Beri Penghormatan pada Kura-Kura, Begini Keseruan Tradisi Bulusan Lebaran di Kudus

Kamis, 28 Mei 2020 07:45 Reporter : Shani Rasyid
Beri Penghormatan pada Kura-Kura, Begini Keseruan Tradisi Bulusan Lebaran di Kudus Tradisi Bulusan. ©Wikipedia.org

Merdeka.com - Saat perayaan Idul Fitri tiba, setiap orang pada bermaaf-maafan. Dalam tradisi Jawa ada istilah “sungkeman” yaitu meminta maaf pada orang tua atau para sesepuh sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Namun bicara soal penghormatan, masyarakat Kudus punya caranya sendiri. Mereka punya tradisi untuk memberi penghormatan pada kura-kura.

Oleh masyarakat setempat, tradisi itu diberi nama “Bulusan”. Tradisi Bulusan dilaksanakan oleh masyarakat di Kecamatan Jeluko, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, setiap tanggal 8 Syawal. Rangkaian acara tradisi ini antara lain kegiatan bersih sendang (sumber air), kirab, pembagian makanan, dan pertunjukan wayang. Inti dari semua itu adalah untuk memberi penghormatan kepada kura-kura yang tinggal pada sebuah sendang di sana.

1 dari 4 halaman

Asal Mula Tradisi Bulusan

tradisi bulusan

©Wikipedia.org

Bagi warga sekitar, tradisi Bulusan dianggap sebagai peringatan hari lahirnya bulus. Menurut cerita, bulus itu merupakan jelmaan dari dua orang manusia yang merupakan jelmaan dari dua orang manusia bernama Kumoro dan Komari. Mereka berdua adalah murid Kiai Dudo.

Dilansir dari ANTARA, tradisi Bulusan berawal pada malam 17 Ramadan ketika dilaksanakan peringatan Nuzulul Qur’an setelah Salat Tarawih. Pada pengajian tersebut hadir Sunan Muria. Namun saat acara berlangsung, dua orang murid Kiai Dudo itu malah tetap bekerja mengambil benih padi dan mengeluarkan suara gaduh seperti bulus. Lalu kedua orang itu berubah menjadi bulus.

2 dari 4 halaman

Penghormatan pada Kura-Kura

tradisi bulusan

©Budayajawa.id

Setelah Kumoro dan Komari berubah menjadi bulus, Sunan Muria menancapkan tongkatnya ke tanah. Lalu keluarlah sumber mata air sehingga tempat itu kemudian diberi nama Dukuh Sumber. Sedangkan tongkat yang ditancapkannya ke tanah itu berubah menjadi pohon yang bernama pohon tamba ati.

Setelah kejadian itu, Sunan Muria kemudian pergi meninggalkan tempat itu sambil berkata,”Besok anak cucu kalian akan menghormatimu setiap satu minggu setelah hari raya Bulan Syawal. Oleh karena itulah sampai saat ini tempat itu diselenggarakan tradisi Bulisan pada setiap tanggal 7 Syawal.

3 dari 4 halaman

Sumber Air Kotor

tradisi bulusan

©Budayajawa.id

Seiring waktu, kondisi sendang tempat keberadaan kedua bulus itu menjadi kotor. Oleh karena itulah, Bupati Kudus meminta agar tradisi tersebut harus didukung dengan kebersihan air sungai. Dia berharap tradisi tersebut menjadi agenda tahunan untuk memotivasi warga menjaga kebersihan sungai setempat. Apalagi tradisi tersebut telah menjadi daya tarik wisatawan lokal dari berbagai daerah.

“Saat saya kecil, masih terkenang dengan sumber air persis di sebelah makam Kiai Dudo yang merupakan cikal bakal munculnya tradisi bulusan. Waktu itu kondisi airnya cukup jernih,” ujar Bupati Kudus Mustofa dikutip dari ANTARA.

4 dari 4 halaman

Dikemas Berbeda

Sementara itu, Kepala Desa Hadipolo Wawan Setiawan mengatakan tradisi bulusan akan dikemas berbeda untuk menjadi daya tarik pengunjung. Rencananya, pertunjukkan yang ditampilkan antara lain barongsai, kolaborasi musik, tari saman Aceh, pertunjukkan wayang kulit, dan pertunjukkan bola api dan mandi api.

Selain menjadi daya tarik pengunjung, tradisi itu juga dijadikan ajang untuk mengenalkan potensi 12 desa yang ada di Kecamatan Jeluko. Puncak acara pada tradisi itu sendiri adalah pertunjukkan seni dari masing-masing sekolah di Kecamatan Jeluko.

[shr]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini