9 Kisah Perjuangan Dokter Moewardi, Pahlawan Kesehatan Pembela Kaum Miskin

Kamis, 2 April 2020 15:01 Reporter : Shani Rasyid
9 Kisah Perjuangan Dokter Moewardi, Pahlawan Kesehatan Pembela Kaum Miskin Dr. Moewardi. ©kemendikbud

Merdeka.com - Di tengah merebaknya virus corona,para dokter dan tenaga medis adalah para pahlawan. Mereka berada di garda terdepan untuk bertarung melawan ganasnya serangan Covid-19 walau nyawa jadi taruhannya.

Di zaman masa kemerdekaan, banyak para dokter yang mendapat gelar sebagai pahlawan nasional. Dokter Cipto Mangunkusumo misalnya, dia adalah sosok pahlawan nasional yang berani mengobati para warga miskin yang menderita penyakit Pes saat wabah merebak dan menelan ribuan jiwa.

Selain itu ada pula sosok dokter Moewardi. Sama seperti dokter Cipto Mangunkusumo, dokter Moewardi juga mendapat gelar sebagai pahlawan nasional.

Namanya bahkan digunakan sebagai salah satu rumah sakit di Kota Solo. Rumah sakit dr. Moewardi kini juga sedang berjuang dalam menangani wabah Covid-19.

Gelar pahlawan nasional yang melekat pada namanya membuktikan bahwa pengabdiannya sebagai dokter tidak main-main. Selain menjalankan profesi sebagai dokter THT, dokter Moewardi tak pernah lelah untuk membantu rakyat miskin.

Aksi kemanusian tersebut membuat dokter Moewardi mendapat julukan sebagai “dokter gembel”. Selain itu, dia juga turut berjuang dalam pertempuran melawan penjajah.

Namun pada peristiwa pemberontakan PKI di tahun 1948, dokter Moewardi hilang secara misterius. Berikut ini adalah 7 kisah perjuangan dr. Moewardi, seorang dokter pembela kaum miskin.

1 dari 9 halaman

Masa Pendidikan

dr moewardi

kemendikbud

Dr. Moewardi lahir di Pati, 30 Januari 1907. Ia adalah putra dari seorang guru.

Pada tahun 1921, ayahnya menyekolahkan Moewardi di Sekolah Dokter STOVIA. Dilansir dari laman Kemendikbud.go.id, selain menjalani hari-hari di bangku sekolah, Moewardi juga aktif di gerakan kepanduan dan organisasi lain.

Karena aktif berorganisasi, sekolahnya sedikit terbengkalai dan kelulusannya terus tertunda. Pada tahun 1933 Moewardi baru lulus sekolah setelah menempuh pendidikan selama 12 tahun.

2 dari 9 halaman

Aktif di Kepanduan

tuan rumah jambore daerah pramuka se jatim

2019 Merdeka.com

Selama bergerak di kepanduan, Moewardi dikenal sebagai seorang pandu yang aktif dan disiplin. Dalam menjalankan aktivitasnya sebagai pandu, Moewardi mempunyai prinsip pandu yang satu menjadi saudara buat pandu yang lainnya.

Hal inilah yang menjadi kesepakatan bahwa Pandu Kebangsaan, Pandu Sumatra, Indoneisch nationale Padvinders Organisatie melebur jadi satu organisasi kepanduan dengan nama Kepanduan Bangsa Indonesia. Oraganisasi tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Pramuka.

3 dari 9 halaman

Ikut Mengikrarkan Sumpah Pemuda

pemuda

2018 Merdeka.com/Imam Buhori

Selain aktif di gerakan kepanduan, semasa sekolah, Moewardi juga aktif berorganisasi di Jong Java. Bahkan karena kecintaannya pada dunia jurnalistik Ia sempat menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Jong Java pada tahun 1922.

Pada tahun 1925 Ia dipercaya menjabat sebagai ketua Jong Java Cabang Jakarta. Kemudian pada Kongres Pemuda Nasional di Jakarta pada 28 Oktober 1928 Moeswardi terpilih menjadi salah satu utusan Jong Java untuk ikut mengikrarkan Sumpah Pemuda.

4 dari 9 halaman

Mendapat Julukan "Dokter Gembel"

dr moewardi

kemendikbud

Setelah sebelumnya sempat menjadi asisten dokter selepas lulus dari STOVIA, Moewardi kemudian bekerja sebagai seorang dokter swasta di Jakarta selama lima tahun

Selama tinggal di Jakarta, Moewardi dikenal dekat dengan golongan bawah. Bahkan pada tahun 1930, namanya terkenal di seantero wilayah Tanah Abang sebagai Dokter Gembel. Hal itu karena Moewardi lebih senang bergaul dengan kalangan gembel dari pada kalangan golongan atas.

5 dari 9 halaman

Ikut Berperang Melawan Penjajah

kemerdekaan tak terawat

2015 merdeka.com/kresna

Pada 13 Agustus 1945 saat Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, Moewardi melepaskan pekerjaannya sebagai dokter THT. Ia mencurahkan 100 persen tenaganya untuk ikut dalam perjuangan kemerdekaan di dalam barisan pelopor.

Saat itu Moewardi menyediakan rumah pribadinya di Jalan Cik Di Tiro No. 7 Jakarta sebagai markas untuk mengadakan rapat mempersiapkan strategi kemerdekaan Indonesia. Bahkan kala itu, Moewardi rela menjual beberapa barang miliknya untuk perjuangan para pemuda.

6 dari 9 halaman

Membangunkan Soekarno-Hatta untuk Pergi ke Rengasdengklok

rengasdengklok

2018 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Dalam peristiwa mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, Moewardi mendapat tugas untuk membangunkan dua tokoh proklamator bersama Sayuti Melik dan para pemuda lainnya.

Bahkan pada saat pembacaan proklamasi akan dilakanakan, Moewardi mendesak sampai marah kepada Soekarno untuk segera menbacakan teks proklamasi tersebut.

Namun Soekarno menolak dan marah karena pada saat itu Bung Hatta belum datang. Untungnya, tepat pukul 10.00 Bung Hatta datang.

7 dari 9 halaman

Terlibat dalam Peristiwa Bandung Lautan Api

bandung lautan api

2020 Merdeka.com

Dilansir dari Kemendikbud.go.id, pada tahun 1946 dokter Moewardi ikut bergabung dalam Barisan Benteng. Saat itu Barisan Benteng banyak mengadakan inspeksi ke daerah Jawa Barat seperti wilayah Purwakarta, Leles, dan Bandung.

Kegiatan selama inspeksi di Jawa Barat itu membuat Moewardi ikut serta dalam peristiwa Bandung Lautan Api pada tanggal 23 Maret 1946. Ia bersama tokoh-tokoh Barisan Benteng lainnya seperti Toha, A.H Nasution, dan Suprayogi.

8 dari 9 halaman

Hilang Secara Misterius

Akhir hayat Moewardi bukan merupakan kisah yang indah untuk dikenang. Dalam buku Madiun 1948: PKI Bergerak dituliskan bahwa pada tanggal 13 September 1948, pada saat ia sedang sibuk mengoperasi seorang anak di Rumah Sakit Jebres, pintu kamarnya diketuk.

Setelah itu empat orang pemuda masuk dan bilang pada Moewardi kalau di luar sana ada seseorang yang terluka parah. Tanpa kecurigaan Moewardi keluar dari kamarnya dan mengikuti pemuda-pemuda tadi.

Di luar ternyata ia kemudian ditodong oleh para pemuda itu dan membawanya kabur dengan sebuah mobil open-kap berwarna hijau.

9 dari 9 halaman

Diabadikan sebagai Nama Rumah Sakit

rsud moewardi

rsud moewardi

Sejak peristiwa penculikan itu, nasib dokter Moewardi tidak pernah diketahui hingga kini. Namun sebagai tanda jasa terhadap negara, Moewardi mendapat gelar pahlawan nasional pada tahun 1964.

Bahkan pada tanggal 10 November 1988, namanya digunakan sebagai nama rumah sakit yang sebelumnya bernama Rumah Sakit Jebres, tempat ia pernah menjadi dokter di sana. Nama Moewardi pun digunakan sebagai nama rumah sakit hingga kini.

[shr]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini