Napi Nusa Kambangan (4)

Bisnis pesakitan penunggu ajal

Senin, 10 November 2014 09:42 Reporter : Pramirvan Datu Aprillatu, Arbi Sumandoyo
Bisnis pesakitan penunggu ajal Ilustrasi Penjara. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Para tahanan asal Nigeria hampir semuanya merupakan jaringan narkotik internasional. Sudah terpasung di dalam jeruji besi dan pulau tersendiri, mereka mampu berlagak seperti raja. Semua permintaan mampu dilayani dengan baik.

Mereka di dalam penjara mudah menghamburkan uang. Saban kali mandi satu mobil bermuatan air minum isi ulang dipesannya dari Cilacap. "Semuanya pakai sistem e-banking untuk transaksi, dia punya komputer jinjing di dalam," kata seorang sumber merdeka.com di dalam Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dua pekan lalu. "Kalau cuma telepon seluler aja pasti punya."

Perlengkapan teknologinya tidak tanggung-tanggung. Untuk menghindari penyumbatan sinyal telekomunikasi di dalam penjara, para tahanan Nigeria itu merakit sebuah alat pemancar penguat sinyal.

Posisinya berada di sebelah gedung lembaga pemasyarakatan terbuka bersebelahan dengan penjara narkotik. Kongkalikong para napi Nigeria dengan napi jelang bebas. Mereka dikumpulkan di lembaga pemasyarakatan terbuka, penghuninya bisa bebas berkeliaran di pulau seluas 21 ribu hektare itu.

"Pemancarnya bisa menyadap frekuensi radio juga. Jadi siapa saja mau masuk Nusa Kambangan bisa diketahui dari pintu masuk melalui radio panggil," ujarnya.

Untuk perakitan alat tersebut, semua dimasukkan ke dalam penjara satu-satu bagian hingga nantinya dirakit oleh para napi Nigeria sendiri. Mereka kategori terkini untuk urusan perkembangan teknologi. "Dia rakit sendiri, sipir-sipir juga antar peretelennya," tutur sumber itu.

Di Nusa Kambangan semua tahanan memiliki hukuman minimal lima tahun dengan kasus berat. Kehidupannya lebih keras dibanding penjara di wilayah lain. Seorang tahanan kelas kakap berlagak seperti singa, diterbangkan ke Nusa Kambangan bisa berubah menjadi kucing rumahan. "Sekelas John Kei, sampai Nusa Kambangan masuknya disuruh jalan jongkok. Dia tidak sekuat seperti di Jakarta," katanya.

Di pulau bergunung kapur itu, napi asal Nigeria dikenal royal. Beberapa sipir bisa tergiur mengabdi kepada mereka. Kadang sesama tahanan lokal berebut menjadi centengnya. "Mau dapat duit, kerja sama dia bisa uangnya bulanan bro," ujar Rio, mantan penghuni Nusa Kambangan.

Tugasnya cukup melindungi atau sekadar menjadi pesuruh di dalam sel. Kerjanya nggak berat bisa dapat sejuta, kebutuhan sehari-hari ditanggung," kata pria dengan rajah di seluruh wajahnya itu.

Berkeliling di pulau, merdeka.com sempat melihat tempat eksekusi tembak para tahanan mati. Berbentuk kotak dikelilingi tembok polos setinggi dua meter. Luasnya hampir satu lapangan sepak bola dengan pos penjagaan di pojok area. "Itu tempat Amrozi cs ditembak di situ," kata seorang warga asli Nusa Kambangan enggan disebutkan namanya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah Asmirna Mirza Zulkarnain menegaskan pihaknya tidak mengistimewakan narapidana mana pun. Saat ini sudah menjadi larangan keras bagi pegawai menyalahgunakan wewenangnya. "Kita akan bertindak tegas, nggak ada yang diistimewakan." [fas]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini