Anti Sedotan Sedotan Klub

Senin, 4 Februari 2019 08:16 Reporter : Lia Harahap, Anisyah Al Faqir
Anti Sedotan Sedotan Klub Pengganti Sedotan Plastik. ©2018 hipwee.com

Merdeka.com - "Mari Kita Selamatkan Bumi!" Kampanye ini sudah lama bergaung di telinga. Harapannya sederhana. Agar bumi tetap sehat. Terhindar dari berbagai hal merusak. Terutama sampah plastik, lantaran sulit terurai.

Sejak tahun 1995, persoalan sampah plastik kian pelik. Di tahun itu, sampah plastik di Tanah Air masih di kisaran angka 5 persen. Dalam kurun waktu hampir 20 tahun terakhir, sampah plastik berada di level mendekati 15 persen dari total jumlah timbulan harian.

Sampah plastik bukan cuma kantong belanjaan dan bungkusan makanan. Banyak macamnya. Termasuk sedotan plastik. Bahkan jenis sampah itu menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merilis akhir 2018 lalu, setiap hari ada 93 juta sampah sedotan plastik di Indonesia.

Bentuknya memang kecil. Memanjang dan berlubang. Sedotan justru membawa dampak besar. Terutama bagi permasalahan sampah di bumi. Jika tidak segera ditangani, sampah sedotan plastik justru menjadi ancaman besar.

Bahkan sudah mengganggu ekosistem makhluk hidup. Mungkin sudah banyak melihat video bagaimana seekor penyu hidungnya tersumbat sampah sedotan plastik. Coba saja googling dengan kata kunci penyu dan sedotan. Tragis dan tak tega lihatnya.

Segudang masalah itu membuat sekumpulan muda-mudi bergerak. Menjadi sebuah klub anti sedotan plastik. Turun bersama mengampanyekan setop penggunaan barang tersebut. Gerakan semacam ini marak. Hampir di semua daerah Indonesia. Tujuannya sederhana. Berharap agar masyarakat berbenah diri mencintai bumi.

"Gerakan sosial atau bisa disebut dengan kampanye ini merupakan tanda rasa cinta kami terhadap bumi. Masalah penggunaan sedotan plastik. Terlihat sepele namun berdampak besar terhadap keadaan lingkungan kita," kata Dita, pemilik gerakan sosial nostrawplease.umb kepada merdeka.com, Sabtu pekan lalu.

Dita menceritakan, gerakan ini mulanya hanya sebatas kegiatan kampus dengan tema Indonesia bebas sampah. Belakangan gerakan sosial makin berkembang. Membantu masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi soal sampah plastik khususnya sedotan.

Bagi kelompoknya, sedotan bukan merupakan peralatan penting. Seharunya itu ditinggalkan. Budaya mengonsumsi minuman tanpa sedotan harus digalakkan. Dengan cara itu, justru ke depan sampah sedotan bakal terus berkurang. "Dengan menyetop penggunaan sedotan plastik kita ikut berperan banyak untuk keselamatan lingkungan," katanya.

Lewat gerakan ini, Dita bersama rekan komunitasnya sudah melakukan riset di sejumlah tempat makan. Hampir semua pelanggan menyadari bahaya sampah plastik. Sayangnya, mereka masih sulit meninggalkan gaya hidup 'menenteng plastik'. Perlu ada edukasi tambahan.

Berbagi cerita menjadi cara membuat banyak masyarakat sadar untuk mengurangi pemakaian plastik. Perlahan, disadari Dita, gerakan ini menjadi tren. Banyak diikuti. Banyak respon positif didapat kelompok ini.

Gerakan sosial setop penggunaan sedotan plastik juga sedang digagas Alma dan beberapa temannya. Aksi itu diberi nama Sesapan. Mereka sangat memanfaatkan teknologi guna mengampanyekan gerakan itu. Alma memaksimalkan lewat akun media sosial. Bahkan, dia juga menyediakan lapak dagang sedotan stainless sebagai pengganti sedotan plastik.

Dia bercerita, awal mendirikan Sesapan memang fokus kampanye perihal sedotan plastik. Kelompok ini menyadari sampah sedotan sudah merusak lingkungan dan menyakiti banyak hewan. Setelah berkutat, memberi cerita dan pengalaman, Alma melihat muncul produk sedotan berbahan stainless.

"Lalu kami berpikir untuk sekalian menawarkan solusi alternatif sedotan plastik sambil kampanye supaya orang-orang bisa langsung menerapkannya di kehidupan keseharian," kata Alma, Penggagas Gerakan Sesapan kepada merdeka.com, Minggu pekan lalu.

Selain berkampanye di media sosial, Alma dan teman kelompoknya juga mendatangi sekolah di kawasan Cimahi. Sampai mendirikan tenda. Di sana menyediakan segudang informasi soal sampah plastik. Selain itu, Sesapan juga mulai menjalin relasi dengan bank sampah di daerah tersebut. Bahkan ke depannya mereka bakal mengadakan kegiatan menukat sedotan plastik menjadi sedotan bambu.

Komunitas Sesapan ©2019 Merdeka.com/ instagram @sesapan


Selain menjual sedotan plastik, Alma dan teman-temannya juga memanfaatkan limbah kain perca atau limbah sisa industri fesyen (konveksi) untuk wadah sedotan stainless. Sesapan juga telah memanfaatkan limbah kayu atau kayu sisa packaging untuk wadah sedotan. "Jadi kami memang ingin menyebarkan kepedulian untuk menjaga lingkungan bukan hanya mencari keuntungan materi," kata wanita berhijab ini.

Sejak lapak dagang sedotan stainless itu dia buka, lebih kurang pcs laku terjual. Ke depan, dia ingin mengembangkan model sedotan lipatan agar lebih mudah dibawa saat bepergian, kemudian menyediakan totebag. Sehingga, kebiasaan menggunakan plastik mulai ditinggalkan meskipun sebagian hanya melakukannya demi mengikuti tren.

Pemakai Sedotan Stainless

Kantong serut warna putih jadi benda wajib dibawa Galang. Pergi ke mana saja benda berukuran 35 cm ini diselipkan di tas. Berisi dua sedotan berbahan stainless. Lengkap dengan sebuah sikat pembersih.

Mahasiswa Universitas Maranatha itu baru dua pekan membeli sedotan stainless. Dibeli lewat situs belanja daring. Menyisihkan uang jajan demi menjaga lingkungan. Kantong tadi untuk menyimpan sedotan itu. Agar tidak tercecer dan hilang.

Stop sampah plastik untuk bumi ©Liputan6.com/Angga Yuniar


Kampanye anti sedotan plastik memang menjadi tren. Namun, Galang enggak dibilang ikut-ikutan. Memang dia tak suka menggunakan sedotan. Lebih senang meneguk minuman langsung dari gelas. Alasan kebersihan jadi faktor utama.

Kesadaran itu dirasakan tiap kali jajan minuman dengan sedotan. Dia melihat banyak sedotan disimpan di tempat terbuka. Terkena debu atau asap kendaraan. Belum lagi dilihat dari warna sedotan. Kusam. Bikin pikirannya jelek. Itu didukung dengan bau plastik masti kentara di sedotan.

"Misal kita beli minuman pakai sedotan. Setelah habis kita buang. Kalau sering beli, lama-lama menumpuk jadi sampah plastik," tutur Galang kepada merdeka.com pekan lalu.

Daripada ikut menyumbang sampah plastik, Galang putuskan beli sedotan ramah lingkungan. Dia membeli sepaket sedotan stainless. Mengikuti jejak kakaknya yang beralih ke sedotan alternatif. Dia justru tak tahu kalau itu tengah jadi trend di kalangan anak muda.

Tak mau ikut menyumbang sampah plastik, Galang memutuskan membeli sedotan ramah lingkungan. Diakuinya, sang kakak menjadi inspirasi meski harga sepaket sedotan stainless terbilang mahal. Di situs belanja online, sepaket sedotan stainless dibanderol dari harga Rp20.000-Rp100.0000. Sedotan kaca Rp15.000-Rp50.000 per batang. Sedangkan sedotan berbahan bambu Rp 10.000 per batang.

Variasi harga disesuaikan dengan jumlah sedotan dalam tiap paket. Ada dua model sedotan bukan plastik, lurus atau bengkok. Ada juga perpaduan keduanya. Jenis penyimpanan juga menentukan harga. Ada yang berbahan kain kanvas, perca, kayu hingga stainless juga.

Sadar gerakan anti sedotan plastik juga dirasakan Sendy. Barista di Bandung ini juga sudah lama meninggalkan sedotan plastik. Sebagai gantinya, dia selalu membawa dua sedotan stainless ke mana pun pergi. Harga belinya saat itu Rp 7.500 per batang. "Malas saja pakai sedotan (plastik), kalau sudah dipakai terus dibuang. Jadi sampah plastik kan," kata Sendy pekan lalu.

Sebagai perokok aktif, dia sadar telah mencemari udara tiap kali menyulutkan api di batangnya. Dia juga tak bisa berhenti dari kebiasaan ini. Tapi soal sampah plastik, dia merasa terpanggil untuk ikut menguranginya.

Selain beralih pada sedotan stainless, Sendy mulai membawa tempat minum dan makan dalam tiap aktivitasnya. Sama dengan sedotan plastik, membeli minuman kemasan akan menambah gunungan sampah sulit terurai. Bonusnya,dia ikut menjaga lingkungan dan bisa berhemat.

"Beberapa orang melihat aneh hal tersebut. Tapi dia tak mau ambil pusing. Justru menjadi kepuasan sendiri," ucap Sendy.

Kebiasaan Sendy tak lepas dari lingkungan pekerjaannya sebagai barista. Dia dituntut menjaga kebersihan, teliti dan rapi. Pemilik kedai kopi tempatnya bekerja juga memiliki fokus terhadap isu lingkungan. Salah satunya sampah plastik. Gerakan itu juga didukung atasannya.

Akhirnya Desember tahun lalu, pemilik kedai kopi tempatnya bekerja, datang membawa bungkusan. Berisi Sedotan stainless ke meja tempat Sendy bekerja. Ada 24 batang sedotan stainless model bengkok. Tak banyak penjelasan dari atasan. Hanya menyebut kedai kopinya tak lagi menyediakan sedotan plastik.

"Bos aku cuma bilang, mulai sekarang kita pakai ini saja," kata Sendy mengulang pernyataan bosnya. Sejak saat itu kedai kopi ini perlahan meninggalkan sedotan plastik. Tak lagi memasukkan sedotan plastik dalam daftar belanja. Meski tak banyak, namun memangkas biaya pengeluaran.

Upaya mengurangi sampah sedotan plastik juga gencar dilakukan restoran hingga kafe kecil lainnya. Di Kota Bogor, kedai kopi Maraca Coffee juga memutuskan tak lagi menyediakan sedotan plastik.

"Kita bukan 2016, kita mulai menggunakan meninggalkan sedotan plastik itu 2018," kata Risya, pemilik Maraca Coffee saat berbincang dengan merdeka.com.

Ide itu muncul setelah dia dan tim mengamati isu global di mana Indonesia masuk negara ke lima besar penyumbang sampah plastik. Apalagi sejak tahun 2018, kata dia, banyak penelitian menyebut sedotan plastik termasuk penyumbang terbesar sampah plastik juga.

"Di kita saja dulu, itu seminggu bisa 1.000 buah sedotan plastik per hari, bukan karena ada yang datang seribu, tapi kadang ada yang jatuh atau dimainin anak," katanya.

Di awal, katanya, banyak pengunjung bertanya. Tentu saja, dia dan tim sudah mengatur straegi, semisal langsung mengatakan pada pembeli, di tempatnya sudah tidak lagi menyediakan sedotan plastik. Sehingga, pengunjung bisa memilih tetap membeli atau tidak.

Suatu hari, Risya mengunggah sedotan kaca miliknya di akun media sosial. Dia menceritakan kenapa memilih sedotan tersebut. Hasilnya positif, banyak teman berminat ingin punya. "Kemudian banyak yang minta dijual. Sekarang itu sebulan bisa laku 100-an sedotan bambu dan stainless. Kita pernah kirim ke Aceh dan Papua juga," katanya.

Dia berharap gaya hidup tanpa sedotan plastik bukan sekadar kampanye biasa. Masyarakat luas diharapkan terus meninggalkan sedotan plastik sebagai upaya menjaga lingkungan dan bumi. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini