Tak Mampu Bayar Biaya Persalinan, Curhat Pasutri Madiun Ini Bikin Pilu

Kamis, 21 Oktober 2021 08:50 Reporter : Rizka Nur Laily M
Tak Mampu Bayar Biaya Persalinan, Curhat Pasutri Madiun Ini Bikin Pilu Ilustrasi Melahirkan. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Surat Keterangan Lahir (SKL) warga Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur ditahan oleh pihak rumah sakit swasta di Surabaya lantaran yang bersangkutan tidak mampu membayar biaya persalinan. Menindaklanjuti hal tersebut, pimpinan DPRD Kota Surabaya meminta manajemen RSUD Soewandhie mengevaluasi pelayanan kesehatan.

"Kasus ini harusnya menjadi koreksi dan evaluasi bagi fasilitas kesehatan yang menjadi kewenangan pemerintah kota," tutur Wakil Ketua DPRD Surabaya Reni Astuti di Surabaya, Kamis (21/10/2021).

2 dari 3 halaman

Curhat Pasutri

Pasangan suami istri Agung Cahyono dan Silvia Damayanti, warga Maospati, mengaku tidak mampu membayar biaya persalinan sebesar Rp15 juta. Akibatnya, SKL sang buah hati ditahan oleh pihak RS. Penahanan SKL oleh pihak RS menyebabkan akta kelahiran anak tak bisa diurus.

Agung dan Silvia kemudian mengadukan persoalan yang dialaminya ke Fraksi PDIP DPRD Kota Surabaya, beberapa hari lalu.

"Akta kelahiran itu hak anak," lanjut Reni Astuti.

Menurut Reni, Direktur RSUD Soewandhie harus melakukan koreksi terkait pelayanan di RS yang dipimpinnya. Mengapa warga memilih berobat ke rumah sakit swasta dibanding ke RSUD Soewandhie yang dikelola pemerintah?

"Sekarang dinas kesehatan perlu turun untuk membantu SKL bisa diserahkan ke warga yang bersangkutan dan dispendukcapil bantu harus menguruskan akta kelahiran itu," ungkapnya, dikutip dari Antara.

3 dari 3 halaman

Kronologi Kejadian

warga surabaya pilih rs swasta rsud soewandhie diminta evaluasi pelayanan
HO-Humas Pemkot Surabaya

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Febria Rachmanita menjelaskan, pasutri Agung Cahyono dan Silvia Damayanti selama ini melakukan pemeriksaan ke Puskesmas Gundih.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kehamilan di puskesmas, pasien diketahui memiliki tekanan darah 140/80 MMHg, dengan diagnosa Pre Eklamsia. Puskesmas Gundih kemudian merujuk pasien ke RSUD dr Soewandhie.

Namun, saat jadwal persalinan pada 30 September 2020 tiba, pasien yang terdaftar sebagai peserta BPJS PBI itu memilih mendapatkan layanan ke rumah sakit swasta atas kemauannya sendiri. Pasien pun melahirkan dengan Sectio Caesar.

Biaya persalinan di rumah sakit swasta itu sebesar Rp15,8 juta, jumlah itu sudah dipotong deposit. Saat hendak keluar rumah sakit, pasien tidak mampu membayarnya.

Pihak rumah sakit memberikan keringanan kepada pasien dengan cara mencicil Rp300 ribu selama 12 bulan. Namun, imbuh Febria, pasutri ini hanya membayar hingga cicilan kedua saja, sedangkan cicilan seterusnya belum pernah dibayarkan. Selain itu, sejak Januari hingga 12 Oktober 2021, pihak rumah sakit tidak bisa menghubungi pasutri tersebut karena nomor ponselnya tidak aktif. Sehingga, komunikasi dilakukan melalui penghubung pasien.

[rka]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini