3 Hikmah Berkurban dari Kisah Nabi Ibrahim, Berikan Makna Pengorbanan

Jumat, 31 Juli 2020 12:30 Reporter : Ayu Isti Prabandari
3 Hikmah Berkurban dari Kisah Nabi Ibrahim, Berikan Makna Pengorbanan Ilustrasi Gurun Sahara. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/takepicsforfun

Merdeka.com - Tepat pada hari ini, seluruh umat muslim di dunia tengah merayakan Hari Iduladha 1441 H. Hari Iduladha ini bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan oleh sebagian umat muslim yang telah mampu. Bukan hanya itu, pada ini seluruh masyarakat muslim juga melaksanakan ibadah penyembelihan hewan kurban yang telah menjadi kewajiban setiap tahunnya.

Ibadah berkurban diperintahkan oleh Allah melalui kisah Nabi Ibrahim. Di mana Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu berupa mimpi untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail, yang telah dia idam-idamkan sejak lama. Mimpi tersebut merupakan perintah dari Allah yang menguji keimanan dan ketaatan Nabi Ibrahim kepada-Nya. Dengan rela dan ikhlas, Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail pun mematuhi dan melaksanakan perintah tersebut.

Di balik kisah Nabi Ibrahim dan Ismail tersebut, menjadi dasar atau alasan kewajiban berkurban yang dilaksanakan setiap umat muslim hingga hari ini. Melalui kewajiban ibadah berkurban, umat muslim diperintahkan untuk bersedekah, saling menolong, memberi, dan mengasihi terhadap sesama. Dengan begitu, kehidupan manusia dapat berjalan dengan damai, rukun, dan sejahtera.

Bukan hanya itu, terdapat beberapa hikmah berkurban lain yang dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Dilansir dari situs Nu Online, berikut kami telah merangkum beberapa hikmah berkurban dari Kisah Nabi Ibrahim yang perlu diteladani dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1 dari 4 halaman

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail

ilustrasi malam hari

©Pixabay/rkarkowski

Sebelum mengetahui beberapa hikmah berkurban, sebelumnya bisa mengingat kembali Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail yang menjadi salah satu ujian mulia dari Allah. Dikisahkan, dahulu Nabi Ibrahim tengah mengidam-idamkan kelahiran seorang anak yang shalih dan taat kepada Allah. Namun sayangnya, hingga bertahun-tahun lamanya Nabi Ibrahim beserta istri belum juga dikaruniai berkah anak dari Allah. Ternyata istri dari Nabi Ibrahim menderita kemandulan.

Dengan ikhlas, istri Nabi Ibrahim memilihkan sosok perempuan yang bisa menjadi istri kedua Nabi Ibrahim, untuk memberi mereka seorang anak. Tidak lama, Nabi Ibrahim pun menikah dengan seorang perempuan bernama Siti Hajar. Setelah pernikahan itu, Nabi Ibrahim pun terus berdoa kepada Allah untuk berikan anak yang shalih dan taat.

Akhirnya, Allah pun mengabulkan doa yang terus menerus dipanjatkan Nabi Ibrahim, dengan kelahiran seorang anak yang cerdas dinamakan Ismail.

Nabi Ibrahim sangat menyayangi Ismail, dan bersama-sama dengan istri mendidik Ismail menjadi anak yang baik, cerdas, dan taat kepada Allah. Setelah Ismail tumbuh dan beranjak dewasa, Nabi Ibrahim mendapatkan mimpi dan merupakan petunjuk dari Allah. Dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail. Dan Nabi Ibrahim pun menyampaikan mimpi tersebut kepada sang anak.

Ternyata dengan ikhlas, Ismail meminta sang Ayah untuk mematuhi dan melaksanakan perintah Allah tersebut. Kemudian, keesokan harinya Nabi Ibrahim dan Ismail berjalan menuju tempat yang kosong. Lalu, Ismail membaringkan tubuhnya dengan posisi pelipis di atas tanah, dan Nabi Ibrahim siap menyembelih. Namun tidak lama, turun keajaiban dari Allah seekor kambing yang mejadi pengganti Ismail untuk disembelih. Kemudian Allah berfirman:

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”

2 dari 4 halaman

Mematuhi Perintah Allah

ilustrasi sholat dhuha

©2020 Merdeka.com

Dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail tersebut, mengandung hikmah berkurban yang patut untuk diteladani. Hikmah berkurban yang pertama tidak lain adalah seruan untuk selalu patuh dan melaksanakan perintah Allah SWT. Selain itu, Allah juga mengingatkan seluruh umat manusia bahwa segala hal yang diberikan oleh-Nya adalah sebuah titipan. Meskipun hal itu sangat berharga, namun sesungguhnya tujuan akhir hanyalah rasa cinta dan ketaatan kepada Allah.

Dari kisah Nabi Ibrahim, diketahui bahwa dia telah berhasil lolos dari cobaan berat yang sangat menguji keimanan dan ketaatan kepada Allah. Di mana, Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail ikhlas mematuhi dan menjalankan perintah Allah, meskipun itu tidak diinginkan. Ternyata dengan ketulusan hati, Allah selalu mempunyai rencana baik bagi setiap hambanya yang taat kepada-nya.

3 dari 4 halaman

Kemuliaan Manusia

ilustrasi sholat

©2020 Merdeka.com

Hikmah berkurban dari kisah Nabi Ibrahim selanjutnya berkaitan dengan kemuliaan manusia. Dalam hal ini, seluruh umat muslim dianjurkan untuk menghargai dan tidak meremehkan pengorbanan nyawa dan darah manusia. Di mana pada tradisi masyarakat zaman dahulu, pengorbanan nyawa seorang manusia sering dilakukan. Hal inilah yang harus dihindari, karena merupakan suatu tindakan yang haram dilakukan dalam ajaran Islam.

Selain itu, Allah juga menunjukkan kepada setiap hambanya untuk saling mengasihi satu dengan yang lain. Sebab, Allah menciptakan setiap makhluk hidup dalam kemuliaan. Karena itu, membunuh dan menyakiti satu manusia sama saja membunuh dan menyakiti manusia secara keseluruhan. Untuk itu, setiap manusia harus saling menghormati hak satu sama lain dan hidup berdampingan dengan rukun.

4 dari 4 halaman

Hakikat Pengorbanan

ilustrasi uang

©2014 Merdeka.com/shutterstock.com/Anggaradedy

Hikmah berkurban dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail yang terakhir yaitu tentang hakikat pengorbanan. Seperti diketahui, ibadah berkurban merupakan salah satu sikap menyedekahkan sebagian harta untuk dibagi kepada sesama.

Daging kurban yang disembelih hanya sebagai simbol dari makna pengorbanan dalam arti luas. Di mana setiap umat muslim sebaiknya dapat menyisihkan sebagian harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya untuk saling menolong dan membantu sesama.

[ayi]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini