Bantu Tangani Pandemi, Rumah Peneliti Wanagama UGM Jadi Tempat Isolasi Pasien Corona

Sabtu, 31 Juli 2021 16:16 Reporter : Andriana Faliha
Bantu Tangani Pandemi, Rumah Peneliti Wanagama UGM Jadi Tempat Isolasi Pasien Corona wanagama.fkt.ugm.ac.id/ ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Universitas Gadjah Mada (UGM) menambah fasilitas shelter penanganan Covid-19. Rumah peneliti Wanagama UGM mulai digunakan menjadi shelter yang diperuntukkan bagi pasien konfirmasi bergejala ringan.

Pemanfaatan rumah peneliti Wanagama di Kecamatan Playen ini ditandai dengan penandatangan perjanjian kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dan Fakultas Kehutanan UGM, Jumat (30/7).

“Ini kedua kalinya Wanagama digunakan sebagai shelter. Sebelumnya untuk warga yang reaktif rapid test, saat ini yang ditempatkan adalah yang sudah betul-betul positif,” kata Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Budiadi, S.Hut., M.Agr.Sc.. dikutip dari keterangan resmI UGM.

Menurut Budiadi, isolasi mandiri di shelter rumah Wanagama UGM bisa lebih maksimal karena tidak berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan lingkungannya lebih sehat. Harapannya, pasien Covid-19 yang diisolasi di shelter ini bisa lebih cepat sembuh.

Budiadi menambahkan, UGM berusaha semaksimal mungkin untuk menyumbangkan sumber daya yang dimiliki bagi penanganan Covid-19.

“pemanfaatan rumah peneliti Wanagama sebagai shelter diharapkan dapat mendukung upaya pemerintah dalam menangani pasien dan menekan angka kematian,” katanya

Berdasarkan penuturannya, ada 51 tempat tidur di shelter Wanagama. Selain kamar isolasi, terdapat ruang khusus IGD yang dilengkapi dengan konsentrator oksigen serta ruangan khusus bagi tenaga kesehatan.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Sunaryanta menyebutkan bahwa keberadaan shelter terpadu ini menjadi penting, mengingat jumlah kasus di Kabupaten Gunungkidul masih cukup tinggi. Ia juga menjelaskan bahwa shelter Wanagama menjadi satu dari sejumlah tempat isolasi yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten.

"Kerja sama ini sangat penting bagi kami. Meski beberapa hari ini menurun, namun jumlah yang isoman masih cukup tinggi, sekitar 2.500 orang," kata dia.

Dengan berada di shelter terpadu, kondisi pasien yang melakukan isolasi mandiri dapat terpantau dan lebih cepat mendapat penanganan. Harapannya tidak ada lagi masyarakat yang meninggal ketika melakukan isolasi mandiri di rumah dan terlambat dibawa ke rumah sakit.

"Mudah-mudahan dengan cara-cara yang diambil oleh pemerintah dengan bekerja sama dengan para 'stakeholder' (pemangku kepentingan), di samping vaksinasi yang terus didorong, tidak lama lagi kasusnya mulai turun," katanya. [anf]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini