Kisah Anggosuto, Panglima Perang Pertama yang Keringkan Air Laut Jadi Garam Madura

Kamis, 25 November 2021 12:02 Reporter : Rizka Nur Laily M
Kisah Anggosuto, Panglima Perang Pertama yang Keringkan Air Laut Jadi Garam Madura Ilustrasi garam. ©2018 Merdeka.com/Pixabay

Merdeka.com - Pada abad ke-15, tentara Bali datang ke Pulau Madura. Mereka berlabuh di pantai Sumenep. Tujuan kedatangan mereka ialah untuk keperluan balas dendam kepada keturunan Jokotole, pahlawan Madura yang dikenal gagah berani. Pasalnya, ia berhasil menaklukkan Raja Blambangan saat berperang melawan Majapahit.

Kemenangan Jokotole mengalahkan Raja Blambangan itu menimbulkan kemarahan pada diri bala tentara Bali. Jokotole dianggap sudah seharusnya ditaklukkan karena mengalahkan nenek moyang mereka.

Namun, rupanya penyerbuan tentara Bali ke Pulau Madura itu tak berhasil. Alih-alih menang, mereka justru dikalahkan oleh orang-orang Madura.

2 dari 3 halaman

Tentara Bali Melarikan Diri

Tidak semua tentara Bali terbunuh, mereka yang masih hidup melarikan diri ke Desa Pinggir Papas yang terletak di antara Sumenep dan Kalianget. Dari pusat kota Sumenep, desa ini bisa ditempuh dalam waktu sekitar enam jam perjalanan.

Di Desa Pinggir Papas inilah, bala tentara Bali menyerahkan diri kepada Raja Sumenep saat itu, Pangeran Wetan.

Raja Sumenep mengampuni bala tentara Bali bahkan memberikan mereka tanah untuk membangun desa.

3 dari 3 halaman

Pembuat Garam Madura Pertama

panglima anggosuto orang pertama yang mengeringkan air laut jadi garam madura
©2021 Merdeka.com/Dok. Pemkab Sumenep

Di antara bala tentara Bali ada seorang panglima perang yang bernama Anggosuto. Dikutip dari buku Adat Tradisi Jawa Timur (Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, 1978), Anggosuto inilah yang pertama kali mempunyai pikiran membuat garam dari air laut yang dikeringkan.

Cara tersebut rupanya terbukti menghasilkan garam untuk keperluan sehari-hari. Sejak saat itu, Desa Pinggir Papas berkembang pesat sebagai daerah produsen garam. Seiring berjalannya waktu, membuat garam menjadi sumber pengasilan penduduk desa setempat.

Hingga kini, pembuatan garam dengan cara menjemur air laut masih terus berlangsung di Pulau Madura. Bahkan, bagi masyarakat Desa Pinggir Papas sendiri, memproduksi garam telah menjadi pekerjaan tetap mereka.

Sementara itu, jasa Panglima Anggosuto senantiasa dikenang oleh masyarakat Desa Pinggir Papas. Mereka sering berziarah ke makam Panglima Anggosuto yang dianggap keramat.

Selain itu, setiap tahun yakni pada bulan Juli dan Agustus, masyarakat setempat melakukan upacara peringatan Nyadar, yakni upacara tradisional Hindu-Budha yang ada di Madura.

[rka]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini