Adu akal berebut milenial

Senin, 10 September 2018 08:00 Reporter : Anisyah Al Faqir
Sandiaga Uno beri kuliah umum soal Membangun Jiwa Entrepreneurship Dalam Menyongsong Revolusi Industri 4.0 di Universitas Islam Riau. ©2018 Merdeka.com/ Instagran @sandiuno

Merdeka.com - Sebuah video berdurasi satu menit diunggah akun Facebook Sandiaga Salahudin Uno. Akun resmi. Bercentang biru tanda verifikasi. Dalam video, calon wakil Presiden di Pilpres 2019 itu terlihat asiyk bernyanyi di pinggir jalan kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

Malam itu Sandi tampil berkaos kerah warna biru muda. Celana warna dan bersepatu olahraga. Tak lupa kaca mata minus bertengger di hidung. Pasangan dari Prabowo Subianto ini terlihat menikmati suasana. Santai. Mengikuti alunan musik musisi jalanan. Menyanyikan lagu Mahadewi karya band legendaris Padi. Sesekali dia mengajak banyak orang sekitar ikut bernyanyi.

Banyak masyarakat ikut ajakan Sandi. Mereka bernyanyi. Bersenang-senang. Sambil melepas penat. Menikmati musik di jalanan malam itu. Tak sedikit pengunjung mengabadikan momen itu lewat telepon genggamnya. "Semalam ngejam bareng seniman jalanan membawakan lagu Mahadewi dari Padi. Yang ngefans sama Padi mana suaranya?" tulis Sandi melengkapi unggahan pada 26 Agustus 2018.

Hingga sabtu pekan lalu, video itu telah diputar 78 ribu kali dan disukai 10 ribu pengguna Facebook. Dibagikan 1.600 kali dan dikomentari 500an warganet. Beragam pendapat banjir di kolom komentar. Dari pujian hingga sindiran. Misalnya seperti pemilik akun Elvinita A Malik. Dalam kolom komentar dia memuji Sandiaga sambil menyinggung lawan politik mantan wagub DKI itu. "Bang Sandi terlalu keren untuk disaingi kubu sebelah (ampun kiyai)" tulis Elvanita.

Ada pula warganet merekomendasikan tempat sejenis tak kalah menarik. Yakni di Taman Suropati di depan Gedung Bappenas Jalan Diponegoro. Tempat para musisi jalanan biasa mengekspresikan diri.

"Next time nongkrong di taman musik Suropati ya Pak. Di sana juga ada live music. Keren-keren nyanyinya," tulis akun Marliana Djeni.

Ada pula sindiran tajam buat Sandiaga dilontarkan warganet. Menyebut dirinya cuma meniru calon presiden petahana Joko Widodo alias Jokowi. Pemilik akun Bin Sharkoyan menuding Sandiaga contek gaya Jokowi agar disukai kaum milenial. "Gaya Pak Sandi ini tiru-tiru Jokowi kayaknya/coba dong Pak Sandi bikin kreatifitas yang murni ala sandi gitu bisa enggak," kata Bin di kolom komentar.

Sehari sebelumnya, Jokowi mengunggah sebuah foto lama. Kala Jokowi masih muda. Mengenakan topi hitam. Kaos biru berbalut jaket dan celana jeans hampir lusuh. Tengah berjongkok di depan kompor berwajan.

Terlihat tengah menuangkan kecap ke dalam wajan. Wajan berisi rebusan mie instan. Tak sendiri, ada dua temannya turut merebus mie instan dalam wajan.

Pada unggahan itu Jokowi sedikit bercerita. Dulu, katanya, dia sering ke gunung. Menjelajahi alam bersama teman-teman. Membawa perlengkapan seadanya. "Kami berjalan ke hutan, tidur di tenda, berbekal ala kadarnya seperti mie instan," tulis Jokowi lewat akun Instagram @jokowi pada 25 Agustus Lalu.

Jokowi unggah foto muda di Instagram 2018 Merdeka.com/ Instagram @jokowi


Hingga pekan lalu, foto itu telah disukai 984 ribu pengguna Instagram. Foto itu juga dibanjiri hampir 30 ribu komentar. Mulai dari apresiasi, harapan hingga sindiran.

Penyanyi Krisdayanti pun ikut berkomentar. Di kolom komentar, Krisdayanti mengometari teman-teman Jokowi dalam foto itu. "Saat ini pasti teman Bapak setenda di gunung sedang bangga luar biasa fotonya termuat di sosmed bapak @jokowi. Bangga," tulis akun @krisdayantilemos.

Tentu saja sama seperti Sandiaga. Banyak pula mereka nyinyir soal foto unggahan Jokowi. Di kolom komentar pun semakin beragam. Seperti pemilik akun @aerlanggi_setiawan menyebut Jokowi tak bisa memimpin negara. Tidak lupa mencamtumkan tagar #2019gantipresiden.

"Tetap enggak becus urus negara. Serahkan saja sama ahlinya #2019gantipresiden," tulisnya.

Jokowi tak perlu balas komentar negatif. Para pendukungnya tentu sadar. Mereka bantu idolanya menangkis komentar nyinyir. Komentar itu lalu dibalas pemilik akun @nyai_riska97. Menurutnya, komentar kepada Jokowi itu masuk sebagai hujatan. Apalagi dia meyakini bahwa Jokowi belum melakukan kesalahan dan minta rakyat menghormati tiap kinerjanya.

Akun itu juga menilai bahwa Jokowi tidak layak dihujat. "Pak Jokowi itu presiden kita yang harus dihormati. Dia mulai awal menjabat jadi presiden sudah enggak sombong. Dia apa adanya," tulis @nyai_riska97.

Hingga bulan April 2018, The Next Web menyebut Indonesia jadi negara nomor tiga terbesar pengguna Facebook di dunia. Jumlahnya mencapai 140 juta penggguna. Atau setengah dari jumlah penduduk Indonesia yaitu 265 juta jiwa.

Negara dengan jumlah pengguna facebook terbanyak yakni India berjumlah 270 juta. Lalu urutan kedua adalah Amerika Serikat dengan jumlah pengguna 240 juta. Lainnya halnya dengan jumlah pengguna Instagram. Di Indonesia ada 56 juta pengguna. Jumlah ini meningkat 11 juta dari tahun sebelumnya yakni 45 juta pengguna.

Dalam surveinya, Indonesia berada di urutan keempat pengguna Instagram terbanyak setelah Amerika sebanyak 120 juta pengguna, Brazil 61 juta pengguna dan India sebanyak 59 juta. Sementara di posisi kelima berasal dari Turki dengan jumlah pengguna 34 juta.

Masifnya pengguna sosial media di Indonesia jadi celah bagi tiap tim pemenangan Pilpres 2019. Apalagi pengguna sosial media sebagian besar generasi milenial. Yakni mereka yang berusia 17-34 tahun menurut versi Saiful Mujani Research Consulting (SMRC). Bila merujuk data Kemendagri jumlah total pemilih ada 196,5 juta. Sehingga jumlah pemilih kalangan milenial diperkirakan mencapai 100 juta jiwa.

Suara milenial sangat potensial

Tim sosial media Prabowo-Sandi, Raditya Putra Pratama mengaku bakal memaksimalkan media sosial sebagai sarana edukasi politik kepada milenial. Dimulai lewat edukasi politik, dia berharap bisa menyampaikan visi, misi dan program kerja jagoannya. Itu terus dilakukan demi meyakinkan banyak anak muda pilih Prabowo-Sandiaga.

Harus diakui, membidik milenial bukan perkara mudah. Tantangan tim pemenangan bukan hanya mendulang suara anak kekinian saja. Hal utama adalah mendorong generasi muda untuk melek politik. Mengeluarkan mereka dari zona nyaman. Lantaran banyak di antara mereka apatis tentang politik. Tim Prabowo-Sandi terus berusaha menggaet pemilih muda guna menekan angka golongan putih (golput) di kalangan milenial.

Media sosial diyakini jadi saluran efektif menggaet suara milenial. Semua lini media sosial bakal jadi sasaran. Utamanya lewat jejaring Instagram. Sebab, sebagian besar pengguna media sosial adalah milenial. Pihaknya bakal merancang kampanye kreatif untuk disebarkan lewat media sosial. Misalnya membuat video berdurasi singkat. Pesan dalam video itu akan dibuat sesederhana mungkin. Sehingga mudah dipahami anak muda.

"Pesannya enggak muluk-muluk sesuai visi dan misi. Akan kita kemas sesingkat mungkin tapi pesannya sampai," kata Radit saat ditemui merdeka.com Jumat pekan lalu.

Langkah ini bukan tanpa dasar. Sebab milenial memiliki sifat pragmatis dan tak mau ambil pusing. Mereka, kata dia, bukan tipe penonton bola. Sebaliknya mereka adalah generasi instan. Ingin semua serba cepat. Secepat kilat.

Tak hanya itu, gaya hidup milenial pun mulai berubah. Bila sebelumnya banyak berorientasi ingin bekerja di perusahaan, kini anak muda mulai meninggalkan cara pandang itu. Mereka ingin memiliki pekerjaan dengan waktu fleksibel. Santai tapi memiliki masa depan cerah.

Maka itu, ujar Radit, trend berwirausaha perlahan mulai digandrungi milenial. Semua itu terlihat pada Sandiaga, sosok dikenal banyak masyarakat Indonesia memiliki kisah panjang dalam dunia usaha. Sandiaga memiliki jalan panjang sebagai pengusaha dan berakhir dengan kesuksesan.

Politisi Partai Gerindra ini memastikan kampanye lewat media sosial berasas demokrasi sejuk. Demokrasi tak memecah belah. Tak menggunakan pelbagai cara kotor atau kampanye hitam demi menjatuhkan lawan politik.

"Boleh melakukan kritik, tapi bukan menjatuhkan. Walau bagaimanapun Pak Jokowi sudah melakukan yang terbaik. Hanya kita menginginkan yang lebih baik dari Pak Jokowi," ucapnya.

Kondisi serupa juga dilakukan tim penggalangan pemilih muda pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Tsamara Amany. Dia sepakat media sosial jadi sarana efektif untuk kampanye. Khususnya untuk kaum milenial. Sebab bisa menjangkau milenial di seluruh penjuru. Namun, menurutnya tak bisa mengandalkan kekuatan jaringan internet. Pertemuan tatap muka juga menjadi penting dilakukan.

Secara porsi kekuatan, milenial sangat diperhitungkan. Bila tim berhasil menggaet suara milenial, bukan tidak mungkin akan berdampak positif terhadap kemenangan paslon Jokowi-Maruf Amin di Pilpres 2019. Demi mendapatkan dukungan maksimal maka caranya pun harus lebih kreatif. Edukasi politik pada milenial bukan hanya lewat media sosial saja. Tapi dengan cara melibatkan mereka dalam proses politik.

"Harus melibatkan mereka agar mereka mempunyai kontribusi bukan sekedar mencoblos," kata Tsamara kepada merdeka.com Jumat pekan lalu.

Dari kacamata politik, generasi milenial terbagi menjadi dua kelompok. Partisipatif dan apolitis. Kelompok milenial dalam kategori politis terbagi dalam beberapa kelompok lagi. Pertama, mereka sama sekali tidak tertarik dengan politik. Kedua, mereka percaya bahwa politik tidak bisa membawa perubahan alias politik itu kotor.

Pendekatan kepada milenial apolitis inilah tidak bisa mengandalkan media sosial. Didekati dengan cara lebih santai dan menarik. Mengajak mereka bicara langsung. Turun gunung menjemput bola. Caranya, masuk lewat berbagai komunitas ternama. Mengajak mereka berdiskusi dengan forum grup discussion (FGD). Menanyakan kebutuhan dasar mereka langsung. Minimal bila mereka enggan untuk terlibat langsung dalam politik praktis, kata Tsamara, bisa tertarik dengan banyak hal berhubungan dengan kepentingan pribadi.

Untuk itu, lanjut Tsamara, baik lewat sosial media dan tatap muka harus berjalan beriringan. Peran sosial media bukan hanya digunakan untuk pencitraan demi meningkatkan popularitas. Tetapi harus juga meningkatkan kesadaran berpolitik. Sehingga, jalur darat dan jalur udara harus dimaksimalkan demi kemenangan sang jagoan.

"Dua-duanya harus jalan beriringan. Untuk memperkuat relasi itu ya harus ketemu, harus ada kegiatan offline," kata Tsamara.

Jokowi dan Probowo nonton Pencak Silat 2018 Laily Rachev - Biro Pers Setpres


Sementara itu, Pengamat politik Universitas Gajah Mada Arie Sudjito mengungkapkan, meski belum memasuki masa kampanye politik, namun masing-masing kandidat telah melakukan sosialisasi. Pengenalan diri kepada masyarakat luas. Sejauh pengamatannya keduanya sangat memperhitungkan suara milenial. Misalnya, bakal calon presiden petahana kerap bergaya anak muda. Mulai dari nonton film di bioskop. Mengenakan busana kasual dalam berbagai kesempatan. Hingga teranyar ikut berpartisipasi dalam pembukaan Asian Games bulan lalu.

Tak hanya itu, dalam beberapa forum anak muda bahkan Jokowi menunjukkan pesan dan komitmennya kepada milenial. Menunjukkan karyanya selama menjadi pemimpin negara. Tak hanya itu, pemilihan pengusaha muda Erik Tohir sebagai ketua tim kampanye nasional bukan tanpa alasan. "Jokowi tahu persis kalau anak muda harus disapa," ucapnya.

Demikian pula dengan penantangnya Sandiaga. Mantan wagub DKI Jakarta ini memang bergaya milenial. Sejak Pilgub DKI, Sandiaga telah menunjukkan pelbagai kemampuan bikin kagum kaum milenial. Terutama pada olahraga dan cerita sukses.

Mendekati masa kampanye, dua kubu ini juga memanfaatkan sejumlah publik figur. Cara keduanya dianggap wajar lantaran tengah bersaing demi kursi nomor satu di Indonesia. Merebut hati milenial memang harus dilakukan dengan dua cara. Lewat media sosial dan tatap muka. Kombinasi keduanya bakal memaksimalkan suara milenial.

Lewat media sosial mampu menjangkau ke tempat paling jauh sekalipun. Pesan diterima serempak tak terbatas ruang dan waktu. Namun, responnya tak lantas mudah diketahui. Maka tatap muka untuk berdiskusi menjadi pelengkap. Respon dari pesan-pesan kampanye itu langsung bisa diketahui.

"Idealnya kombinasi, media sosial itu mampu membantu kecepatan dan jarak, tapi ekspresinya lebih nampak secara langsung," terang Arie kepada merdeka.com.

Sedangkan Pengamat sosial Musni Umar mengatakan dari segi jumlah suara milenial bisa memengaruhi kemenangan salah satu kandidat. Hanya saja, dalam pengamatannya, milenial biasanya tidak memiliki ideologi. Sebab mereka mudah dipengaruhi situasi dan kondisi terkini.

Misalnya ketika kondisi ekonomi terpuruk dan terkena dampak langsung. Bukan hal aneh bila milenial menuntut perubahan. Sebab milenial berkarakter pragmatis. Mereka hanya ingin berada di posisi menguntungkan.

Untuk itu, pencitraan di media sosial belum tentu langsung ditelan bulat-bulat. Tetapi selalu beririsan dengan kepentingan pribadi. Apalagi bagi milenial kelas menengah ke bawah. Sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan biasanya menjadi salah satu tolak ukur. Karena masalah ekonomi sebagai kebutuhan dasar. "Jadi sangat situasional bagi mereka dalam menentukan pilihan politik," tegas Musni.

Demi mengatasi itu, partai politik harus menunjukkan komitmennya. Menunjukkan integritas. Terutama tidak korupsi sehingga dapat dipercaya. Setelah itu mereka baru akan menentukan pilihan. Hanya saja, suara milenial belum bisa terbaca kasat mata. Semua bergantung pada situasi di hari pencoblosan. "Kalau menguntungkan akan dipilih, kalau tidak menguntungkan, lebih baik tidak dipilih," tegasnya. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini