CCTV saksi bisu penjemputan Mbah Fanani dari Dieng

Jumat, 21 April 2017 09:07 Reporter : Desi Aditia Ningrum
Petilasan Dampu Awang. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Warga Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara sangat kehilangan dengan dibawanya Mbah Fanani ke Indramayu pada Rabu (12/4) malam. Mbah Fanani sudah sekitar 20 tahun bertapa di desa tersebut.

Tenda yang terbuat dari terpal 1x2 meter itu kini tak berpenghuni. Dalam 20 tahun terakhir, Mbah Fanani meringkuk dalam sarung di tenda.

Uripah, orang yang rumahnya di belakang tenda mbah Fanani tidak bersedia menjelaskan peristiwa malam penjemputan itu. Dia pun mengatakan tidak mengetahui siapa yang menjemput mbah Fanani.

"Saya nggak tahu siapa," ucapnya singkat sambil berlalu.

Tenda tempat Mbah Fanani bertapa di Dieng Kulon©2015 merdeka.com/desi aditia ningrum

Selama ini, Uripah yang memberi makan dan minum Mbah Fanani. Dia meneruskan kebiasaan almarhum orangtuanya mengurus Mbah Fanani.

Hal yang sama juga diungkap oleh Surip (40), bahwa tak ada warga satu pun tahu kalau Mbah Fanani dibawa. Saat itu Mbah Fanani dibawa pada pukul 23.00 WIB. Rumah Surip juga dekat dengan tenda pertapaan Mbah Fanani di Jalan Dieng Kulon.

Esok harinya warga tahu dari cerita Uripah. Malam itu Uripah mendengar drum yang di depan tenda mbah Fanani jatuh. Setelah itu terdengar pula suara mbah Fanani seperti meronta. Uripah kemudian keluar menanyakan akan dibawa ke mana Mbah Fanani. Tapi saat itu Mbah Fanani sudah berada di dalam mobil.

Menurut Surip banyak yang janggal dari dibawanya Mbah Fanani. Warga pun heran mengapa penjemputan mbah Fanani dilakukan pada malam hari. Selain itu tidak ada izin terlebih dulu kepada perangkat desa setempat. Padahal meski tidak pernah berkomunikasi, mereka menganggap pria asal Cirebon itu adalah bagian dari warga Dieng Kulon.

Anehnya malam itu sepi. Padahal biasanya selalu ramai warga lantaran daerah itu merupakan tempat wisata. Namun tak disangka kejadian itu terekam oleh CCTV Bank Surya Yudha yang berjarak 10 meter dari lokasi Mbah Fanani bertapa. Beberapa warga termasuk Surip kemudian melihat CCTV tersebut.

Pada CCTV terlihat Mbah Fanani dibopong ke dalam mobil. Ada 4 mobil yang menjemput Mbah Fanani. Tapi Surip tidak terlalu memperhatikan berapa orang yang menjemput mbah Fanani.

"Kalau dilihat dari cara bawa nya dia bisa dibilang kriminal," ujar Surip berbincang dengan merdeka.com di Dieng, Kamis (20/4).

Tenda tempat Mbah Fanani bertapa di Dieng Kulon©2015 merdeka.com/desi aditia ningrum

Kata dia, warga hanya ingin kepastian dibawanya pergi mbah Fanani apakah masa bertapa di Dieng habis atau bakal balik lagi. Tapi kepastian itu tidak didapatkan lantaran dibawa secara diam-diam.

Lebih lanjut, kalau yang menjemput keluarga seharusnya sebelum membawa Mbah Fanani ada silaturahmi dengan warga Dieng. Khususnya dengan keluarga Uripah yang selama ini mengurus. Tapi pada kenyataannya hal itu tidak dilakukan.

Warga Dieng Kulon khawatir mbah Fanani dimanfaatkan 'kelebihannya' oleh sekelompok orang. Sebab sedari dulu Mbah Fanani kerap kali dikunjungi oleh orang dari berbagai daerah.

Banyak orang mengakui mbah Fanani mempunyai 'kelebihan'. Meski di luar nalar, tapi yang terlihat jelas adalah selama puluhan tahun dia tinggal di tenda cuma bersarung tipis kuat menahan dinginnya cuaca Dieng. Menurut Surip bila orang biasa semalam saja pasti tidak akan tahan. Selain itu, hanya rambutnya yang tumbuh memanjang. Sedangkan kuku, kumis dan jenggot tidak memanjang. Kala hujan deras, tenda mbah Fanani tidak pernah ke masukkan air. Padahal jalanan depan tendanya tergenang. Warga juga tak mencium bau kotoran atau aroma tak sedap lainnya. Umumnya sekian lama tinggal bau menyengat akibat kotoran, tempat yang lembab atau badan akan tercium bau menyengat.

Jika manusia biasa ketika makan dan minum akan mengeluarkan kotoran. Tapi saat Surip dan warga lain membersihkan tenda, setelah mbah Fanani dibawa tak terlihat ada kotoran di dalamnya.

"Warga bareng-bareng bersihin ternyata nggak becek, nggak tergenang air. Nggak ada kotoran," katanya.

Selama ini warga tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran mbah Fanani. Prinsip warga setempat jika orang tidak mengganggu mereka pun tidak akan mengusik. Terlebih Mbah Fanani sebelumnya sudah dikenal petapa. Sebelum di tenda depan rumah warga, dia selama dua tahun bertapa di bawah jembatan yang berjarak 500 meter dari tenda sekarang. Sebelum itu tapa di desa Stieng.

Dari jembatan ke depan rumah Uripah, kata Surip, mbah Fanani jalan jongkok. Saat itu dia hanya bersarung. Kemudian berhenti di depan rumah Uripah. Lalu orangtua Uripah memberikan plastik untuk melindunginya dari panas dan hujan.

Lantaran seringnya orang-orang mengunjungi mbah Fanani, plastik itu tidak pernah ditutup kembali. Akhirnya warga berinisiatif membangun tenda dari terpal.

Mbah Fanani hanya bersedia diberi makan oleh Uripah. Bila Uripah tidak mengantarkan makan ke tendanya maka dia tidak makan atau meminta. Selain Uripah, warga lain yang memberi makan tidak pernah dimakan.

Petilasan Dampu Awang ©2017 Merdeka.com

"Mungkin hatinya cocok sama Bu Uripah," ucap Surip.

Oleh karena itu warga heran ketika melihat postingan di media sosial, melihat mbah Fanani di Indramayu makan disuapi. Menurutnya, selama di Dieng tidak pernah minta suapi. Dia makan dan minum dengan sendirinya. Warga hanya bisa iba dengan mbah Fanani bila dimanfaatkan untuk kepentingan lain.

"Takutnya ujung-ujungnya kaya Dimas Kanjeng, nyari duit," ketusnya.

Warga Dieng akan merasa senang jika Mbah Fanani bisa balik lagi ke desa mereka. Menurutnya selama puluhan tahun bertapa warga tidak pernah memanfaatkan mbah Fanani. Dia yakin Uripah dan keluarganya pun tidak melakukan hal itu. Surip meyakinkan bahwa keluarga Uripah orang yang mampu secara ekonomi.

Meski sering banyak orang yang datang membawa makanan, minuman dan sarung, Uripah akan membagi-bagikan ke warga. Hal itu atas permintaan Mbah Fanani. Meski telah pergi namun masih ada orang yang datang ke tenda mbah Fanani. Bahkan mereka tidak percaya walau telah diberitahu sebelum masuk ke tenda tersebut. Warga berharap mbah Fanani sehat di tempat barunya. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Mbah Fanani
  2. Banjarnegara
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.