Bara dalam Sekam di Negara Bekas Pecahan Soviet

Jumat, 14 Januari 2022 07:41 Reporter : Pandasurya Wijaya
Bara dalam Sekam di Negara Bekas Pecahan Soviet Protes kenaikan harga LPG di Kazakhstan. ©REUTERS/Pavel Mikheyev

Merdeka.com - November 2003. Sebuah revolusi pecah di Georgia. Revolusi yang terjadi di negara bekas pecahan Uni Soviet itu berbeda dengan yang dibayangkan orang sebelumnya.

Tak seorang pun terluka, tak setetes darah pun tertumpah.

Puluhan demonstran turun ke jalan menentang hasil pemilu parlemen yang dianggap penuh rekayasa. Para pengunjuk rasa menuntut Presiden Eduard Shevardnadze yang sudah berkuasa selama lebih dari 30 tahun untuk mundur.

Shevardnadze, 75 tahun kala itu, mengatakan kepada demonstran, aksi mereka bisa menimbulkan perang saudara dan dia mengerahkan ratusan tentara untuk menghadapi massa di Tiblisi.

Saat itu, mahasiswa yang berdemo memutuskan memberikan bunga mawar kepada tentara.

Aparat keamanan kemudian melepaskan senjata mereka.

"Orang-orang menciumi polisi dan tentara. Itu sungguh spektakuler," kata Giorgi Kandelaki, mahasiswa 21 tahun, seperti dikutip BBC.

Januari 2004 Mikhail Saakashvili terpilih sebagai presiden baru. Sejarah mencatat peristiwa itu sebagai "Revolusi Mawar".

Beberapa bulan kemudian giliran warga Ukraina menggalang "Revolusi Oranye" dan mulai mengguncang pengaruh Rusia di negara itu.

Revolusi Oranye pada 2004-2005 ditandai dengan demonstran berunjuk rasa selama dua bulan dan berhasil membawa Viktor Yushchenko, sosok reformis yang pro-Barat menjadi presiden mengalahkan rivalnya Viktor Yanukovych yang pro-Rusia dalam pemilu.

Tapi enam tahun kemudian pada 2010 Yanukovych berhasil merebut kembali kursi presiden lewat pemilu.

Revolusi belum selesai di Ukraina.

2 dari 2 halaman
bara dalam sekam di negara bekas pecahan soviet

Serangkaian unjuk rasa yang berujung bentrokan dengan aparat pada 2014 memaksa Yanukovych lengser dari jabatannya. Massa meminta agar Ukraina bergabung dengan Uni Eropa. Padahal selama ini Yanukovich dikenal lebih dekat dengan Rusia.

Perbedaan inilah yang membuat letupan sehingga terjadi krisis di Ukraina. Setelah Yanukovich lengser, presiden Ukraina digantikan oleh Petro Poroshenko. Presiden baru ini lebih cenderung mendekatkan Ukraina ke Uni Eropa.

Karena tak ingin kehilangan pengaruhnya, Rusia kemudian menguasai Semenanjung Krimea di Ukraina selatan dan daerah di bagian timur Ukraina. Daerah itu dikenal wilayah pro-Rusia.

Pada 2020 di Belarusia Presiden Alexander Lukashenko dijuluki diktator terakhir Eropa karena berkuasa sejak 1994. Selama 26 tahun berkuasa dia kerap menindas oposisi dan memimpin dengan otoriter. Pada Juni di tahun yang sama demonstran turun ke jalan setelah hasil pemilu kembali dimenangkan Lukashenko. Massa menyebut pemilu itu dicurangi.

Lukashenko menolak mundur meski didesak rakyat dan masih berkuasa hingga kini.

Awal tahun ini gelombang protes sampai ke Kazakhstan. Massa turun ke jalan menentang kenaikan harga LPG. Presiden Kassym-Jomart Tokayev mengumumkan keadaan darurat dan meminta bantuan pasukan negara aliansi pimpinan Rusia untuk mengatasi kerusuhan. Bentrokan massa dengan aparat menewaskan ratusan orang. Warga meneriakkan yel-yel "orang tua minggirlah" merujuk pada presiden pertama Nursultan Nazarbayev yang berkuasa selama 28 tahun dan mundur pada 2019 tapi masih mempunyai pengaruh di tampuk kekuasaan dan keluarganya memonopoli ekonomi negeri.

Dalam sepekan Tokayev mengumumkan negara sudah dalam keadaan terkendali. Para perusuh ditangkap dan pasukan bantuan Rusia akan segera meninggalkan Kazakhstan.

Dari Georgia ke Ukraina lalu Belarusia hingga Kazakhstan, rakyat di negara-negara itu tampaknya memilih untuk mengakhiri warisan era-Soviet dan melawan rezim otoriter. Meski upaya itu masih belum sepenuhnya berhasil tapi gejolak bara dalam sekam itu masih menyala.

Baca juga:
Rusia Tarik Mundur Pasukannya dari Kazakhstan
Tak Hanya Rusia, China juga Punya Kepentingan di Kazakhstan
Mengungkap Kekuatan Asing di Balik Kerusuhan Kazakhstan
Presiden Kazakhstan Sebut Negaranya Sudah Melewati Upaya Kudeta
Membedah Berbagai Kepentingan Rusia di Kazakhstan
Presiden Kazakhstan Perintahkan Aparat Tembak Mati Perusuh Tanpa Peringatan
Gemuruh Revolusi di Kazakhstan: Mengapa dan Ke Mana Arahnya

[pan]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini