Mengenal "Karlak", Budaya Mengutil Ikan Ala Masyarakat Nelayan Pantura

Senin, 21 Desember 2020 12:30 Reporter : Shani Rasyid
Mengenal "Karlak", Budaya Mengutil Ikan Ala Masyarakat Nelayan Pantura Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger, Jember. ©2020 Merdeka.com/Facebook Heriyanto Subekti

Merdeka.com - Daerah pesisir pantai utara Jawa (Pantura) merupakan daerah yang panas. Di daerah itu, banyak warganya yang berprofesi sebagai nelayan.

Setelah melaut, biasanya para nelayan itu mengumpulkan tangkapan ikannya di tempat pelelangan. Sebelum dikirim ke pelelangan, biasanya muatan ikan yang ada di kapal dibongkar dulu di pelabuhan.

Di sanalah kadang banyak ikan yang berjatuhan. Ikan-ikan yang berjatuhan itu terkadang dipungut oleh para pengutil yang tidak bertanggung jawab. Para pengutil inilah yang biasa disebut orang-orang pantura dengan istilah “karlak”.

Melansir dari Indonesia.go.id, keberadaan “karlak” di kawasan pantura ini sebenarnya cukup meresahkan. Tiap kali bongkaran ikan, jumlah para pengutil yang kebanyakan berasal dari kalangan “emak-emak” itu biasanya sampai 50-100 orang.

Mereka biasanya datang dengan membawa ember plastik dan menghargai ikan hasil curiannya dengan harga Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per satuannya. Lalu bagaimana sepak terjang para “karlak” di tengah kehidupan para nelayan pantura? Berikut selengkapnya.

Baca Selanjutnya: Bandit Kelas Coro...

Halaman

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Jateng
  3. DIY
  4. Berita
  5. Nelayan
  6. Tegal
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini