Uniknya Hajatan Kambing dalam Tradisi Baritan Kulon Progo

Kamis, 14 Oktober 2021 19:00 Reporter : Ibrahim Hasan
Uniknya Hajatan Kambing dalam Tradisi Baritan Kulon Progo Tradisi Baritan Hajatan Kambing. ©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini

Merdeka.com - Sedekah bumi mudah dijumpai di Indonesia. Tradisi ini merupakan warisan turun-temurun nenek moyang demi keseimbangan manusia dan alam. Sama halnya keramaian yang dilakukan warga Dukuh Tegalsari, Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Bersatu bersama keseimbangan alam, manusia, tumbuh-tumbuhan, hingga hewan turut meramaikan tradisi sedekah bumi.

Lain daripada yang lain, biasanya dalam menyelenggarakan sedekah bumi, yang menjadi persembahan ialah hewan ternak. Namun dalam Tradisi Baritan Kulon Progo, salah satunya Kambing begitu diistimewakan dengan hajatannya sendiri. Turut mengikuti jalannya ritual, kambing berjenis telinga panjang ini menjadi penyemarak dalam Tradisi Baritan.

Baritan merupakan wujud syukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang melimpah. Tradisi ini biasa dilakukan saat setelah musim panen padi dengan melibatkan sumber mata air warga desa.

tradisi baritan hajatan kambing

©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini

Keselamatan tidak hanya dimohonkan untuk manusia, dalam Tradisi Baritan Kambing juga turut didoakan. Sesepuh desa dengan pelan menuangkan air keramat ke tubuh kambing. Diiringi dengan lantunan doa, hajatan kambing ini bertujuan agar hewan ternak senantiasa selalu sehat dan subur. Tentu nantinya sebagai sumber penghasilan bagi warga Desa Purwosari.

Hajatan kambing ini menjadi serangkaian ritual dalam Tradisi Baritan. Di antaranya ialah mengumpulkan 7 mata air desa, mengarak gunungan, pertunjukan kuda lumping, hingga makan bersama. Tua muda, semuanya larut dalam suka cita syukuran Tradisi Baritan.

tradisi baritan hajatan kambing

©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini


Perangkat adat desa menembus lebatnya hutan Kulon Progo membawa bambu khusus. Bambu inilah yang menjadi penampungan air keramat. Kondisi geografis Kulon Progo yang berbukit menjadikan sumber mata air sebagai penyuplai utama kebutuhan sehari-hari. Mulai dari air minum, mandi, hingga mengairi tanaman saat kemarau melanda.

Sebelum melakukan ritual memandikan kambing, perangkat adat desa akan mendatangi seluruh mata air di desa. Setidaknya ada 7 sumber mata air yang harus diciduk menggunakan bambu. Jalur menanjak, naik turun mengharuskan mereka untuk selalu hati-hati melangkah. Terlebih busana adat kain jarik yang membuat mereka tak bisa lebar dalam melangkah.

tradisi baritan hajatan kambing

©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini

Selepas kambing-kambing dilakukan hajatnya, barulah diarak keliling desa. Kambing-kambing ini diarak bersamaan oleh para warga baik tua maupun muda. Sesekali kambing-kambing ternak ini diajak bermain lari-lari oleh anak-anak desa. Arak-arakan berakhir di tanah lapang tempat di mana diselenggarakannya gelaran hiburan rakyat berupa kuda lumping yang menarik perhatian.

tradisi baritan hajatan kambing

©2021 Merdeka.com/Fitria Nuraini

Hiburan rakyat kuda lumping memang menjadi daya tarik tersendiri dalam setiap hajat tradisi sedekah bumi. Kostum yang mencolok dengan gerakan khasnya mampu menghibur warga. Begitupun warga dengan antusiasnya menonton, sembari menikmati jamuan makanan.

Sebelum gelaran Tradisi Baritan berlangsung, ibu rumah tangga akan menyiapkan makanan tradisional. Seperti geblek, klemet, tahu susur, gethuk, dan lain sebagainya. Bahkan tak jarang mereka menyajikan ketupat yang biasa diarak dalam gunungan untuk diperebutkan.

Tradisi Baritan selalu diselenggarakan, sebagai upaya untuk melestarikan kekayaan budaya di Indonesia [Ibr]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini