Kisah Perjuangan Pemudik Jalan Kaki Jakarta-Solo, Kena PHK dan Tak dapat Tunjangan

Rabu, 20 Mei 2020 17:40 Reporter : Shani Rasyid
Kisah Perjuangan Pemudik Jalan Kaki Jakarta-Solo, Kena PHK dan Tak dapat Tunjangan Warga India mudik jalan kaki di tengah lockdown. ©NOAH SEELAM/AFP

Merdeka.com - Masa pandemi adalah saat-saat yang berat bagi warga yang tinggal di perantauan. Akibat pandemi ini banyak perusahaan yang harus mem-PHK para karyawannya. Sementara itu ada imbauan dari pemerintah untuk tidak pulang kampung. Nasib mereka pun pada akhirnya terlunta-lunta di perantauan.

Dalam kondisi serba sulit itu, ada perantau yang tetap bertahan di perantauan karena wilayahnya berada di zona merah dan takut menularkan keluarga di kampung. Namun di sisi lain tetap ada yang nekat pulang kampung. Mereka melakukan segala cara untuk bisa sampai ke kampung halamannya mulai dari menyembunyikan mobil di dalam truk sampai mencari jalan-jalan tikus guna menghindari petugas keamanan.

Di samping dua cara itu, ada cara lebih ekstrem lagi untuk mencapai kampung halaman. Itulah yang dilakukan salah satu pemudik bernama Maulana Arif Budi Satrio. Dia nekat pulang kampung dengan berjalan kaki selama empat hari dari perantauannya di Cibubur, Jakarta Timur, dengan tujuan akhir Kota Solo. Berikut selengkapnya:

1 dari 8 halaman

Kena PHK

phk jalan kaki

©2020 Merdeka.com

Maulana adalah seorang pengemudi bus pariwisata milik perusahaan bus di Cibubur. Sejak merebaknya pandemi Corona, perusahaannya tak lagi sanggup menutup biaya operasional. Tak pelak, karyawan dan kru busnya terkena PHK. Tapi mereka tidak menerima tunjangan atau insentif atas keputusan tersebut.

“Perusahaan mengumumkan bahwa karyawan diberhentikan semua. Terus untuk gaji juga belum ada. Tidak ada THR juga. Insentif yang dijanjikan juga belum cair,” ujar Maulana dilansir dari Liputan6.com pada Rabu (20/5).

2 dari 8 halaman

Tak Dapat Bantuan

warga terdampak covid 19 terima bantuan sosial

©Liputan6.com/Angga Yuniar

Karena bukan warga ber-KTP Jakarta, Maulana tak dapat bantuan sosial. Sementara itu kontrakannya ia berikan kepada tentangganya yang lebih membutuhkan karena memiliki anak kecil. Tetangga itu sebelumnya mengontrak di depan kontrakannya yang sudah habis masa sewanya dan sempat diusir. ‘

“Kontrakan saya itu sebenarnya habis Juni, tapi saya kasihan dengan mereka yang punya anak kecil sehingga kontrakannya saya serahkan ke mereka,” terang Maulana dikutip dari Liputan6.com pada Rabu (20/5).

3 dari 8 halaman

Rogoh Kocek Rp500 ribu untuk Tiket Bus

demo kru bus di karanganyar dibubarkan polisi

©2020 Merdeka.com

Oleh karena itu Maulana kemudian pulang kampung ke Solo dengan menggunakan bus. Ia rela merogoh kocek senilai Rp500 ribu untuk bisa mendapatkan satu tiket angkutan bus untuk pulang ke Solo. Namun yang menjemputnya bukan bus melainkan minibus.

Karena tidak bersedia naik minibus, Maulana tidak jadi berangkat. Dia kemudian berangkat menggunakan mobil pribadinya. Namun saat sampai Tol Cikarang, petugas kepolisian menyuruhnya untuk balik lagi. hal itu membuatnya kesal dan sempat ribut dengan petugas.
“Saya malah mau berantem di Tol Cikarang karena disuruh balik. Saya putus asa karena kembali gagal,” tutur Maulana dikutip dari Liputan6.com pada Rabu (20/5).

4 dari 8 halaman

Memutuskan Pulang Kampung Jalan Kaki

warga india mudik jalan kaki di tengah lockdown

©NOAH SEELAM/AFP

Akhirnya Maulana menempuh cara terakhir pulang kampung dengan berjalan kaki. Pada 11 Mei lalu, ia berangkat jalan kaki usai Salat Subuh. Dengan bekal satu tas gendong di belakang, satu tas selempang di depan, dan plastik kresek berisi sepatu, dia berjalan kaki meninggalkan Cibubur.

Dalam sehari, Maulana sanggup berjalan kaki hingga 100 kilometer menyusuri Pantura. Medan yang paling berat dilaluinya adalah ketika melintasi jalur Karawang Timur sampai Tegal.

“Cuaca sangat panas sekali dari Klari, Karawang Timur, sampai Tegal. Cuaca mulai berangsur agak adem saat memasuki Brebes dan Pekalongan,” terang Rio dikutip dari Liputan6.com pada Rabu (20/5).

5 dari 8 halaman

Menginap di Warung Makan

lesehan

©2015 Merdeka.com/ Astri Agustina

Sementara itu, Maulana memanfaatkan waktu malam hari untuk beristirahat. Biasanya dia menjadikan warung makan langganan para supir truk untuk menginap. Terkadang pula ia beristirahat di pom bensin.

“Saya kalau jalan kaki terus merasa lelah langsung istirahat. Nanti kalau sudah pulih, lanjut jalan kaki lagi. tapi kalau malam itu berhentinya saat dini hari terus setelah habis Subuh melanjutkan perjalanan lagi,” tutur Maulana dikutip dari Liputan6.com pada Rabu (20/5).

6 dari 8 halaman

Tiba di Batang

Saat memasuki hari keempat, petualangan mudik dengan jalan kaki-nya harus diakhiri karena aksi nekat Maulana diketahui oleh sesama rekan pengemudi bus pariwisata yang tergabung dalam wadah Pengemudi Pariwisata Indonesia (Peparindo). Pengurus Wilayah Peparindo Jawa Tengah langsung menjemputnya saat perjalanan Rio sampai di Gringsing, Batang. 

“Di Grinsing saya dijemput dan dimarah-marahi Pak Ketua karena tidak ngomong saat akan mudik dengan jalan kaki. Kalau saya ngomong pasti gagal pulang jalan kaki ini,” terang Maulana dilansir Liputan6.com pada Rabu (20/5).

7 dari 8 halaman

Ingin Bertemu Ganjar Pranowo

gubernur jawa tengah ganjar pranowo

©2020 Merdeka.com

Setelah itu, Rio diminta untuk masuk ke mobil bersama pengurus Peparindo Jawa Tengah untuk menuju ke kantor sekretariat di Ungaran. Saat tiba di Semarang, sebenarnya ia ingin bertemu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk menyampaikan keluhan terkait nasib warga Jateng yang terkena PHK di Jakarta.

“Banyak warga Jawa Tengah yang terkena PHK di Jakarta dan tidak bisa pulang padahal mereka harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terus banyak travel ditahan Polda padahal mereka dari Jawa Tengah,” ujar Maulana dikutip dari Liputan6.com pada Rabu (20/5).

8 dari 8 halaman

Tiba di Solo

wali kota solo loji gandrung

©2016 merdeka.com/arie sunaryo

Setelah istirahat di Sekretarian Peparindo Jawa Tengah, esok harinya Maulana diantar oleh tiga rekannya menuju Solo. Hanya saja ia tak langsung menuju rumahnya, melainkan menuju tempat karantina bagi pemudik di Graha Wisata Niaga Solo.

“Saya sampai Solo tanggal 15 Mei 2020 pukul 08.00 dan langsung masuk karantina. Awalnya saya ngeri juga membayangkannya tapi ternyata malah asyik dan nyaman di tempat karantina ini,” kata Maulana dikutip dari Liputan6.com pada Rabu (20/5).

[shr]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini