Sukses di JAFF dan Bakal Tayang di Mumbai, Film Pendek Ini Curi Perhatian

Senin, 5 Desember 2022 14:18 Reporter : Shani Rasyid
Sukses di JAFF dan Bakal Tayang di Mumbai, Film Pendek Ini Curi Perhatian Cuplikan Film "Berdamai dengan Raqib dan Atid". ©jaff-filmfest.com

Merdeka.com - Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) sukses digelar pada 26 November-3 Desember 2022 kemarin. Kemeriahan ini terlihatdi sepanjang acara. Kamis (1/12) kemarin, suasana JAFF yang digelar di Empire XXI Yogyakarta ini tampak ramai.

Dari film panjang hingga film dokumter pilihan diputar di semua studio di Empire XXI. Kamis (1/12) kemarin menjadi salah satu momen pemutaran lima film pendek pilihan, di antaranya These Colours Don't Run; Sunday; Kala Rau When The Sun Got Eaten; My Grandmother is a Bird; dan Berdamai dengan Roqib dan Atid. Film-film itu ditayangkan di studio Emerging 1, pukul 15.00 WIB.

Film Berdamai dengan Raqib dan Atid mendapat sambutan positif. Film ini merupakan hasil garapan sineas muda Orista Primadewa Hadiwiardjo. Film ini diperankan oleh aktris senior Niniek L. Karim, dan aktor muda Yusuf Mahardika.

2 dari 5 halaman

Relate dengan Kehidupan Masyarakat

cuplikan film quotberdamai dengan raqib dan atidquot

©jaff-filmfest.com

Film “Berdamai dengan Raqib dan Atid” menceritakan seorang perempuan lanjut usia bernama Zainab (80 tahun) yang diperankan oleh Niniek L. Karim. Telah terbiasa menghabiskan hari-hari masa tua penuh kesederhanaan di desa, Zainab harus pindah ke rumah Kiki (47 tahun), anak sulungnya.

Di desa, kehidupan sehari-hari Zainab hanya terfokus pada ibadah. Dia melakukannya karena merasa sangat dekat dengan kematian. Setelah pindah ke kota, Zainab merasa semua fasilitas mewah yang diberikan Kiki ia anggap justru merugikan dirinya. Di lingkungan barunya, ia harus menghadapi ketakutan akan dosa.

3 dari 5 halaman

Proses Kreatif Sutradara

sineas muda jalin kolaborasi dengan aktris senior

©2022 Merdeka.com

Saat ditemui di Yogyakarta pada Kamis (1/12), sutradara film ini, Orista Primadewa Hadiwiardjo mengatakan bahwa ide pembuatan film itu berawal dari obrolannya dengan penulis. Ia mengatakan pada rekan kerjanya itu bahwa ia punya cerita yang berangkat dari pengalaman yang ia alami di keluarganya.

Pria yang akrab disapa Oris bercerita kalau ia punya nenek yang dulunya tinggal di Bandung dan dipindahkan ke rumahnya yang berada di Bekasi karena semua anaknya sudah tinggal di Jakarta.

Namun setelah tiga sampai empat tahun tinggal di Bekasi, ada sifat yang berubah dari sang nenek. Oris menyebut saat itu neneknya kerap meminta maaf dan tiba-tiba sering merasa takut.

“Ini sering banget, hal-hal kecil minta maaf ini sebenarnya kenapa. Jujur aku lihat mamahku juga nggak tahu. Tapi saat aku observasi, aku lihat kenapa ya bisa sampai kepikiran seperti itu, soalnya dia merasa ajalnya itu sudah sebentar lagi dan dia keingat kata-kata yang hablumminallah dan hablumminannas itu,” ungkapnya.

Itulah yang kemudian mencetuskan ide untuk membuat film tersebut. Melalui film karyanya, alumni Limkokwing University of Creative Technology ini ingin menyampaikan pesan bahwa ketika mencoba untuk membantu orang lain, kita harus mengkaji lagi apakah orang lain benar-benar merasa terbantu atas bantuan yang diberikan.

“Kalau tadi Zainab, semua fasilitas yang diberikan menjadi ketakutan di akhir hidupnya. Beda kalau di desa, rumahnya nggak ada tv, rumahnya nggak ada AC, tenang hidupnya. Pengajian, salat, makan, walaupun itu-itu saja yang dilakukan setiap hari tapi tenang hidupnya. Jadi, lagi-lagi kita harus tahu apakah ini yang dibutuhkan oleh mereka,” lanjut Oris.

4 dari 5 halaman

Pendalaman Karakter Zainab

sineas muda jalin kolaborasi dengan aktris senior

Niniek L. Karim ©2022 Merdeka.com

Sebelum proses syuting film, Oris mengaku sangat berhati-hati dalam memilih pemeran utama. Dari beberapa nama yang direkomendasikan, pilihan Oris jatuh pada Niniek L. Kariem.

Selain sebagai aktris, wanita 73 tahun itu juga merupakan seorang dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Aktris yang pernah menyabet Piala Citra itu menceritakan awal mula ia bergabung dalam proses pembuatan film garapan Oris Pictures tersebut.

“Pengen tahu, apa sih yang ingin ditampilkan? Karena terus terang saya bukan orang yang sangat religius lho, walaupun saya salat lima kali atau tujuh kali sehari (salat dhuha dan tahajjud). Jadi saya pikir awalnya film ini, kalau film religi aku nggak sanggup. Tapi ternyata film tentang orang lansia atau senior. Tapi saya nggak mau bilang lansia ya, jadi senior. Dan tahunya baru kemarin, setelah film-nya jadi,” ungkap aktris 73 tahun itu.

Niniek mengaku, saat pembuatan film itu, ia langsung teringat orang tuanya. Aktris yang sudah melanglang buana di dunia seni peran itu pertama kali bermain film berjudul “Ibunda” pada tahun 1986. Setelah sebelumnya pernah mendapatkan penghargaan sebagai aktris terbaik di sebuah festival teater kampus yang diadakan di Taman Ismail Marzuki.

Sudah sekitar 40 tahun berkecimpung di dunia seni peran, Niniek mengaku sudah tidak lagi mengharapkan sesuatu terkait peran yang akan dilakoni di project mendatang. Bintang film “Ketika Cinta Bertasbih” itu melakoni hidup sebagaimana yang diperintah oleh Tuhan. 

5 dari 5 halaman

Diikutkan ke Berbagai Festival Film

cuplikan film quotberdamai dengan raqib dan atidquot
Cuplikan Film "Berdamai dengan Raqib dan Atid" ©jaff-filmfest.com

Oris mengatakan, proses produksi film “Berdamai dengan Raqib dan Atid” membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Proses itu tidak terhitung lama karena workshop-nya singkat dan syutingnya hanya dilakukan di dua lokasi berbeda.

Selain diputar di JAFF, film ini rencananya juga akan dikirimkan ke festival lain. Salah satunya, Mumbai Shorts International Film Festival yang akan digelar pada 11 Desember mendatang. Kemudian, Oris juga sudah mendaftarkannya ke Berlin dan satu festival lagi di tahun 2023 yang masih menunggu konfirmasi.

Oris mengaku, perjuangannya untuk membuat karya seperti sekarang tidaklah mudah. Sejak tahun 2018, dia bersama dua rekannya (produser dan editor) mengerjakan proyek iklan sambil mencari kesempatan untuk membuat layar lebar. Dimulai dari tiga orang, sekarang anggota tim rumah produksinya telah berjumlah delapan orang. Pada akhirnya, pembuatan film layar lebar bisa terwujud walaupun masih dalam bentuk film pendek.

“Kita bisa ketemu orang-orang hebat, dan kita bisa show off skill juga, makanya akhirnya ini masuk JAFF, ini pencerahan banget. Semoga ke depan bisa membuat film panjang yang bisa kalian nikmati,” kata Oris.

[shr]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini