Pengelola Tahura Raden Soerjo Larang Aktivitas Motor Trail, Ini Alasannya

Selasa, 16 Agustus 2022 16:41 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Pengelola Tahura Raden Soerjo Larang Aktivitas Motor Trail, Ini Alasannya Kerusakan tanah akibat akitivitas motor trail di Tahura Raden Soerjo Jatim. Instagram Tahura Raden Soerjo ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Unit Pengelola Teknis Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo melarang adanya kegiatan masyarakat pehobi motor trail di wilayah area konservasi. Saat ini mereka pun telah menutup area yang berada di wilayah Jawa Timur itu.

Dijelaskan Kepala Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Ahmad Wahyudi pada Senin (15/8), salah satu alasan ditutupnya kawasan tersebut dari kalangan pehobi motor ekstrem itu karena bisa merusak tanah karena tergerus roda.

"Kegiatan trail itu akan merusak tanah hutan akibat tergerus ban yang bisa menyebabkan erosi,“ tutur Wahyudi di Kota Malang, dilansir dari ANTARA.

2 dari 5 halaman

Suara Motor Mengganggu Satwa

kerusakan tanah akibat akitivitas motor trail di tahura raden soerjo jatim

Instagram Tahura Raden Soerjo ©2022 Merdeka.com

Selain itu, lanjut Wahyudi, suara bising dari kendaraan trail turut menyebabkan dampak lain seperti mengganggu beberapa satwa di kawasan area konservasi tahura.

“Dari sisi suara kendaraan itu, juga mengganggu satwa yang ada di kawasan konservasi," tambahnya.

Wilayah Tahura Raden Soerjo sendiri secara administratif berada di enam wilayah Provinsi Jawa Timur, yakni Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, Kabupaten Jombang, Kabupaten Pasuruan, dan Kota Batu.

Total luasan kawasan konservasi terhitung mencapai 27.868,30 hektare dengan rincian sebanyak 22.908,3 hektare merupakan kawasan hutan lindung dan sebesar 4.960 hektare merupakan Kawasan Cagar Alam Arjuno-Lalijiwo (PHPA).

3 dari 5 halaman

Mengganggu Penyerapan Air Tanah dan Memicu Longsor

Sebelumnya, terdapat peningkatan kegiatan masyarakat pehobi motor trail di wilayah konservasi tersebut. Akibatnya kawasan lindung itu mengalami kerusakan serta mengganggu kehidupan satwa.

Wahyudi mengatakan, aktivitas pehobi motor trail di kawasan konservasi menyebabkan tergerusnya tanah atau erosi yang dalam. Kerusakan itu menyebabkan terganggunya proses penyerapan air ke dalam tanah.

Menurutnya, dengan adanya gangguan penyerapan air ke dalam tanah, maka akan menyebabkan aliran air yang berada di permukaan akan sangat besar pada saat terjadi hujan deras. Dalam jangka waktu yang lama, juga bisa memicu terjadinya longsor.

"Dalam waktu yang lama bisa memicu longsor. Penyerapan air akan terganggu, itu yang akan menyebabkan aliran permukaan akan sangat besar karena adanya lokalisasi air pada satu titik," ujarnya.

4 dari 5 halaman

Penutupan Akses Bagi Pehobi Motor Trail Dilakukan di Semua Pintu

Ditambahkan Wahyudi, penutupan kawasan Tahura Raden Soerjo bagi pehobi motor trail dilakukan di semua pintu masuk, termasuk jalur-jalur kecil. Pengawasan pun akan turut diperkuat oleh tim dari Tahura Raden Soerjo.

Untuk pengawasan tambahan, Pihak Tahura Raden Soerjo akan menambah patroli pada titik-titik tertentu. Selain itu, pihaknya juga akan memasang papan larangan aktivitas menggunakan motor trail dan memasang portal.

"Pengawasan kita lakukan secara sporadis, mana yang kira-kira ada potensi aktivitas trail itu akan kita perkuat dengan patroli. Kemudian juga memasang papan larangan atau juga memasang portal," ujarnya.

5 dari 5 halaman

Ajak Warga Lakukan Pengawasan

Selain itu, Wahyudi juga menggandeng warga sekitar untuk bersama-sama
melakukan pengawasan terhadap aktivitas pehobi motor trail agar tidak tetap nekat di wilayah konservasi itu.

Pihak Tahura melakukan pendekatan secara persuasif, sekaligus mengimbau pehobi bisa melakukan aktivitas motor trailnya di tempat lain dan bukan di kawasan konservasi.

"Kami melakukan pendekatan persuasif, tidak ada denda atau sanksi yang kami lakukan. Kami tidak melarang hobinya, tapi menggunakan sepeda motor trail di kawasan konservasi itu yang kami larang," katanya.

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini