Kolom Inspira

Berpikir alternatif saat kritis

Rabu, 10 Desember 2014 10:33 Penulis : Sapto Anggoro
Berpikir alternatif saat kritis ilustrasi berpikir. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Ada situasi bahwa kepepet atau keterpaksaan sering menimbulkan orang kreatif. Tentu saja kreativitas tidak datang dari langit tapi diasah sedemikian rupa dan ditempa dengan pengalaman serta bacaan ilmu akan mempercepat orang untuk kreatif.

Salah satu orang hal yang penting dalam kreativitas adalah berpikir tidak linier dan berpikir alternatif. Artinya, Anda harus menemukan jalan lain, dari sudut pandang lain, ketika Anda dalam situasi yang terasa mentok (stuck). Situasi seperti itu pasti pernah dialami oleh banyak orang, maka sering ditemukan dengan kata-kata “Aha” sehingga sangat bahagia karena ada sesuatu yang ditemukan atau terpecahkan.

Dalam sebuah pertemuan, sebutlah Eddy Aja, yang sudah banyak baca buku tentang teknik menanam jahe. Dia ingin menjadi petani jahe. Dia mulai dari rumahnya yang hanya tipe 21 atau biasa disebut dengan RSSSSS (rumah sangat sederhana selonjor saja susah dst). Dengan bibit yang bagus, dia coba menanam jahe di pot rumahnya. Setelah dilakukan pemupukan dan penyiangan tanah, dalam waktu yang diharapkan, sekitar 8-10 bulan, ternyata dia bisa memanen jahe berkualitas.

Dari sepuluh pot yang dilakukan untuk percobaan, akhirnya dia bisa memanen sampai 5 kg. Eddy pun semangat, karena jahenya berkualitas dan disukai masyarakat sekitar. Karena itu dia pun menambah jumlah potnya menjadi 20. Dan itu adalah jumlah maksimal yang bisa ditanam di potnya. Maklum rumahnya sempit. Dengan menambah pot dua kali lipat, maka hasil maksimal yang akan didapat adalah 10 kg.

Bagaimana bila permintaan ternyata 100 kg? Untuk orang berpikiran linier dan tidak membiasakan dengan alternatif, maka akan langsung menolak, karena alasan tidak punya tanah lebih untuk ditanami atau ditempati pot.

Pandangan umum, kalau menjadi petani adalah harus punya tanah. Kalau tidak punya maka akan menyerah? Tidak. Bahwa menjalankan pertanian harus butuh tanah iya. Tapi untuk menjadi petani, bukan tanah yang menjadi intinya, sebab yang utama adalah keahlian untuk bercocok tanam.

Dalam kasus di atas, maka untuk menghasilkan 5 kg perlu 10 pot, maka untuk 100 kg diperlukan 200 pot. Orang yang berpikir alternatif, maka dia akan membeli sedikitnya 200 pot, dititipkan pada tetangga-tetangga yang sedia dititipi pot dengan tanaman jahe. Niscaya, dalam waktu yang ditentukan, Eddy Aja bisa memanen 100 kg jahe berkualitas dan bisa menyebut dirinya sebagai petani. Tinggal bagaimana melakukan bagi hasil dengan warga sekitar yang dititipi pot karena sudah ikut menjaganya.

Catatan di atas hanya sebuah contoh yang ada. Jangan menghadapi masalah dengan menutup peluang dan tidak membuka alternatif lain. Dalam saat tertentu, kita harus memaksa diri untuk membuka kemungkinan-kemungkinan dan memilih diantara yang paling mungkin.

Dalam sebuah film Big Hero 6, sutradara Don Hall dan Chris Willam menyampaikan kisah remaja ahli robot Hiro Hamada suatu saat mengalami situasi stuck. Dia merasa kehabisan ide. Sang kakak Tadashi Hamada lalu menggendongnya dengan cara terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas kemudian diputar. Saat itulah, Hiro Hamada menemukan sudut pandang baru yang menjadi alternatif temuannya sehingga dia bisa menciptakan robot magnet yang dahsyat.

Berpikir alternatif, atau bisa disebut sebagai berpikir kontrafaktual adalah sebuah konsep dalam psikologi yang melibatkan kecenderungan manusia untuk menciptakan alternatif yang mungkin dalam menghadapi masalah atau peristiwa dalam kehidupan (bisa pribadi bisa perusahaan).

Pemikiran kontrafaktual akan menjalankan premis: " Bagaimana jika? " dan " Jika saya hanya ... " yang dilakukan ketika menghadapi situasi kritis yang harus diselesaikannya. Pikiran kontrafakta adalah hal-hal yang tidak pernah bisa mungkin terjadi dalam kenyataan sebelumnya (pengalaman sebelumnya), yang harus diselesaikan. Keberanian menghadapinya akan menghasilkan kepuasan tiada tara bila berhasil memecahkannya.

Kolumnis New York Times, Paul Sullivan dalam bukunya berjudul “Clutch” (kopling) mencatat banyak sekali orang-orang yang sukses justru karena mereka sering menghadapi situasi kritis dan stress, tapi mampu mengatasinya.

Orang-orang yang sukses, tidak semuanya didapat begitu saja. Menurut Sullivan, kemampuan untuk mengatasi tekanan yang ekstrem secara konsisten dan mengalahkan kemungkinan terberat dan bisa menyelesaikannya, akan memberikan kebahagiaan luar biasa. Kadang, anda perlu menginjak kopling sebentar untuk menghasilkan hentakan gerakan yang lebih cepat.

Kata pepatah bebas, hadapi tantangan jangan dihindari, bila mau berhasil. Tetap berpikir kreatif dengan membuka berbagai alternatif pemecahan. Seorang sarjana sejati pasti pernah menghadapi ujian, agar dapat pengakuan (sertifikat). ***

*) Penulis adalah COO KapanLagi Network (KLN), Sekjen APJII, Co-Founder Binokular Media Utama [war]

Topik berita Terkait:
  1. Kolom Inspira
  2. Jakarta
  3. Kolom Merdeka
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini