lalu kepada merdeka.com.

Ragam kegiatan mulai dilakukan untuk mengumpulkan massa. Lewat sosial media, tatap muka hingga membuat acara tonton bareng debat perdana capres-cawapres. Sosialisasi banyak dilakukan lewat media sosial Facebook. Sehari ada 20 alumni SMA mendaftar. Hingga tercatat ada 12 ribu alumni dari 370 sekolah. Tiap sekolah mengirimkan nama ketua koordinator dan ketua presidium.

"Kami ini yang memiliki kecintaan terhadap negeri ini, keprihatinan yang sama juga punya semangat dan mimpi yang sama," kata Donna. Dia berharap, aksi nyata para alumni SMA se-Jakarta bisa membantu meningkatkan elektabilitas Jokowi di kalangan pemilih berpendidikan lebih baik.

Setelah mendeklarasikan dukungan pada 7 Februari lalu, para alumni SMA se-Jakarta ini sepakat memenangkan Jokowi di wilayah masing-masing. Bukan saja tempat mereka tinggal, tetapi juga mengajak teman satu almamater untuk mendukung Jokowi. Utamanya di kantong suara di Jakarta yang dianggap masih lemah.

Dukungan ini sekaligus menegaskan bahwa paslon nomor urut 01 juga didukung pemilih berlatarbelakang pendidikan baik. Apalagi hasil lembaga survei Median mencatat paslon Jokowi-Ma'ruf didukung 55,1 persen pemilih tidak tamat SD dan 51,9 persen. Sementara penantangnya paslon Prabowo-Sandi didukung 31,3 persen pemilih tidak tamat SD dan 37,4 persen tamat SD.

Rebutan Alumni PL

Gelombang dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf dari alumni lembaga pendidikan makin bermunculan. Salah satunya dari Alumni SMA Pangudi Luhur. Tempat Sandiaga menempuh pendidikan semasa SMA. Kelompok itu mengaku sebagai 'Alumni PL BerSATU'. Mereka mendeklarasikan dukungan kepada petahana Jokowi pada 6 Februari lalu.

Tentu tidak semua alumni PL setuju. Frans Mohede salah seorang di antaranya. Sebagai lulusan PL angkatan 1994, dia tidak sependapat dengan teman-temannya lain. Kabar adanya dukungan Alumni PL untuk Jokowi sudah didengar jauh-jauh hari.

Vokalis grup Lingua ini meyakini tidak semua alumni PL memiliki pandangan politik yang sama. Apalagi cawapres penantang Jokowi, Sandiaga memakai almamater Pangudi Luhur. Lalu muncul ide untuk melakukan deklarasi serupa. Frans mulai mencari teman. Dia hubungi satu per satu alumni PL. Menanyakan langsung pilihan politiknya. Tak jarang Frans mendapati teman beda pilihan. Namun, dia tak kecewa. Sebab tak ingin persaudaraan PL jadi renggang hanya karena beda pilihan politik.

Usahanya mengumpulkan alumni PL berbuah manis. Meski tak banyak, namun dia bisa menggaet mantan Kepala Staf Umum TNI Johannes Suryo Prabowo dan Biem Triani Benjamin, anak dari aktor betawi Benyamin Sueb. Lalu mereka bertemu sambil silaturahim. Dalam pertemuan itu, ketiganya sepakat membuat perkumpulan bernama 'Brotherhood for Sandi' (Bro Sandi).

Tanggal 13 Februari akhirnya mereka mengundang Sandiaga dalam acara kumpul-kumpul. Semula mereka ingin mengadakan deklarasi. Atas permintaan Sandiaga, deklarasi urung dilakukan. Sandi ingin pertemuan itu hanya sebatas dukungan dan ingin lebih banyak diskusi dan mendengar saran.

"Kemarin kita tidak ada deklarasi, lebih banyak diskusi, dialog dan selamatan, potong tumpeng, doa bersama," kata Frans saat pekan lalu.

Frans mengaku kehadiran Bro Sandi sebagai penyeimbang di tahun politik. Meski jumlahnya baru 56 orang, tapi ini sebagai penegasan keberadaan Alumni SMA Pangudi Luhur juga mendukung paslon nomor urut 02. Meski tanpa deklarasi, Frans memastikan, perkumpulan Bro Sandi akan berjuang memenangkan Prabowo-Sandi dengan cara masing-masing.

Tidak Kreatif

Pengamat politik Adjie Alfaraby menilai deklarasi alumni semata mencari dukungan kalangan terdidik. Kegiatan itu dianggap membosankan. Kurang kreatif. Sebab, mengandalkan almamater sekolah untuk menarik perhatian. Berharap pemilih yang belum menentukan sikap politik bisa terpengaruh.

Sayangnya, gerakan simbolik ini tidak memiliki efek elektoral. Lantaran pemilih terdidik berkarakter rasional, mandiri, independen dan tidak mudah terpengaruh dengan cara tersebut.

Bila mereka menyasar pemilih rasional, Adjie menegaskan, ini tidak akan efektif. Sebab dengan sendirinya mereka akan mencari tahu rekam jejak personal dan mengevaluasi visi misi serta program yang ditawarkan.

Bagi tiap tim pemenangan, mereka ingin jagoannya didukung kalangan terpelajar. Biar terlihat didukung banyak orang pintar. "Mungkin juga kesannya kandidat kurang rasional atau proker enggak rasional," kata Adjie.

Sementara itu, Pengamat politik Usep Ahyar, memberikan catatan dan kritik pada alumni perguruan tinggi. Dukungan politik dari alumni lembaga pendidikan harusnya memiliki argumentasi untuk menjelaskan alasan dukungan. Sebagai orang yang pernah duduk di bangku kuliah seharusnya bisa memberikan pembelajaran politik kepada masyarakat. Agar bisa jadi penyeimbang opini publik.

"Jadi jangan sampai dukung mendukung tanpa argumentasi ilmiah karena mengatasnamakan alumni perguruan tinggi," kata Usep.

Usep menilai perlu adanya uji publik sebelum menyatakan dukungan. Misalnya dengan melakukan uji visi misi. Meski sudah terikat oleh lembaga pendidikan, tapi dia berharap ada tanggung jawab moral para alumni dalam bersikap membawa nama almamater tercinta. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini