Rektor UIN Minta Proses Hukum Penendang Sesajen Dihentikan, Ini Alasannya

Sabtu, 15 Januari 2022 10:46 Reporter : Shani Rasyid
Rektor UIN Minta Proses Hukum Penendang Sesajen Dihentikan, Ini Alasannya Polisi tangkap penendang sesajen di Gunung Semeru. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Belakangan ini, viral aksi seorang pria yang menendang sesajen di kawasan erupsi Gunung Semeru, Jawa Timur. Aksi itu mengundang hujatan warganet dan banyak pihak lainnya. Mereka ingin agar pelaku penendang sesajen itu dihukum seberat-beratnya.

Pada Jumat (14/1), polisi menangkap pelaku penendang sesajen itu di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Menanggapi penangkapan ini, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Al Makin, berharap proses hukum terhadap HF selaku penendang sesajen itu dihentikan.

“Saya menyerukan agar segera proses hukum ini sebaiknya dihentikan dan sebaiknya kita maafkan,” kata Al Makin dikutip dari ANTARA pada Jumat (14/1). Lantas apa alasan Al Makin meminta polisi menghentikan kasus itu? berikut selengkapnya:

2 dari 3 halaman

Banyak Kasus yang Lebih Berat

001 tantri setyorini
©2014 Merdeka.com/shutterstock/De Visu

Menurut Al Makin, dibandingkan dengan kasus penendangan sesajen itu, banyak kasus lain yang lebih berat terkait intoleransi terhadap kaum minoritas namun tidak masuk ranah hukum. Ia mencontohkan seperti pelanggaran rumah ibadah, pelanggaran kepada minoritas, pembakaran tempat ibadah, dan lain sebagainya.

Ia mengatakan, data keragaman itu ia peroleh saat masih menjadi peneliti keragaman hampir di seluruh wilayah di Indonesia, mulai dari meneliti kelompok minoritas pengikut Lia Eden, Gafatar, Ahmadiyah, hingga kelompok penghayat kepercayaan.

“Banyak sekali kelompok-kelompok minoritas itu menderita karena kita sendiri dan ternyata tidak semuanya masuk pengadilan. Maka sungguh tidak adil jika hanya seorang saja yang mungkin khilaf kemudian diproses hukum. Bagi saya itu kurang bijak,” kata Al Makin dikutip dari ANTARA.

3 dari 3 halaman

Pentingnya Sikap Memaafkan

Menurut Al Makin, sikap memaafkan dengan menghentikan hujatan akan menjadi pendidikan dan pelajaran yang luar biasa bagi HF ketimbang menjatuhkan hukuman. Menurutnya, sikap memaafkan akan menjadi contoh yang baik atas nama toleransi, keragaman, dan kebhinekaan. Selain itu, Al Makin berharap agar hujatan terhadap HF bisa segera diakhiri.

“Beri dia pelajaran dengan cara lapangkan dada kita, supaya yang bersangkutan juga belajar bahwa berbeda itu tidak apa-apa. Jangankan berbeda agama, berbeda dalam pandangan agama dan jika itu tidak berbahaya, dan jika itu tidak menyakiti manusia lain lebih baik kita maafkan,” kata Al Makin.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa sikap HF yang menendang sesajen di kawasan Semeru tidak selaras dengan nilai-nilai toleransi yang selama ini ditanamkan UIN Sunan Kalijaga. Hal ini berkaitan dengan sosok HF yang pernah menjadi mahasiswa Fakultas Tarbiyyan UIN Sunan Kalijaga angkatan 2008.

[shr]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. DIY
  3. Jateng
  4. Berita
  5. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini