Toxic Masculinity Adalah Tekanan Budaya Perilaku Pria, Ketahui Dampaknya

Jumat, 20 November 2020 18:45 Reporter : Ayu Isti Prabandari
Toxic Masculinity Adalah Tekanan Budaya Perilaku Pria, Ketahui Dampaknya ilustrasi olahraga. healthline.com

Merdeka.com - Dalam budaya Indonesia, tentu Anda sudah pernah mendengar berbagai aturan yang biasanya ditujukan pada pria. Misalnya seorang pria atau anak laki-laki harus kuat atau tidak boleh menangis sekalipun mengalami hal sedih. Bukan hanya itu, laki-laki sering kali dianggap harus bisa menyelesaikan masalah seorang diri tanpa menerima bantuan.

Tampaknya, anggapan semacam ini masih berlaku di masyarakat, termasuk Indonesia. Bahwa laki-laki harus berperilaku sesuai dengan anggapan tersebut agar diterima dan dianggap normal di masyarakat. Namun sebagian orang menganggap konsep ini kurang tepat dan justru akan menimbulkan banyak dampak bagi kesehatan mental laki-laki.
Orang yang mengkritisi anggapan ini biasa menyebutnya dengan istilah toxic masculinity.

Toxic masculinity adalah suatu tekanan budaya bagi kaum pria untuk berperilaku dengan cara tertentu. Toxic masculinity ini dikaitkan dengan nilai-nilai yang dianggap harus ada dalam diri seorang pria. Di mana pria harus kuat, tidak boleh lemah, harus bisa menjaga, harus memiliki kuasa, dan tidak boleh menunjukkan perasaan tertentu seperti menangis.

Jika hal ini terus diterapkan dalam kehidupan masyarakat, maka kaum laki-laki tidak bisa hidup dengan apa adanya. Terdapat beban sosial dan budaya yang harus diperankan, meskipun dalam kondisi tertentu seorang laki-laki tidak bisa melakukan hal tersebut. Dengan begitu, masyarakat perlu memahami apa yang dimaksud dengan toxic masculinity.

Melansir dari situs Verywell Mind, kami merangkum beberapa informasi mengenai toxic masculinity adalah sebagai berikut.

Baca Selanjutnya: Mengenal Toxic Masculinity...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini