Anak muda di belakang Prabowo-Sandiaga

Senin, 5 November 2018 08:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Pawai Deklarasi Kampanye Damai. ©2018 Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho

Merdeka.com - Keterlibatan anak muda dalam dunia politik menjadi tugas penting. Membangkitkan mereka untuk terlibat dalam pesta politik lima tahunan. Apalagi ini momen bersejarah. Buat pertama kalinya, Indonesia melaksanakan pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden dalam waktu bersamaan.

Politik kerap dikaitkan milik orang tua, kolot dan jauh dari anak muda. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi para politisi. Untuk itu mereka berkoalisi. Mengajak anak muda. Bahkan menjadi juru bicara.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 mencatat pemilih muda mencapai 15-20 persen dari jumlah total 190 juta daftar pemilih tetap. Artinya ada sekitar 38 juta suara anak muda. Pada tahun 2018 jumlahnya pemuda meningkat dua kali lipat.

Menurut data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) jumlah pemilih milenial mencapai 100 juta jiwa dari total 196,5 juta pemilih. Sementara menurut survei Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) ada 34,4 persen jumlah pemilih di usia 17-34 tahun.

Meningkatnya jumlah pemilih muda tidak berbanding lurus dengan keterlibatan anak muda dalam dunia politik. Di era perkembangan teknologi ini, anak muda dirasa apatis soal politik. Sebab, kondisi politik Indonesia membuat generasi milenial seolah alergi.

Sepanjang tahun 2018 hingga bulan Oktober tercatat tujuh kepala daerah ditangkap KPK diduga melakukan tindak pidana korupsi. Belum lagi pada bulan September lalu, sebanyak 41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang ditetapkan sebagai tersangka karena kasus korupsi pembahasan APBD-P tahun 2015. Bukan tak mungkin, kasus korupsi ini membuat anak muda makin muak dengan politik praktis.

Banyak rapor merah politikus. Meski begitu, masih ada di antara anak muda justru terlibat politik dengan alasan untuk memperbaiki negeri. Niat itu perlu diapresiasi. Mereka sudah berani berpolitik dengan cita-cita mulia walau masih minim pengalaman.

Seperti dilakukan Irene. Seorang perempuan tangguh berprofesi sebagai dokter, pengusaha, sekaligus pegiat pelestari binatang langka. Dia kini terjun ke dunia politik. Sebagai anak muda, Irene tak mau ikut-ikutan terbawa arus melihat politik sebagai permainan kotor. Dia justru melihat sisi positif dari politik.

Perhatiannya tertuju pada ketimpangan sosial terjadi saat ini. Inflasi di Indonesia begitu terasa bagi masyarakat menengah ke bawah. Dari situ dia memutuskan nyemplung di politik.

Juru Bicara Prabowo-Sandiaga 2018 Merdeka.com


Pada debut perdananya, Irene langsung dipercaya jadi juru bicara. Di tim pemenangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Irene bertanggungjawab sebagai juru bicara demi memikat generasi milenial. Sebagai independen, Irene membawa misi perbaikan kesehatan di Indonesia. Khususnya masalah keselamatan ibu hamil dan penanganan stunting growth di Indonesia.

"Kerinduan ingin ikut berkontribusi dalam pembangunan Indonesia menjadi alasan saya," kata Irene pekan lalu kepada merdeka.com.

Mengenai stunting growth. Ini merupakan masalah pertumbuhan janin dan bayi berupa kekurangan gizi kronis. Disebabkan asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan tidak sesuai dengan kebutuhan.

Bagi Anak menderita 'stunted growth' pertumbuhan badannya tidak sempurna sehingga sebagian besar bertubuh pendek. Namun, pengaruhnya tidak hanya dari segi fisik saja, perkembangan otak anak menderita stunting lebih lambat dibandingkan dengan anak-anak sehat.

Indonesia merupakan negara nomor lima dengan angka stunting tertinggi di dunia. Lebih kurang sebanyak 9 juta anak Balita Indonesia atau sekitar 37 persen mengalami stunting.

Selain Irene, tokoh muda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak juga mewarnai deretan pemuda di kubu Indonesia Adil dan Makmur. Mantan Ketua PP Muhammadiyah ini bahkan dipercaya jadi koordinator juru bicara tim pemenangan Prabowo-Sandiaga.

Dahnil bercerita, pasangan nomor urut 02 memercayakan anak muda untuk berkiprah di dunia politik. Alasan Prabowo memilih Sandiaga di antara cawapres lainnya, semata memberikan ruang dan kepercayaan anak muda untuk berkontribusi dalam pembangunan. "Tujuannya untuk meningkatkan literasi politik anak muda," kata Dahnil.

Dahnil Anzar bersama Prabowo dan Sandiaga bergaya kasual 2018 Merdeka.com/ instagram @dahnil_anzar_simanjuntak

Lebih jauh, Dahnil menunjukkan, tiap orang di sekitar Prabowo adalah anak muda. Baginya, Sandiaga ikon yang merepresentasikan pemuda sukses tidak alergi politik. Artinya Prabowo memberikan ruang kepada anak muda untuk terlibat dalam pembangunan negara

Dahnil bahkan melihat mantan Danjen Kopassus itu berpolitik bukan sekadar kalah dan menang. Melainkan edukasi politik dan pengaderan. Sebab, Dahnil merasa masih banyak anak muda gagap politik. Padahal banyak di antara mereka justru memiliki kemampuan untuk di bidang ini. Sebaliknya, dengan kemampuan dan kreativitasnya anak muda dituntut bisa menyesuaikan diri dan menciptakan berbagai perubahan baru.

Karena itu dia yakin pasangan diusung Partai Gerindra, PKS, PAN dan Demokrat ini lebih mudah diterima anak muda. Meski usia Prabowo bukan milenial, tetapi sangat pro anak muda. Kesempatan diberikan Prabowo sejatinya adalah mempersiapkan calon-calon pemimpin muda di masa depan. "Secara tersiratnya begitu," ucap Dahnil.

Dahnil meyakini strategi itu bisa meyakinkan anak muda bahwa Prabowo-Sandiaga pemimpin terbaik saat ini. Selain itu, dalam visi misi dan program kerja, koalisi ini telah memetakan program jangka panjang di berbagai sektor. Misalnya pertanian.

Fokus masalah ekonomi

Prabowo dan Sandiaga sepakat untuk fokus pada masalah pertanian dan energi. Sebab, di masa mendatang Indonesia akan berhadapan dengan perang pangan dan energi. Dua aspek ini akan mempersiapkan Indonesia sebagai negara berdaulat dan kuat.

Masalah ekonomi juga jadi fokus jangka panjang Prabowo-Sandiaga. Hari ini, generasi milenial khawatir tak bisa sejahtera hidupnya. Sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan menjadi pekerjaan rumah tak kunjung selesai diatasi pemerintah.

Di era perkembangan teknologi akhirnya generasi milenial ini mencoba wirausaha. Menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Namun kubu penantang petahana ini melihat pengusaha milenial masih butuh keberpihakan. Keberpihakan secara regulasi dan iklim usaha.

"Selalu yang dihadapi anak muda ini masalah permodalan dan akses pasar," ujar Dahnil.

Maka itu di bawah kepemimpinan Prabowo-Sandiaga nanti, kondisi diharapkan tidak akan lagi terjadi. Sebab mereka telah menyiapkan pelbagai solusi. Salah satunya sistem permodalan kepada pelaku usaha tanpa agunan.

Senada dengan Dahnil, Irene sudah membayangkan bila Prabowo-Sandiaga memenangkan pilpres 2019. Nantinya akan ada 130 juta pasar akan tumbuh sebagai ladang milenial mendirikan wirausaha. Roda perekonomian juga akan berputar dan berdampak pada penurunan angka kemiskinan.

Untuk itu, sudah saatnya anak muda ambil peran di politik. Menciptakan perubahan baru. Bukan hanya sebagai penonton. "Supaya kita enggak jadi penonton dan bisa bersaing," ujar Irene. "Tidak ada dari kami yang bermusuhan. Kami mau persaingan ini untuk kemajuan Indonesia dan mau kita bisa fokus ke hal yang lebih penting seperti pemaparan visi misi daripada hoaks dan lain-lain," kata dia mengakhiri.

[ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini