Orang-Orang Ini Bunuh Diri Karena Corona, dari Menteri hingga Perawat

Senin, 30 Maret 2020 15:06 Reporter : Denny Marhendri
Orang-Orang Ini Bunuh Diri Karena Corona, dari Menteri hingga Perawat thomas schaefer. ©Facebook Thomas Schaefer

Merdeka.com - Di saat wabah virus corona yang mengkhawatirkan banyak orang ini, tugas pemerintah dan petugas medis menjadi sangat penting. Mereka bertugas di barisan terdepan untuk mencegah persebaran virus corona. Mereka rela meninggalkan rumah, berpisah dengan orang-orang yang disayanginya demi melaksanakan tugasnya.

Pemerintah yang seharusnya memberikan kebijakan-kebijakan untuk tindakan yang akan dilakukan masyarakatnya. Sedangkan, petugas medis yang bertindak untuk menangani pasien yang terdampak virus corona.

Namun, jalan perjuangan mereka melawan virus corona ternyata tak mudah. Tidak hanya tekanan fisik saja yang diterima, tapi juga mental. Ada beberapa orang yang justru memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri agar tak menularkan penyakitnya ke orang lain, seperti orang-orang di bawah ini.

1 dari 3 halaman

1. Salah Satu Menteri di Jerman

thomas schaefer

Facebook Thomas Schaefer

Menteri Keuangan Negara Bagian Hesse, Jerman, Thomas Schaefer bunuh dini karena mengalami depresi. Dirinya mengalami depresi karena memikirkan bagaimana cara menangani virus corona, terlebih dirinya bertanggung jawab soal urusan ekonomi negara.

Informasi yang dilansir dari The Straits Times, Schaefer ditemukan tewas di sekitar rel kereta pada hari Sabtu (28/3) kemarin. Schaefer yang berusia 54 tahun itu diyakini tewas bunuh diri oleh Kantor Kejaksaan Wiesbaden. Volker Bouffier selaku Perdana Menteri Negara Bagian mengungkapkan rasa tidak percaya akan kejadian nahas yang dialami rekannya itu.

"Kami sangat kaget dan tidak percaya, lebih-lebih lagi kami sangat sedih," ucapnya pada Minggu (29/3).

Bouffier menganggap sosok Schaefer, bisa menggantikan dirinya di pemerintahan. Karena Schaefer sudah menjadi menteri keuangan di Negara Bagian Hesse selama 10 tahun.

Schaefer juga diketahui bekerja siang sampai malam untuk membantu perusahaan dan para pekerja, menghadapi dampak ekonomi dari wabah virus corona.

2 dari 3 halaman

2. WNA Korsel yang Positif Corona di Solo

bunuh diri corona

Liputan6com/Fajar Abrori

Kejadian selanjutnya, terjadi di Solo tanggal 23 Februari 2020 lalu. Seorang Warga Negara Asing (WNA) Korea Selatan mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di sebuah kamar hotel. Korban yang ber inisial EJ (57), meninggalkan sepucuk surat yang menyebutkan bahwa dirinya terjangkit virus corona.

Informasi yang dilansir dari Liputan6.com, Kapolresta Solo, Kombes Pol Andy Rifai mengatakan bahwa EJ awalnya melakukan kunjungan wisata ke Solo dengan temannya. Sebelumnya mereka juga mengunjungi Yogyakarta dan Jakarta.

"Dia di Solo berdua dengan temannya. Tapi kok enggak ngabar-ngabari, setelah dicek di kamarnya ternyata terkunci. Kemudian dibuka dan korban sudah gantung diri," kata Andy, Minggu (1/3) lalu.

Setelah dilakukan pengecekan terhadap jasad EJ yang dilakukan oleh tim medis RSUD Dr Moewardi, EJ dinyatakan tidak terjangkit virus corona tersebut.

"Sudah divisum di RSUD Moewardi hasilnya negatif corona. Dari Kedubes Korea Selatan juga sudah mengecek ke sini dan hasilnya memang negatif. Dia itu depresi karena sakit bertahun-tahun tidak sembuh-sembuh sakitnya," ungkap Andy.

3 dari 3 halaman

3. Seorang Perawat di Italia

bunuh diri corona

freepik.com

Seorang perawat yang bekerja di unit perawatan intensif episentrum dalam menangani wabah virus corona di Italia melakukan bunuh diri. Hal tersebut dilakukan karena sang perawat itu dinyatakan positif terjangkit virus corona.

Informasi yang dilansir dari Brilio.net, perawat yang berinisial DT tersebut khawatir akan menyebarkan virus corona ke orang lain saat dirinya bekerja di Rumah Sakit San Gerardo di Kota Monza, wilayah Lombardy.

Federasi Perawat Nasional Italia mengatakan DT bunuh diri pada hari Minggu (21/3). Asosiasi tersebut juga meyakini DT mengalami beban pikiran selama menangai kasus virus corona.

"Kami menyatakan duka cita dan kesedihan kami karena kematian rekan muda kami. 450.000 profesional kami akan bergabung bersama di sekitar kerabat dan keluarga DT," ucap Mario Aparone selaku Direktur Rumah Sakit San Gerardo.

[dem]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini