Berhasil Mudik Saat Corona

Jumat, 22 Mei 2020 08:03 Reporter : Rifa Yusya Adilah
Berhasil Mudik Saat Corona Pemudik motor di Pantura. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Sore menjelang azan Magrib. Deru suara mesin kendaraan memenuhi jalan aspal dua lajur di pinggiran Jakarta Barat. Cukup ramai hari itu aktivitas masyarakat.

Hiruk pikuk mulai kembali bergeliat di tengah situasi menghadapi pandemi virus corona. Banyak di antara mereka memenuhi jalan raya untuk mencari sajian buka puasa. Semakin padat lantaran banyak juga mereka yang baru pulang kerja.

Dari dalam kamar indekos, Aziz Sakanata memantau keramaian itu. Sudah sebulan lebih dia mengurung diri. Terkadang sempat terpikir sedang terjebak di Jakarta melihat situasi ini.

Kondisi ekonomi mulai morat-marit. Beli makan via online justru membuat kantongnya menipis. Ditambah sudah H-5 menjelang Hari Raya Idul Fitri. Mahasiswa rantau asal Subang, Jawa Barat, itu akhirnya memberanikan untuk mudik.

"Alasan saya nekat mudik karena biaya hidup sudah tidak menentu," ungkap Aziz kepada merdeka.com, Rabu lalu.

Larangan mudik memang digaungkan pemerintah pusat sebagai upaya menekan angka penyebaran masyarakat terinfeksi virus corona. Penjagaan ketat di banyak pintu tol sudah diberlakukan.

Sedangkan di Jakarta, sebagai zona merah penyebaran virus corona, terus memperketat pengawasan kegiatan masyarakat. Salah satunya melalui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Banyak wilayah juga menerapkan kebijakan serupa.

Aturan PSBB terus diperpanjang. Kondisi itu diduga membuat banyak masyarakat semakin jengah terkurung. Apalagi bagi para pendatang. Lebih kurang kondisi itu yang dirasakan Aziz sebagai mahasiswa di kampus swasta bilangan Jakarta Barat tersebut.

1 dari 2 halaman

mahasiswa pemudik

Aziz Sakanata ©2020 Merdeka.com

Tepat pukul 5 sore, Aziz tancap gas. Kendaraan sepeda motor dipilih. Dia memulai perjalanan menuju Subang pada Selasa, 19 Mei 2020.

Hari itu menjadi puncak kejenuhan pikirannya. Setelah program magang di salah satu televisi swasta nasional dihentikan, kehidupan Aziz pun semakin tak menentu. Pulang bertemu orang tua dirasa pilihan terbaik saat itu.

Baru sebentar berjalan mengendarai motor, dia sempat menengok sebentar situasi jalan tol. Kebetulan tidak jauh dari indekosnya. Terpantau saat itu situasi jalan tol terlihat mulai dipadati mobil pribadi.

Melihat dan memperhitungkan situasi, pemuda 22 tahun itu semakin yakin bisa mudik. Kondisi lalu lintas terlihat mendukung. Aturan penerapan PSBB juga tampak tidak terlalu ketat.

Perjalanan dimulai. Sengaja dia melewati daerah Roxy, Jakarta Barat. Tampak posko pemantauan PSBB berdiri lumayan besar.

Berharap diberhentikan dan ditegur, justru yang dilihat berbeda. Pos itu kosong tanpa penjagaan. Motor Aziz pun melenggang nyaman.

"Saya berharapnya ada petugas. Ingin tahu, akan diperiksa seperti apa oleh para petugas itu. Apakah benar akan disuruh putar balik dan dilarang untuk mudik jika ketahuan," ucapnya.

Bukan berniat menantang. Bagi Aziz yang merasa sudah menuruti aturan pemerintah untuk tidak keluar rumah, hanya ingin tahu bagaimana proses pemeriksaan berlangsung. Lantaran belum berjodoh diberhentikan petugas, perjalanan menuju Subang tetap dilanjutkan.

Jarak Jakarta-Subang sekitar 150 km. Perjalanan menggunakan sepeda motor dengan kecepatan sedang bisa ditempuh selama 4-5 jam.

Selama perjalanan menuju kampung halaman, tidak ditemukan juga penjagaan ketat para petugas. Aziz pun malam itu sudah tiba di rumah dan senang bisa bertemu orang tua.

"Selama perjalanan ramai sekali jalanan, persis seperti yang beredar di media sosial atau yang beredar di berita-berita. Sepertinya orang-orang sudah pada bosan di rumah," kata dia.

2 dari 2 halaman

Dikucilkan di Kampung Halaman

Pemerintah sudah gencar melakukan kampanye larangan mudik. Presiden Joko Widodo bahkan menegaskan berulang-ulang agar masyarakat tidak mudik. Meskipun begitu, dia tetap memperbolehkan kendaraan transportasi tetap beroperasi.

"Perlu diingat juga, yang dilarang itu mudiknya, bukan transportasinya," ucap Jokowi.

Moda transportasi yang diperbolehkan beroperasi harus menerapkan protokol kesehatan Covid-19 yang ketat. Terutama transportasi untuk logistik, pemerintahan, kesehatan, kepulangan pekerja migran dan ekonomi esensial.

Pulang kampung atau mudik di saat pandemi corona, sebenarnya menimbulkan dilema. Apalagi mereka yang datang dari zona merah. Tentu ini kekhawatiran bila nantinya menjadi klaster baru penyebaran corona.

Seperti dialami Priska Tri Widyastuti, 20 tahun. Sejak akhir Maret 2020, dia sudah pergi meninggalkan Jakarta menuju Palu, Sulawesi Tengah. Ketika itu baru beberapa pekan ramai pemberitaan virus corona.

mahasiswa pemudik

Priska Tri Widyastuti ©2020 Merdeka.com

Mahasiswa kampus swasta di Jakarta Barat itu, sebenarnya sedang mengambil magang di bagian pemberitaan televisi swasta nasional. Pengumuman pemerintah untuk kerja di rumah, membuat program magang dihentikan.

Sebenarnya tidak langsung diminta berhenti. Awalnya Priska diminta untuk libur selama sepekan. Namun, setelah itu tidak ada lagi panggilan. Akhirnya dia memutuskan mudik.

"Aku memutuskan untuk mudik, soalnya tidak tahu lagi di Jakarta mau berbuat apa," ujar Priska bercerita kepada kami, Rabu lalu.

Ketika itu Priska pulang menggunakan pesawat Lion Air. Meski merasa ketakutan, setidaknya dia cukup beruntung. Harga tiket pesawat diskon lebih setengah harga.

Biasanya untuk rute Jakarta-Palu, penumpang pesawat Lion Air harus merogoh kocek sampai Rp1,8 juta per orang. Priska beruntung. Harga tiket ketika itu dijual Rp700 ribu. Tanpa pikir panjang, tiket dibeli secara online.

Priska pulang sendiri ke kampungnya. Masih ingat betul kondisi bandara ketika itu sepi. Baik di Jakarta dan Palu. Banyak bangku kosong di ruang tunggu. Pemandangan yang tidak biasa dirasakan.

Bukan tanpa rasa ketakutan. Lantaran sedang hangat wabah corona, Priska mengaku khawatir berada di ruang publik. Kedua telapak tangan sering kali dibasuh menggunakan hand sanitizer tiap memegang benda apapun di bandara maupun di pesawat.

Tiba di kampung halaman, semua pakaian menempel di baju segera dicuci. Priska bahkan langsung mandi demi memastikan tubuhnya tidak terinfeksi virus corona. Baru setelah itu berani bersentuhan dengan orang tua.

Baru semalam di rumah, esok hari kediaman Priska didatangi petugas dinas kesehatan. Mereka mendata berbagai keterangan dari mahasiswi rantau tersebut.

Tidak sampai di situ, bahkan banyak tetangga merasa menatap sinis kepada dirinya. Ada juga ucapan nyinyir sempat dilontarkan kepada dirinya. "Jauh-jauh dulu deh, soalnya kamu dari Jakarta," ujar Priska menirukan.

mahasiswa pemudik

Priska Tri Widyastuti ©2020 Merdeka.com

Priska merasa dirisak. Omongan tetangga begitu pedas dirasa. Sampai dia memilih isolasi mandiri hanya di dalam rumah. Takut keluar lantaran banyak ucapan negatif dari lingkungan sekitar.

Sudah hampir dua bulan berlalu, dia kini merasa lebih tenang. Sudah tidak peduli ucapan dan tuduhan orang sekitar. Keinginannya sekarang hanya ingin hidupnya selalu sehat di tengah wabah pandemi corona.

"Sekarang aku bodo amat. Aku suka berjemur setiap pagi, aku lebih takut sama corona dari pada omongan tetangga," kata dia mengungkapkan. [ang]

Baca juga:
Ditjen Perhubungan Darat Siap Fasilitasi 719 Orang Tertangkap Polisi Saat Mudik
Jelang Lebaran, Polda Jateng Siagakan Penembak Jitu di Pos Pantau Mudik
Selundupkan Pemudik, 95 Travel Gelap Terjaring Razia
Sepanjang Larangan Mudik, 400 Lebih Travel Gelap Ditangkap
H-2 Lebaran, Total 61 Ribu Kendaraan Pemudik Diputar Balik

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini