Rawan Disalahgunakan, Guru Besar UGM Beri Penjelasan Penggunaan Ganja untuk Medis

Kamis, 30 Juni 2022 17:17 Reporter : Shani Rasyid
Rawan Disalahgunakan, Guru Besar UGM Beri Penjelasan Penggunaan Ganja untuk Medis Ilustrasi ganja. © Mdzol.com

Merdeka.com - Beberapa hari belakangan ini, ganja medis ramai diperbincangkan setelah viralnya seorang ibu dengan anak yang menyandang cebrebral palsy mendesak pemerintah melegalkan ganja untuk terapi medis.

Guru Besar Farmasi UGM, Prof Apt. Zullies Ikawati mengatakan bahwa ganja sebenarnya bisa digunakan untuk terapi atau obat. Salah satu senyawa yang penting pada ganja adalah tetrahydrocannabinol yang bersifat psikoaktif.

“Psikoaktif artinya bisa memengaruhi psikis yang menyebabkan ketergantungan dan efeknya ke arah mental,” kata Zullies dikutip dari ugm.ac.id pada Kamis (30/6).

Selain itu, menurutZullies, senyawa yang terdapat pada ganja lainnya yang penting adalah cannabidiol (CBD). CBD inilah yang dikatakan Zullies memiliki efek salah satunya adalah anti kejang. Berikut selengkapnya:

2 dari 4 halaman

Bukan Keseluruhan dari Ganja

ilustrasi ganja
©Shutterstock/Yellowj

Zullies menjelaskan CBD memang telah teruji klinis dapat mengatasi kejang. Walau begitu yang dibutuhkan untuk terapi anti kejang adalah senyawa CBD-nya yang bukan keseluruhan dari tanaman ganja. Sebab, ganja jika masih dalam bentuk tanaman maka masih akan bercampur dengan THC. Kondisi ini akan menimbulkan berbagai efek samping pada mental.
“Dikatakan ganja medis, istilah medis ini mengacu pada suatu terapi yang terukur dan dosis tertentu. Kalau ganja biasa dipakai, misal dengan diseduh itu kan ukurannya tidak terstandarisasi. Tapi saat dibuat dalam bentuk obat bisa disebut ganja medis,” ungkap Zullies.

3 dari 4 halaman

Potensi Penyalahgunaan Besar

ilustrasi ganja

sxc.hu

Terkait legalisasi ganja, Zullies mengatakan obat yang berasal dari ganja seperti Epidiolex bisa menjadi legal saat didaftarkan ke badan otoritas obat seperti BPOM dan disetujui dapat digunakan sebagai terapi.

“Menurut saya, semestinya bukan melegalisasi tanaman ganja-nya karena potensi untuk penyalahgunaannya sangat besar. Siapa yang akan mengontrol takarannya, cara penggunaannya, dan lainnya walaupun alasannya adalah untuk terapi,” kata Zullies.

4 dari 4 halaman

Legal Selama ada Resep Dokter

ilustrasi ganja

sxc.hu

Lebih lanjut, Zullies mengatakan penggunaan ganja medis dapat dilihat dari penggunaan obat-obatan golongan morfin. Ia mengatakan, morfin juga berasal dari tanaman opium dan menjadi obat legal selama ada resep dari dokter. Selain itu, morfin digunakan sesuai indikasi seperti nyeri kanker yang sudah tidak respons lagi terhadap analgesik lain dengan pengawasan distribusi yang ketat.

“Tanamannya yakni opium tetap masuk dalam narkotika golongan 1 karena berpotensi penyalahgunaan yang besar, begitu pun dengan ganja. Oleh sebab itu, semestinya yang dilegalkan bukan tanaman ganjanya, tetapi obat yang diturunkan dari ganja dan telah teruji klinis dengan evaluasi yang komprehensif akan risiko dan manfaatnya,” pungkas Zullies.

[shr]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. DIY
  3. Jateng
  4. Berita
  5. Yogyakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini