4 Fakta Tradisi Lempar Kepala Kerbau di Trenggalek, Tetap Ramai di Tengah Corona

Sabtu, 4 Juli 2020 14:52 Reporter : Rizka Nur Laily M
4 Fakta Tradisi Lempar Kepala Kerbau di Trenggalek, Tetap Ramai di Tengah Corona Ritual lempar kepala kerbau di Trenggalek. ©2020 Merdeka.com/Youtube Dokpim Trenggalek

Merdeka.com - Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur rutin menggelar tradisi nyadranan di Dam Bagong. Tradisi turun-temurun itu selalu menjadi agenda tahunan masyarakat Trenggalek sekaligus termasuk agenda pariwisata budaya daerah setempat.

Tahun ini, pelaksanaan ritual melempar kepala kerbau ke dasar sungai di Dam Bagong Trenggalek itu tampak berbeda. Pandemi COVID-19 yang belum usai menyebabkan sejumlah pembatasan diberlakukan pada pelaksanaan tradisi nyadranan di Kabupaten Trenggalek yang digelar Jumat (3/7), seperti dikutip dari Antara.

1 dari 4 halaman

Tetap Ramai

ritual lempar kepala kerbau di trenggalek

©2020 Merdeka.com/Youtube Dokpim Trenggalek

Meskipun telah dilakukan pembatasan, namun masyarakat tetap berjubel menyaksikan prosesi pelemparan kepala kerbau ke dasar sungai Dam Bagong, seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Mereka tampak sangat antusias menyaksikan prosesi pelemparan kepala kerbau yang menjadi simbol tumbal kepala gajah putih itu oleh Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin.

"Tahun ini, tradisi nyadran digelar secara terbatas, mengingat kondisi pandemi yang belum usai," kata Bupati Nur Arifin.

2 dari 4 halaman

Kurangi Prosesi

ritual lempar kepala kerbau di trenggalek

©2020 Merdeka.com/Youtube Dokpim Trenggalek

Pembatasan pelaksanaan tradisi nyadranan dilakukan dengan cara mengurangi sebagian prosesinya. Arak-arakan, pagelaran wayang kulit, serta hiburan tari jaranan ditiadakan. Menurut Bupati Nur Arifin, pengurangan prosesi ini cukup berhasil mengurangi jumlah pengunjung yang hadir.

Ia menyebut para pengunjung yang datang menyaksikan ritual lempar kepala kerbau itu berasal dari sekitar Dam Bagong. Tidak ada warga yang berasal dari luar daerah.

3 dari 4 halaman

Acara Pengganti

ritual lempar kepala kerbau di trenggalek

©2020 Merdeka.com/Youtube Dokpim Trenggalek

Sebagai pengganti arak-arakan yang biasanya selalu digelar dalam tradisi nyadranan, panitia menggelar khotmil Qur’an, ziarah makam Adipati Minak Sopal, dan terakhir melarung kepala kerbau ke dasar Dam Bagong.

“Ini adalah hajat budaya kita, Nyadran Dam Bagong, sebagai bentuk syukur masyarakat di mana Allah telah memberikan rezeki," tutur Nur Arifin dalam pidato sambutannya.

4 dari 4 halaman

Menjaga Tradisi

 ritual lempar kepala kerbau di trenggalek

©2020 Merdeka.com/Youtube Dokpim Trenggalek

Dam Bagong sendiri merupakan sumber air yang memiliki peran penting bagi masyarakat Trenggalek. Keberadaan Dam Bagong membuat sawah-sawah di sekitarnya hampir tidak pernah kekeringan.

Pelaksanaan tradisi nyadranan dengan ritual melempar kepala kerbau ke dasar sungai menjadi bagian dari ekspresi syukur masyarakat setempat.

"Air kita tidak kering, sawah-sawah bisa terairi, panenan lancar, kemudian masyarakat bersedekah lewat salah satunya membagikan daging kerbau kepada masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Arifin berharap tradisi serta budaya yang telah mengakar di masyarakat bisa terus lestari. Dengan demikian, masyarakat akan tetap mengingat jasa para leluhur terdahulu.

“Kemudian kalau ada rezeki yang kita dapat ya kita bagikan, kita sedekahkan, seperti sedekah Nyadran di Dam Bagong ini," tuturnya.

[rka]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini