Bahagia ada listrik di Guaeria

Rabu, 10 Januari 2018 06:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Desa Guaeria di Halmahera Barat. ©2018 Merdeka.com/Anisyah

Merdeka.com - Sekumpulan bocah berdiri di bibir dermaga. Sebagian berlari mendekat. Ada juga orang dewasa. Pria maupun wanita. Mereka menanti kedatangan sebuah kapal. Berbalut rasa penasaran. Siapa hari itu datang kampungnya. Suara kapal semakin dekat. Mereka berdiri di tepi dermaga. Sekaligus membantu menyandarkan kapal.

Ukuran kapal hari itu tidak besar. Biasanya mereka menyebut Gete-Gete. Memakai satu mesin. Hanya muat menampung 15 penumpang. Kami ada di dalamnya. Bersama dengan rombongan. Kapal pun bersandar di tepi dermaga. Para warga tadi menyambut kami. Ramah. Itu kesan pertama kami rasakan.

Berkumpulnya mereka bak mendapat penyambutan spesial. Turun dari kapal, kami dan rombongan langsung berjabat tangan. Satu per satu dengan mereka. Saling berkenalan. Tak lupa mendapat ucapan selamat datang.

Guaeria merupakan sebuah desa. Semula Wilayah ini bernama bernama Guaemadaha. Memiliki sekitar 500 jiwa. Untuk menuju ke sana, kami bertolak dari Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara. Membutuhkan waktu 15 menit. Menggunakan kapal. Ini satu-satunya alat transportasi untuk menuju desa tersebut.

Perjalanan menuju Guaeria tak pernah membuat bosan. Jaraknya 12 kilometer dari Jailolo. Selama perjalanan kami mendapat suguhan pemandangan menarik. Gugusan pulau berderet hijau nan asri membuat kami jatuh cinta dengan keindahannya. Ombak laut juga tak besar. Menjadi perpaduan perjalanan tak bisa dilupakan.

"Selamat datang di Guaeria," sapa seorang warga bernama Yehezkiel kepada kami.

Kami tiba sekitar jam 1 siang. Dari pinggir dermaga, hamparan lautan maha luas membentang. Begitu indah. Terik matahari siang itu pun begitu menyengat. Warga di sini selalu punya candaan khas tentang kondisi ini. Mereka menyebut Guaeria punya tiga matahari.

Tiap jalan utama desa hanya memiliki ukuran lebih kurang satu meter. Keadaannya sudah layak. Sepanjang jalan sudah di cor. Namun, jalan menuju bukit Guaeria masih tanah dan sangat terjal. Bila hujan turun, jalan setapak sangat licin.

Desa Guaeria hanyalah sebuah kampung. Beberapa rumah berdiri di pesisir pantai. Kondisi mereka sudah lebih bahagia hampir empat tahun belakangan ini. Listrik sudah hadir. Mengalir. Menerangi tiap rumah warga.

Sebelum hadirnya listrik, malam gelap gulita sudah menjadi kawan. Tak perlu dipertanyakan lagi soal kesabarannya. Mereka harus menunggu 80 tahun agar kampungnya terang di tengah malam. Bisa dilihat dari kejauhan. Banyak orang kini tahu ada desa di sana.

Puluhan tahun Desa Guaeria tak teraliri listrik. Tepatnya sejak tahun 1930. Jangkauan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) tak pernah sampai. Bahkan menjadi salah satu desa tertinggal di Halmahera Barat. Lampu minyak pun menjadi andalan ketika malam.

Baru tahun 2014 silam Pemerintah Daerah Halmahera Barat memberikan bantuan satu set mesin genset. Desa menjadi terang. Meski hasilnya masih minim. Mereka tetap bersyukur. Memanfaatkan kehadiran bantuan dari pemerintah.

Dua tahun kemudian bantuan kembali datang. Berasal dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Masih sama. Satu set genset. Kini dua buah mesin membantu penerang dimiliki warga Desa Guaeria. Tetapi mereka harus tetap bersabar. Sebab aturan khusus agar bisa dirasakan merata.

Aliran listrik hanya mampu digunakan untuk menyalakan lampu bohlam. Listrik pun baru bisa dinikmati selama 12 jam. Dimulai sejak 6 sore hingga 6 pagi waktu setempat.

Ketika kami tiba di Guaeria, dua mesin genset sedang tak berfungsi. Tengah mengalami masalah. Sebab sudah terhitung tua dan sering rusak. "Beberapa hari ini mesin gensetnya mati," cerita Yehezkiel saat menunjukkan tempat menyimpan dua mesin genset tersebut.

Tempat itu berupa bangunan berbentuk kotak dengan luas 3 x 2 meter. Di atas bangunan tak berpintu itu terdapat dua buah tabung dari besi. Tampak kotor dan bau bensin diesel dan oli, bahan bakar utama penggerak mesin.

Dari Yehezkiel kami mengetahui, bila ada warga menyalakan kulkas maka dalam sekejap tiap lampu rumah di dua RW ini akan padam. Selain untuk menyalakan bohlam, listrik dari dua genset itu bisa digunakan untuk mengisi baterai ponsel. Asala tiga lampu di rumah mereka harus dipadamkan dulu.

Selain dua genset bantuan dari pemerintah, ada pula beberapa warga memiliki genset pribadi. Jumlahnya tak banyak. Hanya lima rumah warga yang memiliki genset. Biasanya mereka hanya menggunakan listrik untuk lampu, mengisi baterai ponsel dan televisi. Selebihnya, tak ada alat elektronik bisa digunakan.

Semua warga di sini menganut agama kristen protestan. Di sana memiliki satu gereja berada di tengah desa. Bernama Gereja Galfari Pentakosta. Lokasinya berdampingan dengan ruang genset desa. Saat ini tengah dalam tahap renovasi. Sebab bangunan sebelumnya tak lagi menampung semua warga Desa Guaeria.

Kehadiran listrik sedikit meringankan beban mereka. Namun, masih ada masalah lain menunggu segera uluran tangan pemerintah. Terutama adanya ketersediaan air bersih. Bayangkan, untuk keperluan air bersih mereka harus membeli air bersih dari Jailolo. Sebab, air di sana tak bisa dikonsumsi. Rasanya payau.

Setidaknya Desa Guaeria harus membayar uang tagihan air tawar sebanyak Rp 20 juta tiap bulan. Air bersih itu biasanya dibawa menggunakan kapal nelayan dengan menggunakan banyak galon dan selanjutnya didistribusikan ke tiap rumah warga.

Desa Guaeria di Halmahera Barat 2018 Merdeka.com/Anisyah

Selama dua hari kami bolak-balik dari Jailolo menuju Desa Guaeria. Pada hari pertama di sana kami lebih banyak bertemu warga. Diajak berkeliling. Mendatangi beberapa lokasi dianggap memiliki makna penting bagi kehidupan mereka.

Untuk hari ke-2, kami melihat lebih jelas lagi masalah lain dirasakan warga. Salah satunya terkait pendidikan. Pulau ini hanya memiliki satu Sekolah Dasar (SD). Muridnya tak banyak. Hanya ada 30 siswa bersekolah di SDN 12 Halmahera Barat. Beralamat di Jalan Siswa Indah, Desa Guaeria, Jailolo, Halmahera Barat. Terdiri dari 3 bangunan. Dua ruang kelas dan sebuah ruang guru.

Dua ruang kelas tampak seperti bangunan baru. Temboknya di cat warna krem dan merah. Sementara bangunan lainnya masih menggunakan kayu dan warna cat mulai pudar. Tak ada lapangan di sekitaran sekolah. Hanya ada sedikit lahan kosong dan langsung mengarah ke jalan setapak.

Beruntung untuk masalah ketersediaan guru. Desa Guaeria memiliki empat orang tenaga pengajar. Termasuk guru tambahan untuk mengajar pelajaran olahraga dan agama. Beberapa guru bantu mengajar di Guaeria tinggal di Jailolo.

Tiap pagi, empat guru harus menyeberang menggunakan Gete-Gete demi mengajar anak-anak Guaeria. Berbeda dengan ongkos menyeberang anak-anak sekolah. Sekali berangkat para guru harus mengeluarkan uang Rp 15.000. Sehingga dalam sehari mereka harus mengeluarkan uang Rp 30.000 hanya untuk ongkos Gete-Gete. Meski begitu, pemilik perahu memberikan keringanan kepada para guru. Ongkos penyeberangan dibayarkan tiap bulan.

Tiap para guru itu menerima gajinya dari dinas pendidikan. Tapi ada saja guru yang sengaja tak pulang setiap hari. Biasanya mereka pulang di akhir pekan. Ini demi menghemat uang transportasi. Sebab dari Pemda mereka memiliki jatah untuk ongkos menyeberang ke Guaeria.

Sementara anak usia SMP dan SMA harus melanjutkan sekolah di luar pulau. Salah satunya Jailolo, pulau terdekat dari Guaeria. Sama seperti para guru dan warga lain, setiap hari mereka harus menyeberang pulau menggunakan Gete-Gete. Sekali menyeberang, mereka dikenakan biaya Rp 5.000. Sampai di Dermaga Jailolo, mereka kembali harus menumpang becak motor (bentor) dengan tarif Rp 5.000 untuk sampai sekolah. Sehingga para pelajar dalam sehari menghabiskan Rp 20.000 untuk transportasi pulang pergi.

"Ya paling tidak mereka dibekali Rp 50.000 oleh orangtuanya," ungkap Yehezkiel.

Desa Guaeria 2018 Merdeka.com/Anisyah

Pada hari ke-2 ini kami menikmati kami menikmati suasana Desa Guaeria hingga malam. Bersyukur mesin genset sudah diperbaiki. Sambil menunggu malam, kami berjalan. Diajak ke atas bukit Guaeria.

Pemandangan menakjubkan langsung menyambut. Dari atas bukit terlihat jelas deretan pulau Maluku Utara. Mulai dari Pulau Tidore, Pulau Maitara, Pulau Ternate dan Pulau Hiri. Keempat pulau itu berderet rapi. Menjelang matahari terbenam, pemandangan empat pulau semakin indah.

Biasanya mulai pukul 5 sore, langit biru di Guaeria mulai berubah warna. Bila musimnya tengah bagus, bisa menjadi warna jingga. Pertanda matahari segera terbenam. Angin laut berhembus menjadi pelengkap keindahan bukit Guaeria.

Pemandangan indah dari atas bukit ini ternyata jarang dinikmati para warga. Mereka lebih senang berada dekat dermaga. Sedangkan anak-anak bermain bola, berenang di pantai atau sekedar lari ke sana kemari bersama-sama.

Bila matahari mulai terbenam, biasanya anak-anak mulai pulang ke rumah. Satu per satu dari mereka dipanggil orangtuanya untuk pulang ke rumah. Tak lama listrik pun menyala. Kami turun dari bukit.

Tidak semua dialiri listrik. Tak ada penerangan jalan hingga mendekat pantai dan dermaga. Sebagai pengganti lampu di pantai, dibuatlah api unggun di pinggir pantai. Suasana terlihat akrab. Tiap orang dewasa tampak berbincang. Sementara masih ada anak-anak tampak berlarian ke sana ke mari di sekitar api unggun.

Malam semakin larut. Jarum jam telah menunjukkan pukul 8 malam. Kami kembali pulang ke Jailolo. Setelah bersalaman dengan warga. Kami diantar ke dermaga. Saat mesin boat nyala, anak-anak asik bermain di pantai berlarian menuju dermaga. Seolah tak mau berpisah, mereka menyebut nama kami satu per satu. Sambil melambaikan tangan mereka melepas kami kembali menuju Jailolo. "Sampai jumpa kakak," teriak mereka sambil melambaikan tangan ke arah kami. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini