AHY: Saya Harus Siap!

Selasa, 2 April 2019 07:00 Reporter : Angga Yudha Pratomo
AHY: Saya Harus Siap! Wawancara Khusus AHY. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com -

Ada anggapan bahwa AHY merupakan calon potensial pengganti SBY untuk memimpin Partai Demokrat setelah mendapat mandat memimpin kampanye memenangkan partai di Pemilu Serentak ini. Bagaimana Anda melihat peluang itu?

Saya harus siap dengan segala kondisi dan misi yang harus saya emban, mandat yang saya terima itu juga tidak pernah kita pikirkan sebelumnya ternyata ibu Ani sakit, harus dirawat intensif di Singapura.

SBY juga tidak bisa meninggalkan dan akhirnya menyerahkan mandat pemilu kepada somebody yang dianggap punya kapasitas. Untuk itu saya pikir itu lagi-lagi itu yang saya katakan secara alamiahnya, tidak dipaksakan, tanpa penjelasan yang khusus lalu ada mandat, karena Partai Demokrat tertib dengan etika politik di dalam tubuh partai, kami punya mekanisme.

Anda termasuk orang baru di politik, apakah sejauh ini untuk konsolidasi di internal mengalami kesulitan? Bisa diceritakan seperti apa?

Pertama ini kehormatan bagi saya yang terbiasa terdidik dan terlatih di tentara bahwa tugas itu kehormatan yang harus saya kerjakan, perjuangkan sekuat tenaga. Makanya setelah itu segera saya lakukan rapat koordinasi dengan para pimpinan partai di tingkat daerah, ketua DPD, tokoh senior Partai Demokrat karena yang terpenting adalah mendapatkan trust, saling membangun trust building terhadap beliau dan kepada saya.

Alhamdulillah, saya mendapatkan kepercayaan dari segenap jajaran kader Partai Demokrat untuk bisa memimpin perjuangan ini di masa yang genting, di akhir dari masa kampanye. saya memiliki kepercayaan diri untuk melakukan berbagai macam strategi dan mengaktualisasikan nya di lapangan.

Jadi hampir dikatakan seluruh lokasi, saya terus komunikasi dengan para pimpinan Partai Demokrat. Memberikan semangat, dan yang paling penting itu, cuma 5 menit saya telpon memberikan semangat, ketemu 30 menit sambil makan saya kasih semangat sambil saya nanya apa masalahnya. Saya catat. Dan sebisa mungkin saya kasih solusi kalaupun tidak pasti saya akan sambil berjalan mencari cara-cara untuk menghadapi itu.

Sementara dengan para kader senior Partai Demokrat, apakah ada kesulitan dalam melakukan konsolidasi dengan mereka?

Saya bersyukur karena di bagian timur Indonesia ada Pakde Karwo (mantan Gubernur Jawa Timur Soekarwo), kemarin juga ada Pakde Karwo, betapa hubungan kami dekat, tidak terlihat beliau senior, tidak sama sekali, saya selalu hormat kepada beliau-beliau, jadi hubungannya baik sekali.

Lalu ada Pak Nara (Nachrowi Ramli) itu satu angkatan dengan Pak SBY di militer. Jadi sudah seperti orang tua sendiri tapi dalam menjalankan tugas kami sangat profesional sekali, saling mendukung karena kita fokus pada satu hal yang sama, tidak terlihat sesuatu yang janggal.

Justru Sekjen Partai Demokrat, Pak Hinca Panjaitan selalu support. Sama, ini yang tidak dimiliki di tempat lain mungkin karena dianggapnya pasti baru datang langsung dapat peran luar biasa, justru saya melihat kader mengucapkan terima kasih. Mereka malah bilang kalau enggak ada AHY bagaimana? Kan semua pada nyaleg dengan tugas masing-masing.

Alhamdulillah saya memang ingin mendedikasikan 2019 untuk support teman-teman di lapangan.

Bisa diceritakan bagaimana pembagian tugas Anda dengan Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas dalam Pemilu Serentak ini?

Kami termasuk kaka adik yang sangat akur dan sangat menghormati satu sama lain. Tadi saja juga kita saling kirim foto, nanti mau datang ke pacitan, saling dukung sama lain. Mas Ibas punya peran di KPP (komisi pemenangan Pemilu), kemudian dia juga caleg dua periode, pertama dapat suara yang besar se-indonesia.

Saya harap ini juga sukses buat dia. Saya harap dia juga bisa menjaga tugas-tugasnya di kepartaian dan sebagai ketua fraksi Partai Demokrat di DPR. Saya juga punya tanggung jawab moral yang lain.

Ibas jadi ketua fraksi, AHY pemenangan pemilu.

Tapi intinya, saya juga enggak pernah tahu kalau di militer tahunya masuk politik dalam satu keluarga jadi keluarga politik akhirnya, enggak banyak yang kaya gitu, tapi kami saling support satu sama lain dan akhirnya bersaing kita enggak pernah, kita sayang satu sama lain. Kita saling, sharing satu sama lain dengan senang hati.

Waktu di Pilgub Jakarta, juga dia support habis. Saatnya saya support dia di legislatif Jatim 7 di Pacitan, Ponorogo, Magetan, Ngawi dan Trenggalek.

AHY di Rapat Akbar 02 2019 Merdeka.com/Nuryandi Abdurohman


Mengapa Partai Demokrat mengembangkan strategi rel ganda? Lalu bagaimana mengimplementasikan dalam Pileg dan Pilpres saat ini?

Sebetulnya yang kasat mata itu tadi, pertama kali kebersamaan kami sama prabowo, tapi sebetulnya day one, sejak kami berkomitmen dengan Prabowo-Sandi kita langsung bekerja, tidak harus selalu diketahui oleh umum termasuk, mungkin tidak ter-capture oleh media.

Tetapi kami selalu kami memberikan masukan, konsep strategis yang fundamental untuk menyukseskan perjuangan pilpres Prabowo-Sandiaga, dan ini kita lakukan ada yang diam2 karena itu strategi, tapi ada yang kita publikasikan. Kami tidak mau koalisi ini hanya sebagai gimmick politik, koalisi itu harus solid, benar-benar untuk penyuksesan atau kemenangan hingga akhirnya kami memilih untuk menjalankan strategi rel ganda. Secara proporsional.

Dan saya bisa berani mengatakan Partai Demokrat paling berani menyuarakan itu ke publik, kan kalau yang lain malu-malu dan takut di bully. Politik dua kaki, sana-sini karena mereka tidak memahami bahwa ini konsekuensi dari Pemilihan Serentak dan akhirnya mereka menyadari, mati kita gara-gara ini malah tergerus suaranya, dan lagi-lagi yang menikmati efek ekor jas itu PDIP dan Gerindra.

Lalu apa kabar dengan partai lain? Semua juga kan ingin eksis. Bayangin kalau enggak lulus ambang batas, 5 tahun enggak ada di Parlemen Senayan, setelah 5 tahun itu enggak punya kegiatan, logistik, media, hilang dan dilupakan publik dan Partai Demokrat tidak ingin, kita pernah menang Pemilu, Pilpres dua periode. Kita ingin mengatakan kita enggak munafik tapi kita strategi rel ganda, Pileg sukses, Pilpres juga punya kebersamaan.

Nah, untuk pilpres itu saya tahu, kader dan caleg kami bekerja utamanya di daerah prabowo kuat, mereka juga bekerja, menyuarakan perubahan.

Saya katakan juga, buktinya paslon cuma ada Prabowo-Sandi lagi di sebar, kebetulan saya bisa, ya gabung kita. Enggak mungkin kita bareng terus karena saya dan tawaran sendiri, demokrat itu tentu tidak hanya menggantungkan apa pun itu untuk capres, itu kan kaya kita gak punya kepribadian, makanya yang penting kita pasang capresnya , lho sebagai partai yang punya entitas kok kaya gak punya program, gagasan. Mohon maaf kami ingin ada sesuatu yang mau ditawarkan.

Itulah 14 prioritas demokrat untuk rakyat. Itulah yang kita tawarkan kepada prabowo.

Bagaimana hasil evaluasi strategi rel ganda sejauh ini?

Saya melihat ada pergerakan atau tren positif, meski tidak sesuai dengan yang kita harapkan karena ini terkait dengan survei. Survei yang kita tahun dipublikasikan oleh berbagai lembaga itu ada yang terlalu tendensius, tetapi ada juga saya anggap cukup rasional.

Kami juga melakukan survei internal yang tidak kami buka sebagai rujukan, karena bagaimanapun terlalu sering ya tidak sama dengan hasilnya.

Pilkada DKI Jakarta kemarin banyak yang surveinya bagaimana, tapi kalau juga, yang suaranya kecil terus melonjak naik. Malaysia sendiri sampai terakhir Najib masih unggul dari Mahatir. Tapi akhirnya Mahatir yang menang. Donal Trump terakhir Hillary yang menang tapi Donald Trump yang menang. Banyak contohnya baik di dalam maupun luar negeri.

Bukan kami tidak percaya survei tapi jangan sampai survei yang dibaca kader ini malah jadi down. Partai Demokrat lalu malas, itu enggak boleh. Itu hanya sebagai guidance saja, sebagai referensi, tetapi tetap yang dilakukan harus ikhtiar di lapangan sampai dengan tanggal 17 April 2019.

Hasilnya harus kita terima dan itu takdir tapi sebelumnya jangan merasa kalah duluan karena lihat survei bagus jadi tenang-tenang saja. Hati-hati yang lain juga begitu,

Saya katakan ada yang sesuai target, tetapi ada juga yang harus kerja keras.

Dalam kampanye di Bandung, Prabowo menimbang sosok AHY cocok sebagai menteri. Bagaimana Anda melihat pernyataan itu?

Saya pikir kewajaran dalam sebuah koalisi, koalisi manapun pada akhirnya ingin tapi bukan berarti bagi2 kekuasaan tapi ingin menempatkan orang-orang terbaik yang dianggap kapabel pada posisi yang tim untuk bisa dikerjakan untuk memperbaiki ke depan.

Saya terima kasih tadi, Prabowo secara eksklusif bertanya kepada rakyat siapa yang pantas jadi menteri. Saya terharu kalau dianggap saya juga layak untuk bisa berkontribusi lebih luas lagi dengan jabatan politik yang formal, tapi lagi-lagi saya ingin fokus dulu di Pemilu ini supaya tidak terlalu luas polemik, spekulasinya. Ikhtiar dulu saja karena itu akan datang juga kalau kita sukses di sini.

Dan saya ingin tentunya menjadi inspirasi anak muda, saya ingin sekali anak muda lebih tidak hanya peduli dengan politik karena pada akhirnya semua hal yang kita lakukan dan rasakan di negeri ini pada ujungnya tergantung pada keputusan politik. Kepemimpinan politik di negeri ini baik di tingkat daerah ataupun tingkat nasional. jadi kalau kita tidak terlibat secara langsung kita lah yang melibatkan secara langsung. Harus siap bukan menunggu kesempatan tapi meraih kesempatan. [ang] SEBELUMNYA

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini