Epidemiologi UGM Perkirakan 80% Warga RI Sudah Terpapar Covid-19 Varian Delta

Kamis, 25 November 2021 09:30 Reporter : Andriana Faliha
Epidemiologi UGM Perkirakan 80% Warga RI Sudah Terpapar Covid-19 Varian Delta Ilustrasi Covid-19. Liputan6 ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Pandemi virus Corona atau Covid-19 masih belum usai. Sejak pertama pandemi diumumkan pada 2 Maret 2020 lalu, terhitung total positif Covid-19 di Indonesia sebanyak 4.254.443 per Rabu (24/11). Jumlah kasus sembuh hingga saat ini mencapai 4.102.700. Kemudian total kematian akibat Covid-19 mencapai 143.766.

Jumlah penambahan kasus positif virus Covid-19 belakangan memang sudah tidak sebanyak ketika terjadi lonjakan pada Juli dan Agustus 2021. Kendati begitu, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan hingga membatasi mobilitas.

Terkait tren penurunan kasus Covid-19 di Indonesia, epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Citra Indriani menyebut jika sekitar 80 persen penduduk Indonesia kemungkinan sudah terinfeksi varian Delta. Hal tersebut karena terbentuknya imunitas kelompok secara alamiah dimana tubuh memiliki antibodi yang spesifik untuk strain virus tertentu.

“Infeksi covid lebih dari 50% adalah asimtomatis, mungkin 80% penduduk kita telah terinfeksi (varian) Delta. Namun, kalau sudah terinfeksi sedemikian banyak apakah sudah memiliki imunitas kelompok dan tidak ada ancaman gelombang ketiga? Sebagian besar infeksi natural membentuk antibodi yang spesifik untuk virus atau strain virus yang menginfeksi, tidak untuk strain yang lain. Sehingga imunitas alamiah yang terbentuk saat ini mungkin tidak bisa kita andalkan apabila kita kedatangan strain yang baru,” kata Citra, Sabtu (20/11), seperti mengutip dari laman resmi UGM.

Selain itu, melandainya kasus Covid-19 di Indonesia tak lepas dari percepatan program vaksinasi yang gencar dilakukan pemerintah. Seperti yang diketahui, program vaksinasi Covid-19 di Indonesia saat ini sudah mencapai 208 juta orang, yang mana 88 juta orang di antaranya sudah mendapat dosis vaksin lengkap.

"Saya kira vaksinasi mempunyai peran besar dalam meminimalkan tingkat keparahan karena meski sudah divaksin seseorang masih berpotensi terinfeksi. Jadi jika gelombang 3 terjadi, sistem kesehatan kita tak lagi menghadapi kasus berat yang jumlahnya ribuan kasus setiap harinya," paparnya.

Citra kemudian menuturkan supaya terus waspada meski angka kasus positif baru setiap hari rata-rata kurang dari 400 kasus. Menurutnya, kebijakan penerapan PPKM level 3 saat jelang Natal dan tahun baru menurutnya sudah tepat dilakukan. Namun, kenaikan angka mobilitas masyarakat sekarang ini menurutnya tidak bisa dihindari.

“Kenaikan mobilitas adalah sesuatu hal yang tidak bisa dihindari. Kalau kita lihat dari 1,5 tahun pandemi, gelombang kenaikan selalu diawali dengan peningkatan mobilitas, saat Natal-tahun baru dan pasca lebaran,” ujarnya.

Ia kemudian berpendapat bahwa pembatasan mobilitas dapat ditekan dengan adanya penerapan PPKM saat Natal dan Tahun Baru. Mengingat kasus-kasus yang sebelumnya diawali pada periode liburan seperti Nataru dan Lebaran.

“Meskipun kita batasi, mobilitas tetap terjadi, namun tidak semasif apabila tidak diberlakukan pembatasan. Pembatasan kerumunan dan mobilitas sudah sesuai dengan pembelajaran sebelumnya bahwa gelombang kita diawali pada periode Natal-Tahun Baru serta Lebaran, apalagi di negara-negara tetangga saat ini sedang mengalami gelombang delta varian AY.4.2,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pembatasan mobilitas dan penerapan protokol kesehatan dalam kegiatan masyarakat terus dilakukan hingga dunia bebas dari virus Covid-19 dan vaksinasi sudah mencapai target di seluruh negara.

“Kita masih akan menghadapi kasus Covid-19 selama angka vaksinasi dunia juga belum mencapai target. Sehingga yang diperlukan saat ini adalah mengubah mindset dan menerima bahwa kita akan hidup berdampingan dengan pembatasan mobilitas ini, naik level turun level PPKM harus dijalani, dan beradaptasi dengan situasi ini karena tidak ada kepastian untuk menjawab sampai kapan,” pungkasnya. [anf]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini