Bisnis Parkir Liar 2

Bisa tajir meski cuma tukang parkir

Rabu, 2 Desember 2015 07:33 Reporter : Laurel Benny Saron Silalahi
Bisa tajir meski cuma tukang parkir Parkir liar di Pasar Cipulir. ©2014 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Sudah delapan tahun Gibson menjadi tukang parkir di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Saban hari dia menongkrongi salah satu jalan buat menyatroni kendaraan yang bakal parkir. Buat menjadi penguasa parkir di wilayah itu, Gibson harus duel dengan para preman-preman di daerah itu.

Bisa dibilang, penghasilannya saban hari mengalahkan pekerjaan kantoran. Jumlahnya cukup fantastis, setiap hari Gibson menerima setoran dari belasan anak buahnya sebesar Rp 1 juta. "Paling sedikit Rp 500 ribu," ujar Gibson saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu pekan kemarin. Penghasilan Gibson diperoleh dari area parkir pertokoan. Ada tujuh toko menjadi lahan duit buat Gibson.

Gibson mengaku, buat berada di posisinya saat ini tidak mudah. Nyawa menjadi taruhan. Cerita soal perebutan lahan itu pun dituturkan Gibson. Semua bermula dengan perkenalannya dengan temannya yang menjadi juru parkir di rumah makan kawasan Pondok Bambu.

Gibson yang tadinya merupakan pengamen mewarisi lahan parkir dari temannya untuk di jaga. Baru sehari menjaga, dia sudah di sambangi gerombolan pemuda mengaku preman di daerah itu. Gibson disuruh angkat kaki. Tak mau kalah, Gibson melawan gerombolan pemuda itu. Duel pun tidak terelakan. "Siapa kuat dia jadi penguasa," ujar Gibson

Singkat cerita, perkelahian itu dimenangkan oleh Gibson. Apalagi dari kejadian itu namanya makin dikenal dan ditakuti di wilayah Pondok Bambu. Kesempatan buat melebarkan kekuasaan dimanfaatkan oleh lelaki memiliki tato bergambar rantai ini. Daerah kekuasaannya dia lebarkan. Sebanyak tujuh buah lapak parkir pertokoan dikuasai Gibson.

"Sampai kaki patah, muka bonyok, badan kena bacok sudah saya rasakan," tuturnya. Hanya menongkrongi saja, Gibson kini bisa mendapatkan uang sehari Rp 500 ribu. Uang itu dia dapat dari setoran anak buahnya mengelola lahan parkir.

Meski demikian, Gibson mengaku jika lahan parkir dia kuasai merupakan legal dengan izin pemerintah kota Jakarta Timur. Apalagi Gibson juga mengaku membayar uang sebesar Rp 20 ribu kepada petugas Dinas Perhubungan. Selain itu dia juga menyetorkan uang kepada oknum Polisi menjadi bekingnya untuk menjaga lahan parkir.

Menurut dia, usahanya sebagai bos parkiran di Pondok Bambu tidak akan terjamah jika membayar oknum keamanan. "Sekarangkan mainnya beking. Ada aparat di belakang mereka, kuat-kuatan pangkat saja. Kalau gak ada beking habis kita," ujarnya.

Kepala bagian keuangan UPT Parkir Dinas Perhubungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Siswanto membenarkan jika ada oknum petugas yang menjadi beking lahan parkir di Jakarta. Untuk menghindari hal tersebut, Siswono menjelaskan jika Pemprov DKI berencana memasang mesin parkir elektrik. Tujuannya ialah mengoptimalkan pendapatan daerah dari lahan parkir, sekaligus mengurangi gesekan di lapangan antara juru parkir.

"Tahun 2016 rencananya semua menggunakan e-parkir. Ini untuk mencegah adanya gesekan dan penguasaan parkir oleh oknum. Ini sudah instruksi Gubernur," kata Siswanto melalui sambungan seluler kemarin.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama pun telah mengkalkulasi jika pendapatan parkir di optimalkan, uang tersebut bisa digunakan untuk mengelola transportasi. Apalagi jumlah kebocoran itu jumlahnya cukup besar. Jika dioptimalkan Pemprov DKI bisa mendapatkan pendapatan daerah sebesar Rp 1,8 triliun.

"Karena banyaknya parkir liar, jadi banyak kebocoran di sana sini yang akhirnya mengakibatkan PAD kita jadi berkurang," ujar Ahok sapaan Basuki Tjahaja Purnama di Balaikota, Jakarta. [arb]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini