Bermalam di pengungsian

Rabu, 17 Oktober 2018 07:00 Reporter : Angga Yudha Pratomo
Bermalam di pengungsian Pengungsian di Desa Wani Donggala. ©2018 Merdeka.com/Angga

Merdeka.com - Lima tenda besar berdiri di sebuah lahan kosong. Terbuat dari kayu dan terpal biru tua. Berada di sisi kiri trans Sulawesi Tengah menuju Kota Palu. Ada 20 kepala keluarga (KK) tinggal di sana. Mereka merupakan pengungsi bencana tsunami berasal dari Desa Wani, Kabupaten Donggala.

Langit sore itu mulai berubah gelap. Malam segera tiba. Penerangan dari lampu neon agak redup mulai menyala. Tiap tenda hanya satu lampu. Tidak cukup menerangi satu tenda. Masih tampak remang-remang. Listrik dihasilkan dari genset dekat lokasi pengungsi.

Baru dua hari terakhir mereka merasakan adanya listrik. Sebelumnya tiap tenda berbekal lilin maupun lampu minyak. Sekedar untuk menerangi walau sedikit.

Wilayah tempat tinggal para pengungsi ini hancur. Rata tak tersisa. Terkena gempa bumi dan tsunami pada Jumat, 28 September lalu. Lokasi itu berada di seberang jalan. Tepat di depan pengungsian. Tempat tinggal mereka dikenal sebagai kampung nelayan. Kini hanya kenangan. Kampung itu hilang tersapu ombak tsunami.

Sudah delapan hari pengungsi ini tinggal ketika kami bermalam. Bentuk tenda pengungsi sangat sederhana. Berukuran sekitar 5 x 3 meter. Hanya beratap terpal. Sisi kanan kiri terbuka lebar. Untuk alas, mereka meletakkan kayu berjejer lalu ditutup terpal. Alas kayu tidak dipasang berdempet. Ada sela, agar bisa menjangkau seluruh tenda.

Kami bermalam di tenda paling depan. Di sana ada empat KK. Di dalam tenda hanya berisi karung pakaian dan kardus mi instan. Jangan berharap memakai bantal. Bisa merebahkan badan dan tidak kepanasan maupun kehujanan saja sudah bersyukur. "Mohon maaf tendanya begini," ujar Irsyan kepada kami.

Malam itu kami disambut ramah. Ukuran tenda masih cukup luas untuk diisi beberapa orang lagi. Kami memilih posisi di pojok kiri. Dalam tenda pengungsi, tidak dipasang sekat. Kaum perempuan tidur di sisi kanan, termasuk anak-anak. Dekat dengan peralatan dapur. Sedangkan kaum pria di sisi kiri. Termasuk kami.

Sebelum tidur, beberapa pria dewasa masih asyik berbincang. Mereka sekaligus begadang. Menjaga keamanan lokasi pengungsian. Ditemani kopi hangat, mereka bercerita ketika gempa 7,4 skala richter dan tsunami menimpa. Beberapa kerabat mereka belum ditemukan. Diduga masih berada di bawah reruntuhan. Tetapi cerita mereka selamat berbeda-beda.

Seperti Irsyan. Rumahnya berada di pinggir laut. Usai gempa datang, dia membawa lari istri dan anaknya. Kondisi semakin berat. Ketika sang istri tengah mengandung memasuki usia delapan bulan. Ketika gempa datang, dia sedang berada di kamar mandi. Bersih-bersih setelah seharian kerja. Gempa datang dua kali. Jaraknya tidak lama. Hingga gempa kedua datang, Irsyan lari tunggang langgang. Beruntung ketika itu pintu kamar mandi lupa dikunci.

"Saya hanya memakai handuk. Membawa istri dan anak saya," dia menceritakan. Naluri untuk membawa keluarganya ke tempat tinggi ketika itu muncul. Segera dia membawa mereka menjauh dari tepi pantai. Dan benar saja. Tidak butuh waktu lama ombak tsunami tiba dan melumat sebagian Desa Wani I.

Sang istri sempat tingal di pengungsian selama lima hari. Kini sudah dievakuasi ke wilayah Poso, Sulawesi Tengah. Ke rumah saudaranya. Irsyan khawatir nanti sang istri akan stress bila tinggal di tenda pengungsi. Ketakutan lainnya, lantaran rumah sakit di Donggala maupun Palu belum sepenuhnya pulih untuk melakukan persalinan.

Cerita lain datang dari Doni. Dia merasakan betul bagaimana ombak tsunami itu datang. Sempat tergulung hingga dia berhasil berpegangan pada sebuah bangunan.

Pandangan Doni rabun sejak lahir. Ketika kejadian, pria 24 tahun itu sedang duduk sambil bermain kucing. Ketika gempa besar datang Doni panik. Dia melihat kucing di kakinya melompat. Dari situ instingnya berkata, segera lari dan berteriak kepada warga akan terjadi tsunami.

Sulit bagi dia keluar dari rumah. Sudah rusak akibat goncangan gempa. Ditambah penglihatannya sudah pudar dan kondisi sudah gelap. Tidak butuh waktu lama, kata dia, ombak tsunami pertama datang. Lalu disusul ombak kedua lebih besar lagi.

Usai kejadian Doni bersyukur berhasil selamat. Pakaiannya basah. Di dalam gelap dia sempat membantu tetangganya. Kondisinya sudah parah. Doni dan perempuan itu berhasil keluar dari pinggir pantai dengan penuh luka. "Masih banyak lagi di sana teriakan minta tolong. Tapi saya hanya membantu yang dekat saya," ungkap Doni.

Pengungsian di Desa Wani Donggala 2018 Merdeka.com/Angga


Di dalam tenda mereka juga saling menguatkan. Mengingatkan untuk bersyukur kepada Tuhan. Kesempatan selamat dari bencana gempa bumi dan tsunami bukan berarti bisa santai. Justru ujian bakal semakin berat. "Kini yang penting kita jagal kelakuan baik dan menambah amal kita," ujar Sandi kepada semuanya.

Malam sudah menunjukkan pukul 23.00 WITA. Sebagian dari mereka masih terus berbincang. Kami memilih untuk beristirahat. Tidur dengan alas kayu dan terpal. Bukan tempat nyaman buat badan setelah seharian berkeliling mendatangi lokasi terdampak gempa dan tsunami.

Nasib pengungsi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut jumlah pengungsi korban gempa Palu dan Donggala mulai berkurang. Jumlah pengungsi terakhir yakni 62.359 jiwa tersebar di 147 titik. Banyak di antara mereka sudah kembali ke rumah. Ada juga telah meninggalkan Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi. Menuju kota maupun provinsi lain.

Dari catatan BNPB, para pengungsi banyak dievakuasi ke Makassar, Manado, Balikpapan, hingga ke Jakarta. Terhitung sejak 7 Oktober lalu, sudah 8.110 jiwa meninggalkan Palu-Donggala-Sigi. Di antara mereka dievakuasi menggunakan pesawat Hercules sebanyak 6.157. Sementara menggunakan kapal laut sebanyak 1.913 orang.

Terbangun di pagi hari, aktivitas kaum perempuan dimulai. Sejak pukul 5 pagi mereka bangun. Sebagian beribadah terlebih dahulu. Sekaligus mengambil air. Kebetulan lokasi air tidak jauh. Berada di sebelah pengungsian. Itu merupakan satu-satunya titik air bersih. Di dalamnya juga terdapat kamar mandi sekaligus tempat buat hajat.

Pagi itu banyak warga berbondong datang. Mengantre untuk mengambil air. Membawa bak maupun galon air mineral. Bisa lebih dari tiga kali mereka bolak-balik. Air itu dipakai untuk keperluan sehari-hari mereka. Masak, mencuci maupun mandi.

Tenda tempat kami bermalam bukan sebuah pengungsian besar. Ada dekat situ berjarak sekitar 50 meter, lokasi pengungsian besar di tengah lapang. Namun, warga di sini lebih memilih berpencar. Lantaran pelbagai macam alasan. Panas menjadi salah satunya. Selain itu sulitnya sumber air.

Lokasi pengungsi tempat kami bermalam tidak memiliki dapur umum. Tiap tenda tersedia kompor dan gas. Mereka masak masing-masing. Memasak sesuai kebutuhan logistik didapat hari itu. Paling sering adalah nasi dan mi instan. "Bosan juga makan ini. Tapi bagaimana lagi," ucap seorang ibu di dapur.

Walau dalam keadaan susah, keramahan sangat kentara dirasakan. Kami disuguhkan teh manis hangat pagi itu. Dengan cemilan biskuit didapat dari bantuan logistik. Sama seperti malam hari. Pagi itu kaum pria berkumpul. Kembali berbincang sambil menunggu giliran mandi. Tidak tampak kesedihan. Mereka masih bisa tertawa. Senang masih bisa berkumpul dengan keluarga maupun kerabat meski berada di tenda pengungsi.

Penanganan kesehatan

Masalah kesehatan dikhawatirkan menjadi urusan serius dalam penanganan bencana. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengakui banyak warga mulai terserang influenza dan gangguan pencernaan. Mayoritas mereka terkena penyakit merupakan balita.

Khusus untuk balita, kata Achmad, mereka banyak terserang influenza. Ini disebabkan daya tahan tubuhnya belum sebaik orang dewasa. Sedangkan penyakit gangguan pencernaan dialami orang dewasa dan anak-anak. Biasanya akibat keterbatasan air, buruknya sanitasi, dan kualitas makanan tidak sehat.

Pengungsian di Desa Wani Donggala 2018 Merdeka.com/Angga


Dua penyakit ini harus segera diatasi. Bila dibiarkan justru menimbulkan masalah lebih berat. Misalkan Influenza, para pengungsi harus segera ditangani agar kondisi penderita tidak semakin parah dan berujung menjadi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Sedangkan gangguan pencernaan, diharapkan bisa diselesaikan dengan memperbaiki sanitasi. "Solusinya bukan memberikan obat sebanyaknya, tapi selesaikan sanitasinya ini," Achmad menerangkan.

Bukan hanya dua penyakit itu saja. Ada masalah krusial juga harus segera diselesaikan. Banyak penyintas gempa dan tsunami gangguan kejiwaan. Dalam hal ini trauma. Mereka masih stress. Takut untuk keluar maupun tidur di ruangan. Ditambah ada anggota keluarga hilang akibat bencana alam. Untuk itu, tim dokter disiapkan dari pelbagai macam ahli.

Selain dokter umum dan spesialis, juga diturunkan para psikiatris. Tentunya masalah kejiwaan ini juga harus didukung masyarakat sekitar. Pihaknya juga meminta agar para pengungsi lebih aktif untuk urusan kesehatan. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini