Menilik Perpus GatDa, Perpustakaan Berbayar Sampah di Bojonegoro

Rabu, 1 Desember 2021 13:10 Reporter : Tyas Titi Kinapti
Menilik Perpus GatDa, Perpustakaan Berbayar Sampah di Bojonegoro Perpus Gatda. ©2021 Merdeka.com/Wahyu Budiyanto

Merdeka.com - Beberapa anak datang ke sebuah rumah sederhana di Desa Ngrowo Rejo, Bojonegoro. Di tangannya, para anak-anak tersebut membawa botol plastik kemasan. Ya, siapa bilang sampah hanya berakhir di tempat pembuangan akhir?

Di kampung ini, sampah-sampah anorganik limbah plastik justru bisa ditukar menjadi buku yang bisa dipinjam. Perpustakaan Semangat Muda atau lebih dikenal sebagai Perpus GatDa namanya, perpustakaan ini memang bukanlah perpustakaan biasa.

Bagi yang ingin meminjam buku di perpustakaan ini, mereka wajib 'membayarnya' dengan sampah anorganik. Barulah sang peminjam bisa memilih buku mana yang menarik hati untuk dibaca.

perpus gatda
©2021 Merdeka.com/Wahyu Budiyanto

Dari botol plastik, gelas plastik atau sampah plastik lainnya bisa menjadi alat bayar saat berkunjung di Perpus Gatda. Bak pepatah 'Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui', datang ke Perpus Gatda bisa mendapatkan ilmu dari membaca buku sekaligus mengurangi limbah plastik

Dengan adanya Perpus Gatda ini, masyarakat khususnya anak-anak akan lebih peduli kebersihan lingkungan dengan memanfaatkan sampah plastik. Program ini juga sebuah usaha mengajak masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.

Sampah-sampah plastik yang telah terkumpul, selanjutnya bisa di daur ulang menjadi kerajinan. Meskipun hanya sampah namun plastik tetap memiliki nilai guna yang bisa diberdayakan.

perpus gatda
©2021 Merdeka.com/Wahyu Budiyanto

Sosok di balik Perpus Gatda ini ialah pemuda bernama Agung Ridwan Asmaka. Gerakan pemuda asal Desa Ngroworejo, Bojonegoro ini memang patut diapresiasi.

Tanpa lelah, Ia mengkampanyekan literasi bagi anak di Kabupaten Bojonegoro. Melalui Perpus Gatda dengan sarana becak keliling, Agung mengajak anak-anak untuk gemar membaca.

perpus gatda
©2021 Merdeka.com/Wahyu Budiyanto

Selain mendirikan Perpus GatDa, pria yang hobi pantomim ini mempunyai beberapa karya lainya yaitu les bayar sampah dan dunia imajinasi.

Les BaSa atau les bayar sampah hampir serupa dengan Perpus GatDa. Di Les Basa, anak-ana yang datang untuk mengikuti les tak perlu membayar dengan uang. Namun dengan membawa sampah plastik sebagai pengganti uang.

perpus gatda
©2021 Merdeka.com/Wahyu Budiyanto

Dilansir dari goodnewsfromindonesia,dunia imajinasi ialah wadah kesenian yang digunakan untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan. Melalui dongeng, wayang, pantomime, bermusik dan bermain peran (drama). Dunia imajinasi dibentuk sebagai ajang aktualisasi diri Agung dengan kondisinya sebagai orang dewasa yang disleksia.

Berkat kegigihan dan semangat literasi untuk anak-anak di Bojonegoro, Agung pun mendapat beberapa penghargaan. Salah satunya,Runner-up Pemuda Pelopor Jatim 2020. Tak bisa dipungkiri, aksi Agung sang pegiat literasi ini memang patut diapresiasi.

[Tys]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini