19 Dokter di Jatim Meninggal karena COVID-19, Tak Semua Punya Penyakit Penyerta

Senin, 13 Juli 2020 13:30 Reporter : Rizka Nur Laily M
19 Dokter di Jatim Meninggal karena COVID-19, Tak Semua Punya Penyakit Penyerta Dokter meninggal karena COVID-19 di Jatim. ©2020 Merdeka.com/Instagram @idijawatimur

Merdeka.com - Provinsi Jawa Timur masih terus mencatatkan penambahan kasus positif COVID-19. Dengan demikian, beban kerja tenaga medis di wilayah setempat juga bertambah.

Tenaga medis menjadi orang yang paling rentan tertular virus corona jenis baru penyebab COVID-19. Pasalnya, mereka berhubungan langsung dengan para pasien COVID-19. Selain itu, pasien yang tidak terbuka mengenai riwayat penyakit dan kontak sosialnya saat memeriksakan diri juga menimbulkan dampak buruk bagi tenaga medis.

Sampai berita ini ditulis, ada 19 dokter di Jawa Timur yang dinyatakan meninggal dunia akibat COVID-19. Mereka ada yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid dan ada pula yang murni meninggal karena COVID-19.

1 dari 5 halaman

3 Dokter Tutup Usia dalam Sehari

dokter meninggal karena covid 19 di jatim

©2020 Merdeka.com/Instagram @idijawatimur

Pada Minggu (12/7), sebanyak tiga dokter di Jawa Timur meninggal dunia akibat COVID-19, sebagaimana dikutip dari liputan6.com (13/7).

Kabar duka itu diunggah di akun instagram @idijawatimur pada Senin (13/7). Adapun ketiga dokter yang tutup usia yakni dr Deni Chrismono Raharjo, dr Budi Luhur, dan dr Arief Agoestonoo Hadi.

Saat dikonfirmasi, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur, dr Sutrisno membenarkan hal itu.

"Iya confirm karena COVID-19," ujar Sutrisno.

2 dari 5 halaman

Tak Semua Punya Penyakit Penyerta

dokter meninggal karena covid 19 di jatim

©2020 Merdeka.com/Instagram @idijawatimur

Menurut penjelasan Sutrisno, dokter Arief Agoestono Hadi sempat dirawat selama sepekan di Surabaya, Jawa Timur. Selama ini, dokter Agoes bertugas di Puskesmas Lamongan.

Sementara itu, dokter Budi Luhur juga meninggal karena COVID-19. Dokter Budi yang sempat dirawat di Gresik itu tidak memiliki komorbid alias penyakit penyerta.

"Dokter Budi masih muda 45 tahun, selama ini bertugas di Puskesmas Gresik," ungkap Sutrisno.

Dokter ketiga yang meninggal dunia pada Minggu (12/7) yakni dokter Deni Chrismono Raharjo. Dokter Deni merupakan salah satu anggota IDI Surabaya.

"Iya (karena COVID-19-red), jam 05.00," ujar Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya dr. Brahmana Askandar saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.

3 dari 5 halaman

19 Dokter Meninggal karena COVID-19

dokter meninggal karena covid 19 di jatim

©2020 Merdeka.com/Instagram @idijawatimur

Sebelumnya, pada Jumat (10/7), dokter Pepriyanto Nugroho juga meninggal karena COVID-19. Dokter Pepriyanto merupakan anggota IDI cabang Kabupaten Blitar. 

Total ada 19 dokter di Jawa Timur yang meninggal karena COVID-19. Jumlah kematian tenaga medis karena COVID-19 tersebut dinilai tinggi.

"Sangat tinggi, belum pernah dalam sejarah terjadi seperti ini,” ungkap Ketua IDI Jawa Timur, dr Sutrisno.

4 dari 5 halaman

Imbauan IDI Jawa Timur

dokter meninggal karena covid 19 di jatim

©2020 Merdeka.com/Instagram @idijawatimur

Oleh karena itu, tenaga medis diimbau untuk disiplin menggunakan alat pelindung diri (APD) setiap saat baik di klinik, rumah sakit, dan atau tempat bertugas. Sutrisno juga mendorong agar pemerintah dapat membenahi fasilitas kesehatan sehingga bisa mengurangi risiko tenaga medis terpapar COVID-19.

"Kebutuhan APD perlu diperhatikan, dan diharapkan tidak terbatas, selain itu makanan tambahan dan gizi tambahan kepada tenaga kesehatan," tutur dia.

5 dari 5 halaman

Tenaga Medis Perlu Perhatian

ilustrasi alat pelindung diri

©2020 Merdeka.com/safetysign.co.id

Selain itu, perlu dilakukan screening atau pengecekan berkala kepada tenaga kesehatan untuk mendeteksi COVID-19. Insentif kepada tenaga medis diharapkan juga bisa cair sesuai jadwal.

"Perhatikan kesejahteraan para tenaga medis, jam kerja juga lebih pendek, dan sistem rumah sakit harus diperbaiki," kata Sutrisno.

Menurutnya, sistem rumah sakit perlu diperbaiki dengan memisahkan pasien COVID-19 dan non COVID-19. Pasalnya potensi penularan COVID-19 sangat tinggi. Pemisahan layanan itu diharapkan bisa melindungi pasien, tenaga kesehatan, dan petugas di rumah sakit.

[rka]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini