Mengenal Tari Sri Kayun Asal Kulon Progo, Penuh Makna Filosofis

Selasa, 27 September 2022 11:47 Reporter : Shani Rasyid
Mengenal Tari Sri Kayun Asal Kulon Progo, Penuh Makna Filosofis Tari Sri Kayun. ©kulonprogokab.go.id

Merdeka.com - Kulon Progo memiliki beragam budaya yang belum banyak diketahui publik. Budaya-budaya itu ibarat permata yang tersembunyi di balik rimbunan pohon di Pegunungan Menoreh, maupun di tengah panas terik menyengat pesisir pantai yang memanjang dari muara Sungai Progo sampai muara Sungai Bogowonto.

Bagaikan peradaban, budaya lama bercampur dengan lahirnya budaya baru. Tari Sri Kayun adalah salah satu bentuk budaya yang baru lahir. Adanya Bandara Yogyakarta International Airport menjadikan Kulon Progo sebagai pintu gerbang menuju pariwisata Yogyakarta yang makin berkembang.

Tak hanya wisatawan domestik, bandara itu juga menjadi pintu gerbang wisatawan dari negara-negara sekitar yang ingin berwisata ke Yogyakarta. Maka Tari Sri Kayun nantinya akan dibawakan sebagai tari penyambutan tamu.

2 dari 4 halaman

Lahirnya Tari Sri Kayun

tari sri kayun

©kulonprogokab.go.id

Pada bulan Maret 2022, Bupati Kulon Progo pada saat itu, Sutedjo, berdiskusi dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo untuk membuat karya seni tari sebagai penyambutan. Dengan kerja cepat, tari penyambutan itu segera lahir. Tarian itu kemudian diberi nama “Sri Kayun”.

“Tari tersebut diberi nama Sri Kayun yang dari nama dan gerakannya mampu menarasikan keindahan, keramahan, dan berbagai pesona tentang potensi alam serta budaya di Kabupaten Kulon Progo. Harapan ke depan semoga tarian ini juga dapat digunakan sebagai penyambutan tamu di berbagai kesempatan. Agar tari Sri Kayun betul-betul dapat menjadi milik warga masyarakat Kulon Progo seutuhnya,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Niken Probo Laras, dikutip dari ANTARA pada Senin (26/9).

3 dari 4 halaman

Tari Penyambutan Tamu

tari sri kayun

©kulonprogokab.go.id

Niken mengatakan, Tari Sri Kayun menjadi tari penyambutan bagi berbagai tamu yang hadir di Kulon Progo. Usaha tersebut merupakan bagian dari kinerja Pemkab Kulon Progo yang peduli terhadap berbagai dinamika di wilayah kerja mereka.

“Kabupaten Kulon Progo yang merupakan bagian dari DIY punya potensi alam dan budaya adiluhung. Daerah yang mewarisi peradaban Mataram Islam, dan penerusnya yakni Kesultanan Yogyakarta serta Kadipaten Pakualaman ini menjadi wilayah kabupaten yang memiliki kekayaan objek-objek kebudayaan baik tingkat lokal maupun tingkat nasional,” kata Niken.

4 dari 4 halaman

Pentingkan Ini

tari sri kayun

©kulonprogokab.go.id

Niken menambahkan, SK Tari Sri Kayun akan segera terbit dan ditindaklanjuti dengan surat edaran dan sosialisasi ke berbagai Sanggar Tari di Kulon Progo.

Menanggapi ini, PJ Bupati Kulon Progo, Tri Saktiyana mengatakan, jika Tari Sri Kayun ingin menjadi tari rakyat, maka tarian ini harus dibuat mudah agar cepat dipraktikkan.

“Kami akan dengan senang hati, jika ada sanggar tari, kelompok masyarakat, bahkan anak-anak yang mungkin belum persis seperti di SK bupati. Jadi mohon kiranya bisa dimaklumi dalam rangka pemasyarakatan Sri Kayun. Prinsipnya ada dulu, kemudian diperbaiki untuk selanjutnya disempurnakan,” kata Tri Saktiyana dikutip dari ANTARA.

[shr]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini