Ratusan Rumah Warga Blitar Ada di Area Tanah Bergerak Tak Aman, Begini Nasib Mereka

Kamis, 24 November 2022 11:25 Reporter : Rizka Nur Laily M
Ratusan Rumah Warga Blitar Ada di Area Tanah Bergerak Tak Aman, Begini Nasib Mereka Tanah gerak di Kabupaten Blitar. ©2022 Merdeka.com/Dok. BPBD Kabupaten Blitar

Merdeka.com - Ratusan rumah warga Kabupaten Blitar, Jawa Timur, berada di area tanah bergerak dan termasuk zona tidak aman. Untuk itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar mengusulkan relokasi 117 rumah warga yang berada di kawasan berbahaya tersebut.

"Kami sedang menyiapkan rencana lokasi. Sekarang kami usulkan 117 rumah untuk relokasi. Kami upayakan berbagai hal demi keselamatan warga," tutur Kepala BPBD Kabupaten Blitar Ivong Bettryanto di Blitar, Rabu (23/11/2022).

Adapun beberapa daerah di Kabupaten Blitar yang masuk zona tidak aman karena berada di area tanah gerak antara lain Desa/Kecamatan Binangun, Desa Balerejo di Kecamatan Wlingi, kemudian Desa Kalitengah di Kecamatan Panggungrejo. Selanjutnya, Desa Purworejo Kecamatan Wates, Desa Maron Kecamatan Kademangan.

2 dari 3 halaman

Korban Tanah Gerak

tanah gerak di kabupaten blitar

©2022 Merdeka.com/Dok. BPBD Kabupaten Blitar

Bahkan, tanah bergerak di Desa/Kecamatan Binangun sudah menyebabkan bangunan masjid dan rumah marbot rusak pada Minggu (20/11/2022) pagi.

Sebelumnya, kedua bangunan tersebut sudah retak sejak 17 Oktober 2022. Penyebab tanah retak di wilayah tersebut yakni intensitas hujan yang cukup tinggi.

BPBD Kabupaten Blitar juga telah meminta bantuan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung untuk melakukan kajian terkait dengan tanah gerak di Kabupaten Blitar.

3 dari 3 halaman

Relokasi

tanah gerak di kabupaten blitar
©2022 Merdeka.com/Dok. BPBD Kabupaten Blitar

Dari hasil penjelasan PVMB diketahui bahwa jika sudah terbentuk rekahan, saat hujan turun dengan potensi tinggi maka potensi pergerakan tanah besar.

"Rekomendasinya adalah relokasi. Kemudian wilayah yang terdampak ditanami tanaman keras untuk menghambat pergerakan. Jika sudah ada rekahan tanah ditutup dengan tanah liat untuk meminimalkan air masuk ke tanah, karena akan memicu tanah gerak," jelas Ivong, perwakilan PVMG Bandung, dikutip dari Antara.

Relokasi dilakukan sebagai upaya mitigasi dan demi keselamatan jiwa warga. Untuk itu, pihaknya berharap pengajuan relokasi bisa disetujui Gubernur Jawa Timur. Terlebih menurut laporan BMKG, curah hujan antara Desember 2022 hingga awal Januari 2023 masih cukup tinggi.

[rka]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini