LGBT di Indonesia 2

Berapa biaya yang dikeluarkan transgender supaya jadi wanita tulen?

Selasa, 9 Februari 2016 11:16 Reporter : Mohammad Yudha Prasetya
Berapa biaya yang dikeluarkan transgender supaya jadi wanita tulen? Ilustrasi LGBT. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Departemen Kesehatan RI telah meratifikasi pernyataan resmi World Health Organization (WHO) tertanggal 17 Mei 1990, yang menyatakan bahwa homoseksual bukanlah sebuah penyakit maupun gangguan kejiwaan. Hal itu juga telah dimasukkan oleh Depkes RI dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) edisi II (1983) dan edisi III (1993).

Hingga akhirnya, PPDGJ yang kini sudah memasuki edisi IV, telah menyatakan bahwa lesbian, gay, biseksual, atau transgender, benar-benar bukan lagi merupakan hal yang dianggap sebagai penyakit dan yang tentunya tidak harus disembuhkan, menurut dunia dan ilmu kedokteran.

Secara medis, tidak ada salahnya dengan manusia yang terlahir sebagai LGBT. Namun, pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa manusia bisa dilahirkan dengan memiliki orientasi seksual yang berbeda sebagai bagian dari identitasnya, memang masih menjadi tanda tanya besar di benak sebagian orang.

Dalam pemahaman medis, identitas diri manusia itu ditentukan berdasarkan konstelasi otak atau susunan saraf pada otaknya. Sebab, otak adalah organ pertama yang terbentuk, saat manusia masih menjadi janin. Sejumlah hal yang dapat mempengaruhi perkembangan otak di dalam janin, antara lain adalah hormon si ibu, asupan makanannya, hormon si jabang bayi, faktor genetik, dan lain sebagainya.

Nantinya, semua faktor inilah yang akan mempengaruhi bentuk konstelasi dari sirkuit-sirkuit otak janin, yang akan turut menentukan jenis orientasi seksual dari orang tersebut ketika perlahan-lahan tumbuh sebagai manusia di lingkungan sosialnya.

Kenyataan bahwa orientasi seksual ini merupakan bawaan lahir pun diakui sendiri oleh seorang transgender yang berhasil ditemui merdeka.com, bernama Karina Samosir.

Karin, begitu ia akrab disapa, menjelaskan bahwa sejak kecil kecenderungan sifat dan sikapnya memang sudah mengarah kepada karakteristik perempuan.

Karin mengaku bahwa sejak TK dirinya lebih suka bermain bersama teman-teman perempuan. Seingatnya, tidak ada pengaruh apapun dari luar dirinya saat itu, yang membuat atau seakan-akan mengajaknya untuk bersikap seperti seorang perempuan, dan tentunya lebih memilih bermain bersama teman-temannya yang perempuan pula.

"Kalau anak laki-laki kan senangnya main bola, nah pada saat itu insting saya cenderungnya malah ke permainan perempuan seperti masak-masakan, main ibu-ibuan, dan lain sebagainya lah," ujar Karin saat ditemui merdeka.com pada Rabu pekan lalu.

Aspek di diri setiap manusia yang bisa disetarakan dengan kecenderungan orientasi seksual berdasarkan kinerja sirkuit-sirkuit otak dan konstelasinya, salah satunya adalah masalah selera terhadap rasa. Jika ada seseorang yang indera pengecapannya lebih menggandrungi rasa pahit daripada rasa asin, manis, atau asam, bukan berarti orang itu mempunyai kelainan berbahaya hanya karena selera rasanya berbeda dari selera rasa orang-orang pada umumnya.

Dalam penelitian ilmu saraf, masing-masing orang yang memiliki selera rasa yang berbeda ini adalah akibat dari perbedaan konstelasi otak dan kinerja sirkuit-sirkuit otak yang berbeda. Begitu juga dengan masalah orientasi seksual. Seorang pria yang menyukai pria tentunya memiliki konstelasi otak dan kinerja sirkuit-sirkuit otak yang berbeda, dengan pria yang menyukai wanita. Dan sekali lagi, hal ini hanyalah masalah variasi normal dari otak manusia, yang sama sekali tidak membahayakan manusia lainnya apalagi menular.

Namun, karena pemahaman di dunia medis dan kedokteran semacam ini sama sekali belum tersosialisasi dan dipahami oleh masyarakat secara luas, stigma miring bahwa kelompok LGBT ini sebagai orang yang suka membuat-buat orientasi seksualnya secara sengaja dan bisa membuat orang lain tertular, masih mendominasi pemahaman sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Dampaknya, para LGBT ini pun harus berupaya keras menuruti selera masyarakat yang kerap dihubung-hubungkan dengan justifikasi menggunakan dalil agama, dan standar moral tertentu yang dianggap paling benar karena diamini mayoritas masyarakat dalam kehidupan sosial.

Hal ini diakui pula oleh Karin yang harus mengubah hal-hal besar di dalam dirinya lebih dari sekedar penampilan yang mengidentifikasinya sebagai wanita. Perubahan besar pertama yang harus dijalani oleh Karin salah satunya adalah terapi hormon yang telah dia lakukan dalam 2 tahun terakhir, guna melengkapi identitas dirinya sebagai seorang perempuan secara fisik.

Terapi hormon yang dilakukan Karin ini harus membuatnya merasakan sejumlah hal, yang pelan-pelan mengubah mood dan fisiknya seperti seorang wanita. Hal itu merupakan dampak dari pertambahan hormon estrogen yang dikonsumsinya setiap hari dalam bentuk kapsul.

"Obatnya dijual bebas kok, ada di apotik biasa. Namanya Cyclo Progynova. Itu untuk menambah hormon estrogen di dalam diri saya," ujar Karin.

Sementara untuk terapi hormon secara suntik, Karin mengaku bahwa hal itu harus dijalani juga olehnya seminggu sekali.

Secara fisik, Karin juga mengaku telah mengalami sejumlah perubahan lainnya, seperti kulit yang menjadi lebih halus, pinggang dan bokong lebih membentuk, serta payudara yang juga mulai tumbuh. Walaupun perubahannya tidak terlalu siginifikan seperti operasi plastik, tapi Karin sendiri mengakui bahwa hal-hal tersebut cukup bisa terlihat dari dirinya saat ini.

Untuk itu, Karin mengaku bahwa memang ada budget khusus yang disediakan dirinya untuk menjalani terapi hormon harian melalui pil, dan terapi suntik hormon setiap minggunya, "Budget saya itu sekitar Rp 400 ribu dalam sebulan, khusus untuk menjalani terapi hormon saja,"

Untuk perubahan kedua yang menurut Karin akan membuatnya ber-transgender secara sempurna, adalah operasi kelamin. Perubahan besar mengganti kelaminnya dari penis menjadi vagina ini, rencananya akan dilakukan oleh Karin di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara, yang pengalaman dunia medisnya terkait operasi transgender ini sudah sangat tersohor.

Namun, Karin mengaku bahwa saat ini dirinya memang sedang mengumpulkan uang dari pekerjaannya, selain untuk membiayai kuliahnya sendiri. Hal ini diperjuangkan Karin agar dirinya bisa memenuhi tuntutan masyarakat yang akan menganggapnya aneh jika perubahan itu tidak dilakukannya secara sempurna, sebagai seorang wanita.

"Saya akan coba perjuangan semuanya untuk diri saya, jadi sekalian dicari lah penyempurnaannya, biar lengkap," ujarnya. [ian]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini