Berpolitik ala emak-emak

Senin, 3 September 2018 08:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Berpolitik ala emak-emak Sandiaga di Beringharjo. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Tiap jam 6 pagi, Puji Astuti keluar dari rumah. Mengendarai sepeda motor hijau menuju sekolah. Berjarak 10 kilometer dari rumahnya di kawasan Ciledug. Macet, selap-selip di tengah kemacetan Jakarta, semua sudah menjadi aktivitasnya. Demi mencapai tempat kerja. Bekerja sebagai guru taman kanak-kanak (TK) di daerah Slipi, Jakarta Barat.

Tengah hari dia sudah pulang ke rumah. Tak lagi menjadi guru. Di rumah dia melakoni kodratnya sebagai istri dan seorang ibu. Wanita 50 tahun itu memiliki dua anak. Semua sudah dewasa. Putri bungsunya juga telah menikah dan sudah tinggal terpisah. Meski usianya tak lagi muda, tapi semangatnya berkegiatan masih tinggi.

Tak lagi dipusingkan mengurus anak, Puji Astuti memiliki banyak waktu luang. Mengisinya dengan bermacam kegiatan. Salah satunya bergabung dengan Partai Emak Emak Indonesia. Bukan partai politik dalam arti sebenarnya. Hanya perkumpulan kaum ibu rumah tangga yang mulai melek politik.

Kepada merdeka.com dia bercerita tentang terbentuknya Partai Emak Emak Indonesia. Bermula dari jejaring sosial Facebook dan Instagram. Seiring dengan ramainya isu Pilpres, Puji Astuti kerap mendapatkan informasi tentang politik. Dia mengaku tak alergi dengan tiap isu politik. Sebaliknya, dia termasuk pemerhati perjalanan politik Indonesia. Hanya saja sebelum ini, dia tak pernah berani mengutarakan pendapatnya secara umum.

Lewat akun media sosial, emak-emak ini mulai bersuara. Mengeluarkan pendapatnya terkait berbagai kebijakan pemerintah. Lalu berdiskusi dengan sesama pengguna Facebook. Lambat laun, justru makin seru. Dia banyak da[at teman baru apalagi sudah satu visi-misi dengan dirinya. Tak jarang mereka saling bertukar kontak lalu membuat WhatsApp grup.

Kopi darat pertama Puji Astuti dengan kelompoknya ini awal tahun 2018. Kala itu nama perkumpulan belum jadi PMMI. Hanya sekelompok emak-emak doyan bicara soal politik. Di kelompoknya ada banyak anggota dengan latar beragam. Ahli hukum, Ahli IT, guru sampai ibu rumah tangga biasa. Sehingga pembahasan suatu isu dibahas dengan berbagai sudut pandang.

"Misalnya ada acara ILC lagi bahas korupsi. Terus kita dengar pendapat ibu-ibu itu bagaimana," kata Puji Astuti, pekan lalu.

Dari situlah muncul diskusi. Saling bertukar pendapat. Bila ada anggota ahli di bidangnya maka tak ragu mereka saling berbagai pengetahuan dan pencerahan. Perbincangan itu pun dilakukan tanpa jadwal tetap. Setiap anggotanya berhak menyampaikan informasi dan pendapat kapan saja. Namun biasanya para ibu akan aktif di grup bila tengah ada waktu luang.

Begitu juga Puji Astuti. Dia pantang berkutat dengan ponselnya bila pekerjaan rumah belum terselesaikan. Pun dengan pekerjaannya sebagai guru TK. Meski begitu dia tak menampik banyak temannya tetap aktif di sosial media sambil melakukan pekerjaan rumah. Misalnya sambil memasak atau mengurus anak.

Sementara itu biasanya dia aktif saat pulang bekerja atau menunggu waktu salat. Sebab tak ingin gara-gara aktif di perkumpulan jadi melupakan tugas utamanya sebagai ibu rumah tangga dan melaksanakan kewajiban ibadah sebagai seorang muslim.

"Iya kalau lagi santai aku balas, kalau lagi sibuk kerja paling baca saja, kalau ada yang bisa dibalas ya balas," cerita dia. "Yang penting enggak ganggu pekerjaan inti. Jangan sampai gara-gara ngurus politik kewajiban kita jadi terbengkalai," sambungnya.

Puji Astuti dan kelompoknya menyepakati pemerintah sekarang belum bekerja maksimal. Sebab janji politik stabilkan harga bahan pokok tidak berwujud. Bahkan ada banyak kenaikan harga yang dilakukan secara diam-diam. Seperti kenaikan harga BBM dan bahan pokok. Hal ini cukup memberatkan rakyat.

Karena itu lewat organisasi diikutinya, dia sepakat untuk memenangkan pasangan Prabowo Subianto dengan Sandiaga Uno. Berharap perkembangan ekonomi stabil dan rakyat tak menjerit. Apalagi dia melihat Sandiaga paling paham dengan kondisi emak-emak saat ini.

Seperti pidato Sandiaga usai daftar di Komisi Pemilihan Umum pada 10 Agustus lalu. Sandiaga sangat ingin memperjuangkan kaum emak. Dari situ, Puji Astuti dalam berbagai kesempatan kerap mempromosikan pasangan Prabowo-Sandiaga kepada lingkungannya. Mulai dari keluarga, rekan sejawat hingga teman-teman satu kantor.

Responnya beragam. Sebagian menerima, ada pula yang menolak. Tiap kali penolakan dia tak mau ambil hati. Dia ingat bahwa berpolitik tak boleh baper alias bawa perasaan. Berdebat sudah bukan hal aneh baginya. Bahkan dia pernah berselisih paham dengan teman kerja lantaran berlawanan sikap politik. Namun dia berusaha untuk profesional. Sehingga selisih paham itu tak lantas memutus tali silaturahim.

Beruntung Puji Astuti memiliki keluarga memiliki satu visi. Sehingga selain bersama dengan temannya, dia juga kerap berdiskusi dengan keluarga. Banyak pesan berantai dirasa valid juga disebarkan kepada teman atau keluarga. Namun, bukan berarti sikap dia tidak dapat peringatan dari keluarga. Putri bungsunya kerap mengingatkan untuk berhati-hati dalam menyebarkan informasi. Takut-takut informasi dibagikan adalah hoaks.

"Saya juga suka diingatkan anak saya buat hati-hati kalau sebar broadcast. Dia takut saya kenapa-kenapa," ungkapnya. Begitu juga dengan sang suami. Dia mengaku selalu mendapatkan restu dalam berkegiatan. Sebab keduanya memiliki visi yang sama.

Bawa Peralatan Masak, Emak-Emak Protes Kenaikan Harga ©Liputan6.com/Arya Manggala


Berbeda dengan Puji Astuti, kisah Dwi justru bertentangan. Wanita berusia 35 tahun ini menginginkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terpilih kembali menjadi presiden untuk periode 2019-2024. Dwi adalah orangtua tunggal untuk tiga anaknya. Kerjanya serabutan. Apa saja dia lakoni demi menghidupi tiga anaknya di Ibukota.

Dwi mengaku sangat terbantu dengan berbagai kebijakan bantuan sosial di era Jokowi. Semisal Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Berbagai bantuan sosial ini sangat membantu dia bertahan hidup.

Bentuk terima kasihnya diwujudkan dengan menjadi relawan Pro-Jokowi (Projo). Tidak seperti Puji Astuti, Dwi jarang aktif di media sosial. Dia justru mengandalkan pertemanan untuk menyebarkan virus memenangkan Jokowi.

Sejak bergabung dengan Projo, warga asal Kemayoran ini banyak mendapatkan pelajaran politik dari sesama relawan. Ia juga membaca buku-buku politik. Salah satunya berjudul Kerja Nyata. Buku tentang keberhasilan mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Buku pertama yang membuatnya tertarik konsen di dunia politik.

Kerja serabutan jadi peluang dia mempromosikan keberhasilan Jokowi secara langsung. Berdiskusi langsung dengan teman-temannya. Tak jarang ia ditolak tetangga lantaran mendukung Jokowi. Mulai dari cap PKI, budak Megawati sampai anti muslim.

Menanggapi berbagai penolak itu, Dwi mencoba meluruskan rumor berkembang di masyarakat. Misalnya saat Jokowi dituduh PKI. Karena sudah banyak dapat pemahaman, dia coba jelaskan tentang PKI. "PKI kan itu zaman dulu, udah enggak ada zaman sekarang. Sekarang ini zaman modern, enggak mungkin PKI ada lagi," kata Dwi mengingat pembelaannya untuk Jokowi.

Selain menepis tudingan miring pada Jokowi, Dwi kerap menjelaskan berbagai prestasi presiden. Program infrastruktur kerap jadi andalan. Dari kacamatanya, infrastruktur merupakan penggerak ekonomi rakyat utama. Meski tinggal di Ibukota, namun dia sangat bersimpati kala mendengar banyak wilayah Indonesia belum terjamah.

Sementara itu, Pengamat Sosial Musni Umar menilai saat ini emak-emak (kaum ibu) memiliki pengaruh besar dalam pemenangan tiap pemilu. Sebab mereka adalah pihak yang paling merasakan kebijakan pemerintah. "Mereka berhadapan dengan realitas yang susah," kata Musni, pekan lalu.

Dalam pengamatannya di media sosial, ia melihat banyak suara-suara yang menginginkan adanya perubahan. Realita yang ditampilkan media sosial dapat memengaruhi generasi milenial. Jumlahnya pun tak sedikit. Berbeda dengan emak-emak yang realistis, generasi milenial melihat peluang kepentingannya sendiri.

"Keduanya (emak-emak dan generasi milenial) sama pentingnya. Suara mereka cukup besar. Emak-emak berhadapan dengan realitas, sementara generasi milenial menjadikan media sosial sebagai bahan bacaan," terang Musni.

Bila pasar ini dimainkan untuk membentuk opini, bukan tidak mungkin inkumben akan tumbang. Sebaliknya, bila permainan media sosial dikuasai petahana, Jokowi akan bertahan hingga dua periode.

Sayangnya, inkumben terlalu fokus pada pembangunan fisik sehingga melupakan pembangunan sumber daya manusia yang abadi. Jor-joran pembangunan fisik mewariskan utang kepada generasi berikutnya. Sementara SDM bukan jadi prioritas selaiknya infrastruktur. Kemajuan suatu bangsa kata dia menjadi modal bagi negara maju. Namun yang dilakukan Indonesia hari ini justru sebaliknya.

Meski begitu ia berharap bila terjadi perubahan, tetap mengedepankan persatuan. Indonesia tak terpecah belah hanya demi kursi di birokrasi. Bila masyarakat Indonesia menghendaki perubahan, ia berharap bisa berjalan dengan damai selaiknya pemilihan perdana menteri di Malaysia beberapa waktu lalu.

"Kita harap kalay ada perubahan tidak menimbulkan perpecahan. Tapi saya yakin tidak akan ada hal-hal semacam itu," ungkap dia. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini